Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Gus Nadhif: Hadapi Saja Bintang Film yang Pura-Pura Jadi Kiai dengan Gatoloco

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Sabtu, 15 April 2017
    A- A+
    Gus Nadhif saat mengisi pengajian umum di MWC NU Batealit, Jepara (14/04/2017)
    DutaIslam.Com - Fenomena televisi yang sekarang ini marak diwarnai oleh ustadz dadakan, yang tiba-tiba boleh berceramah karena berperan atau dipesan sebagai "berprofesi" kiai atau ustadz di layar kaca televisi mendapatkan kritik dan sorotan tajam dari KH Ahmad Nadhif Mujib (Gus Nadhif) saat mengisi acara pengajian umum Harlah NU ke-94 di Batealit, Jepara, Sabtu (14/04/2017) malam.

    Menurutnya, formasi NU yang sudah 422, yakni bermadzhab fiqih 4, tasawuf 2 dan tauhid 2, sudah menjamin kalau sanad ilmu para kiai NU sejak berdiri sangat jelas bersambung hingga Rasulullah SAW. Namun, kini hal itu hampir luntur melelkat di tubuh warga NU seiring menjamurnya bintang film, yang disebut Gus Nadhif entho-entho (pura-pura) jadi ustadz.

    Karena terkenal, jadi bintang film, ia jadi sorotan media. Contohnya ketika meninggal. "Mulai pemberangkatan jenazah sampai 40 hari, televisi tidak rampung-rampung memberitakan," ucap Kiai asal Pati itu kepada ribuan hadirin warga Majelis Wakil Cabang NU Batealit, panitia penyelenggara.

    Dibanding kiai-kiai yang memang ulama, bintang film nyamar ustadz tersebut sangat jauh kualitas keilmuanya. Namun karena sudah bintang, mereka mudah mengeluarkan fatwa tanpa ilmu. Karena adanya mereka, masyarakat akhirnya menganggap mereka sebagai panutan, "fa aftau bi ghoiri ilmin (memberi fatwa tanpa ilmu). Maka sesat menyesatkan," ujar Gus Nadhif.

    Ia memberikan contoh fatwa tanpa ilmu dari ustadz televisi itu. Menurut kiai televisi, kata Gus Nadhif, bayi yang baru lahir tidak perlu diadzani karena dia dianggap tidak bisa shalat, termasuk juga mayit yang tidak perlu diadzani (ketika akan dikebumikan) karena adzan hanya untuk yang akan shalat.

    "Setuju?" Tanya Gus Nadhif yang disambut sahutan "Tidaaak".

    "Dalile pundi (dalilnya mana)?"

    "Nganut kulo (saya)?"

    "Kulo dereng mati je. (saya belum mati loh)". Hadirin tertawa.

    Nah, untuk menjawab pertanyaan soal adzan, tidak perlu nyari dalil. Cukup dijawab ngece atau nggatoloco saja, selengekan.

    "Didengarkan dangdut saja sana, kan bayi dan mayit sama-sama tidak paham dangdutan. Selesai perkara (tanpa keringat debat)," ujar Gus Nadhif dalam bahasa Jawa.

    Para ustadz televisi yang ngawur dalam ceramahnya itu, imbuhnya, tidak pernah mondok. "Umpama mondok, paling pondok siluman atau pondok proposal," tandasya disambut tawa hadirin. [dutaislam.com/ab]
                         
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: