Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Geretan dengan Istighatsah NU, Kenapa Tidak Ada Dramaturgi Seperti Aksi di Jakarta

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Senin, 10 April 2017
    A- A+
    Istigosah NU, tertib, nyaman dan membuat merinding lawan!
    Oleh Al-Zastrouw

    DutaIslam.Com - Saya kok lama-lama geregetan sama NU, masak bikin event sebesar itu, dihadiri massa ratusan ribu orang kok ya adem-adem saja, tanpa ada kontroversi, perdebatan atau hiruk pikuk yang memenuhi media. Kok ya tidak cari tempat di jalan raya gitu supaya bisa memancing kegaduhan yang heroik.

    Mbok ya sebelum menggelar acara sebesar itu tokoh-tokoh NU woro-woro dulu di depan media massa atau bikin status atau meme yang garang dan heroik kemudian disebar di medsos dengan bumbu-bumbu agitasi dan sedikit fitnah agar masyarakat heboh.

    Kemudian aparat keamanan sibuk mempersiapkan diri untuk antisipasi keadaan dengan kordinasi serius siang dan malam hingga perlu mengeluarkan anggaran pengamanan miliaran rupiah yang mestinya bisa untuk kebutuhan yang lebih maslahah bagi rakyat. Lebih hebat lagi kalau pelayanan publik bisa terganggu karena sibuk negosiasi dan persiapan pengamanan aksi.

    Atau para tokoh-tokoh NU itu bikin agitasi yang provokatif agar semua orang resah, takut dan khawatir. Dengan demikian maka para tokoh-tokoh ini akan diajak negosiasi dan kompromi oleh berbagai kelompok kepentingan. Bisa tidur di hotel bintang lima dengan para kolega.

    Setelah itu mereka akan jadi tokoh hebat di depan publik, jadi pahlawan yang dianggap bisa mengendalikan massa, karena mampu memberikan jaminan dengan menyatakan aksi super duper damai, kemudian jadi tokoh figur hebat di media massa.

    Saya geregetan pada NU, kenapa mereka tidak menggunakan momentum sedahsyat itu untuk mencaci maki orang-orang yang selama ini menghina dan mencibir NU, melecehkan kiai NU dan memfitnah orang-orang yang jadi panutan massa NU.

    Mengapa para tokoh NU itu tidak menghasut umatnya agar membenci orang-orang yang tidak sepaham dengan NU atau menghujat pemerintah yang dianggap merugikan umat Islam dengan mengutip ayat-ayat suci. Padahal beliau-beliau kan paham ayat dan kitab suci, kenapa tidak digunakan biar terkesan heroik dan islamik?

    Kenapa elit-elite NU itu tidak mau mendramatisir dan mengeksploitir semangat warga NU yang militan itu dengan membuat cerita-cerita tentang perjuangan mereka mendatangi aacara, seperti kisah seorang janda yang menjual ayamnya yang mau ngendog untuk sangu berangkat ke istighatsah. Atau, cerita tentang seorang bocah yang harus dipaksa berpisah dengan radio kesayangannya karena harus digadaikan untuk ongkos berangkat istighosah.

    Atau cerita dramatik lain yang mengharu biru dan bisa menyedot emosi kemudian diupload di medsos. Kemudian membuat mistifikasi angka-angka keramat seperti 007, 999 atau 909 dan sebagainya.

    Saya yakin banyak kader NU yang punya kemampuan mendramatisir cerita-cerita seperti itu. Tapi kenapa itu tidak dilakukan, padahal cerita-cerita seperti itu sangat efektif mempengaruhi opini publik di medsos, bahkan bisa jadi bahan komodoti.

    Aku makin gregetan ketika di tempat itu tidak terdengar pekik takbir yang bisa membakar semangat perlawanan dan kibaran bendera asing yang bisa mengancam kedaulatan NKRI. Malah di sana umat diajak menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan gegap gempita dan semangat yang menyala. Wah jiiiaaannn malah bikin hati makin cinta Indonesia.

    Kini aku jadi berpikir, siapa sebenarnya yang benar-benar ikhlas membela NKRI, menjaga keberagaman dan merajut perbedaan. Siapa yang benar-benar menerapkan dan mengamalkan ajaran dan ayat-ayat suci secara tepat dan istiqamah di negeri ini.

    Mereka yang tidak banyak berteriak sambil mengutip ayat dan mengobral simbol agama tapi kelakuannya mencerminkan akhlak agama? Atau mereka yang teriak-teriak pakai ayat dan bertaburan simbol agama tapi ucapan dan kelakuannya jauh dari akhlak agama.

    Meski gregetan tapi hati merasa tenteram karena jangkar dan benteng NKRI itu ternyata masih tegak dan kokoh berdiri meski terus digerogoti. Semoga keikhlasan seperti ini tidak dimanfaatkan para pecundang dan petualang. [dutaislam.com/ab]

    Rubrik:

    esai nu
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: