Sabtu, 18 Maret 2017

Dua Pakan Sebelum Wafat, KH Hasyim Muzadi Pamit ke Makam (alm) Mbah Anwar Noer


DutaIslam.Com - Saya teringat saat dulu bersama Pak Taufiqurrahman Saleh SH sowan Kiai Hasyim ke Ponpes Al-Hikam. Beliau berkata, "aku kalau dulu nggak manut patuh sama kakekmu ya ngga jadi seperti ini, paling pol ya jadi kayak Pak Taufik  ini (anggota DPR RI )".

Lalu beliau bercerita keajaiban hidupnya bersama kakek saya (alm) Mbah Kiai Anwar Noer, Bululawang, Malang. Dulu  saat tahun 72, kata Pak Hasyim, ia dipanggil Mbah Kiai Anwar dan disuruh mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kab Malang.

Ia sempat menolak karena yakin dapat jatah nomor buncit yang hampir pasti tidak akan jadi, tapi Mbah Anwar mendesak dan betul, memang ternyata Pak Hasyim tidak dapat kuota anggota DPRD yang saat itu memakai sistem urutan.

Namun saat hampir pelantikan, keajaiban pun terjadi. Atas takdir Allah, anggota pemegang nomor jadi diatasnya, meninggal dunia. Maka Pak Hasyim pun katut sebagai anggota DPRD secara mendadak dan otomatis.

Seiring perjalanan waktu, setelah beliau duduk sebagai anggota DPRD tingkat 1 Jatim, tiba-tiba dipanggil Mbah Anwar dan diminta mundur sebagai anggota DPRD untuk konsentrasi dakwah membina santri.

Beliau sempat bimbang, dan setelah berpikir keras akhirnya ia tunduk  patuh pada Mbah Anwar untuk mundur dari anggota DPRD dan berkata, "waduh, ndadak melarat aku, Rur".

Beliau pun menjalani fase hidup baru hanya konsentrasi sebagai kiai dan dai,  menjalani hidup tirakat sangat sederhana. Bahkan kata beliau sampai taraf kekurangan, dan anehnya, kalau dia sedang tidak punya beras, Mbah Anwar selalu datang membawakan beras dan lauk.

Alhamdulillah, fase tirakat itu beliau lampaui dengan baik dan Allah memberinya anugerah dan kemampuan luar biasa memimpin umat dan Jam'iyah NU sampai menjadi Ketua Umum PBNU.

Pernah saat munas NU di Pondok Gede, Jakarta, saya diajak naik mobilnya dan ditunjukkan amplop coklat sangat tebal berisi dolar US sambil berkata, "Rur, ini berkah niru kakekmu Mbah Anwar, yang meladeni umat tanpa pamrih sehingga kalau beliau ada perlu, semua orang tanpa diminta sudah datang sendiri membantu".

Begitu dekat hubungan beliau dengan Mbah Anwar, seringkali diceritakan di panggung saat pidato. Dan ketika Haul Mbah Anwar, beliau selalu datang, hingga dua minggu sebelum meninggal dalam kondisi sakit pun, beliau masih sempat minta diantar istrinya untuk datang ke Bululawang, khusus sowan pamit ke makam Mbah Anwar.

Semoga beliau telah bersama Mbah Anwar di Surga-Nya. Amien. [dutaislam.com/ ab]

Source: Fahrur Rozi

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini