Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Bel Penting dari Banser Kala Kebhinnekaaan Diambang Darurat

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 08 Maret 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - Kejadian di Gedangan Sidoarjo, sebagaimana yang banyak diberitakan sebagai bentuk pembubaran pengajian tidak sepenuhnya benar, karena sebetulnya anggota Banser tersebut melakukan tabayyun dengan panitia pengajian mengenai pemateri yang sering meresahkan dan menyerang kelompok lain.

    Ternyata dari berbagai sumber justru salah seorang anggota Banser justru yang menjadi korban pemukulan oleh jamaah pengajian saat beberapa anggota Banser berusaha melakukan tabayyun mengenai pemateri dalam pengajian. Meskipun akhirnya dilakukan mediasi dan penyelesaian dari aksi pemukulan secara kekeluargaan, ternyata Banser menjadi pihak yang dituding melakukan kekerasan.

    Banser merupakan kelompok santri yang diorganisir oleh para kiai dalam aksi-aksi fisik, yang dimulai saat perang kemerdekaan dan kemudian dilanjutkan saat konflik fisik melawan komunis. Saat perang kemerdekaan, para pemuda dimobilisasi dari pesantren dan pedesaan untuk mengangkat senjata secara fisik melawan pasukan Belanda yang ingin kembali menduduki Indonesia.

    Pasca perang kemerdekaan, panasnya suhu politik menjadikan PKI dan NU berhadap-hadapan tidak hanya dalam politik tetapi sampai pada konflik fisik. Diawali dari terbunuhnya banyak tokoh NU dalam gerakan komunis di pemberontakan Madiun 1948 menjadi api dalam sekam konflik NU dan PKI. 

    Terbunuhnya Kiai Hamid Dimyati Termas di daerah Pracimantoro Wonogiri oleh gerakan komunis, serta terbunuhnya banyak kiai di daerah Madiun dan Ponorogo menjadikan memori yang sangat buruk dalam relasi NU dan PKI.

    Politik Nasakom Soekarno tidak lagi mampu menjaga dinamika hubungan panas NU dan PKI saat terjadi peristiwa Gestapu 1965. Angkatan Darat sebagai pihak yang paling dirugikan dalam peristiwa itu, karena beberapa orang jenderalnya terbunuh dalam konflik bersenjata menjadi pemicu bergeraknya kembali konflik terpendam NU dan PKI. 

    Banser sebagai salah satu bagian dari NU melakukan aksi-aksi fisik dan tentu saja stimulasi dari pihak lain yang selalu dihembuskan, dengan logika yang dibangung seandainya Banser tidak segera bergerak maka akan ada lagi pembunuhan para Kiai NU sebagaimana yang terjadi di tahun 1948.

    Inilah yang dalam sejarah kita ingat sebagai penyelesaian fisik oleh Banser dalam peristiwa Gestapu, meskipun pada tahap selanjutnya Banser dan NU kembali ditinggalkan oleh Orde Baru dan kembali dipinggirkan.

    Pengalaman panjang Banser dalam aksi fisik ini memendam energi yang luar biasa, karena ratusan ribu Banser merupakan sukarelawan yang memang menyiapkan diri sebagai pasukan cadangan yang selalu siap dalam aksi-aksi fisik dan gerakan fisik. Kondisi ini tentu saja sangat berpotensi terjadi tindakan-tindakan pengorganisasian kekerasan fisik sebagaimana yang terjadi pada gerakan Hizbullah di Lebanon.   

    Melihat potensi itulah, tokoh-tokoh NU sebagaimana yang dilakukan Gus Dur berusaha memanfaatkan energi besar yang terpendam untuk kemudian mengarahkan Banser pada aksi-aksi fisik menjaga dinamika sosial berbangsa dan bernegara. Banser diarahkan untuk ikut bertanggung jawab dalam upaya-upaya harmonisasi kerukunan beragama. Bahakan salah seorang anggota Banser pernah menjadi korban bom gereja saat mengamankan ibadah di gereja.

    Pesan moral untuk menjaga kebhinnekaan dan dinamika sosial dari para tokoh NU dan para kiai menjadikan Banser selalu konsisten dalam gerakan. Patut disesalkan ternyata banyak organ-organ kecil yang memancing-mancing Banser untuk ikut serta dalam aksi-aksi mereka untuk memperjuangkan misi-misi keagamaan yang sempit, sehingga Banser diolok-olok sebagai kelompok yang lebih membela non muslim dibandingkan sesama muslim. 

    Begitu juga setiap hari Banser selalu dipancing-pancing dengan cara para kiai NU dihinakan dalam ceramah-ceramah keagamaan oleh kelompok-kelompok ekstrim yang memang tidak mengingikan ke Indonesiaan terus berjalan.

    Inilah yang menjadikan Banser seringkali melakukan aksi, dengan pengalaman mengangkat senjata baik dalam perang kemerdekaan maupun melawan kelompok komunis, apa beratnya membela para Kyai dan menjaga Indonesia dengan menantang kelompok-kelompok ektrim kecil yang memang tidak pernah merasa puas dengan eksistensi bangsa dan negara Indonesia.

    Diamnya negara yang seakan-akan kalah dengan kelompok-kelompok ekstrim kecil ini, seperti misalnya pada kelompok HTI yang sudah secara jelas-jelas memperjuangkan khilafah di Indonesia, sangat berpotensi menarik Banser untuk bergerak secara mandiri. Kalau hal ini benar terjadi maka kita tidak dapat membayangkan lagi bagaimana masa depan republik ini.


    Apa yang dilakukan oleh Banser belakangan ini, menjadi bel penting bagi Indonesia untuk segera menyelesaikan masalah perilaku kelompok ekstrim yang selalu menggelitik Banser. Energi besar Banser dalam konflik fisik jangan menjadikan Banser selalu ditarik untuk melakukan penyelesaian in-konstitusional, karena Banser sudah banyak berkorban untuk menjadi paku bumi keindonesiaan dan kebhinnekaan.

    Kita tunggu upaya nyata aparat keamanan dan negera dalam bersikap, terutama dalam menghadapi kelompok-kelompok yang sudah secara nyata tidak sepakat dengan Indonesia, dengan misalnya menggugat Ke Islaman Indonesia, dengan menginginkan Ke Islaman ala mereka. 

    Begitu juga Negara harus segera menerbitkan undang-undang yang dapat memperlihatkan sikap yang jelas kepada kelompok-kelompok yang tidak lagi selaras dengan Negara Indonesia misalnya dalam provokasi dan kampanye khilafah di Indonesia. [dutaislam.com/ ab]


    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: