Jumat, 03 Februari 2017

Sehari Jumlah Nahdliyyin Bertambah 7 Juta: Ini Mendadak NU Politis Untuk Fatwa Politis

Ana Mendadak NU akhi!

DutaIslam.Com - Fenomena #MendadakNU atau peristiwa kaget ujug-ujug NU dapat dukungan dari kelompok yang selama ini berseberangan 180 derajat, adalah paradoks. Satu sisi menggembirakan, karena dalam sehari jumlah warga NU bertambah jadi 7 juta (menurut survei ala #MendadakNU), namun di sisi lain, mereka ini sangat membenci amaliyah dan ubudiyah yang dilestarikan oleh nahdliyyin.

Survei mendadak NU oleh Sunanto Asmawijaya
Jadi, motif mereka ini sebetulnya apa? Jawaban mendadaknya, -dari Netizen NU,- mereka ini senang jika warga NU ikut melebur melawan musuh yang selama ini ingin dipenjarakan. Siapa lagi kalau bukan Ahok. Tokoh NU yang dihina oleh Ahok, dimanfaatkan kelompok #MendadakNU sebagai alat memancing kemarahan warga NU. Akhirnya, NU pun dipropagandakan ada di barisan mereka.

Menurut Netizen NU di Jakarta, untuk membuktikan mereka ini hanya sekadar "numpang tampar tangan NU" sangat mudah. Coba saja Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa kalau amalan nahdliyyin seperti maulidan, manaqiban, ziarah kubur, tahlilan dan lainnya bukan bid'ah tapi sunnah.

"Kalau mereka ingkar, berarti NU mereka adalah NU politis," ujar Netizen NU DKI Jakarta, Reinaldy, Jumat (03/02/2017) dini hari. NU politis artinya bukan nahdliyyin beneran, tapi berlagak mendukung namun bisa saja di belakang muka menikam.

Menurut Cak Fahmi, Netizen NU Jawa Timur, Fenomena #MendadakNU itu sebenarnya sudah terjadi sejak almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia (RI) keempat.

"Saya pernah lihat di kediaman beliau di Warung Silah, banyak orang datang mengantri untuk bertemu beliau, dan hampir semuanya mengaku sebagai warga nahdliyyin, termasuk juga yang keturunan Tionghoa," ujar Cak Fahmi kepada Dutaislam.com, Jumat (03/02/2017) dini hari.

Menurutnya, tidak ada satupun dari mereka yang antri di kediaman Gus Dur kala itu yang terang-terangan mengaku sebagai warga Muhammadiyah, anggota Persis, apalagi PK (Partai Keadilan), "bahkan Presiden PK waktu itu itu (Dr. Nurmahmudi Ismail) ketika dipilih Gus Dur sebagai Menhutbun (Menteri Kehutanan dan Perkebunan) pun mengaku sebagai warga nahdliyyin asal Kediri," imbuh Fahmi via saluran WhatsApp.

Orang-orang Islam yang mendadak mengaku NU tapi punya riwayat suka menghardik amaliyah dan bahkan menghina kiai NU, lanjutnya, perlu dibaca sebagai gerakan politis untuk kepentingan sesaat mengingat saat ini ada fatwa soal Ahok yang rentan disalahpahami, "jadi, bukan baru kali ini fenomena mendadak NU itu terjadi," tutur Cak Fahmi. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini