Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Dzikir Bil Gedhek Boleh Atau Tidak? Mbah Siraj Payaman Beri Jawabannya Sambil Ngopi

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Sabtu, 11 Februari 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - KH. Anwari Siroj merupakan seorang yang soleh min ahlil karomah wal ma'unah yang tinggal di Payaman, Magelang, Jawa Tengah.

    Pada suatu saat , sejumlah santri tengah mengadakan bahtsul masail (musyawaroh), adat santri dalam menuntut ilmu disamping juga ngapsahi, sorogan, setoran, lalaran dan ro'an.

    Saat itu tengah hangat pembahasan mengenai Kalimat tauhid "La ilaha illa Allah ". Yang jadi pertanyaan, kenapa saat membaca/berdzikir kalimat tersebut kok juga pakai menggeleng-nggelengkan kepala? Istilahnya dzikir bil gedek.

    Para santri tersebut sedang mencari-cari ta'bir (landasan hukum dari kitab) melalui forum bahtsul masail diniyyah (penelitian atau pembahasan masalah-masalah keagamaan), sesuai dengan sumber data yang otentik mengikuti pandangan pendapat Imam Imam Madzhab

    Dengan tekun para santri itu mencari kitab yang bisa menjelaskan dasar membaca kalimat tauhid sambil gedek. Namun tidak menemukan hasil. Tak berapa lama, tiba-tiba Mbah Siroj menghampiri para santri dan duduk di antara mereka, sejenak. Beliau minta utk dibuatkan kopi.

    Siapa tak segan terhadap guru nya, apalagi beliau ini sudah dikenal sebagai ulama besar. Para santri pun segera menghentikan bahtsul masail, sementara beberapa santri bergegas membuatkan kopi dan segera menyuguhkannya. Mbah Siroj menikmati kopi dengan cara menyeruput.

    “Nikmat e e e," kata Mbah Siraj sambil menggeleng-nggelengkan kepala. Hal itu dilakukan beliau hingga tiga kali, kemudian pergi tanpa menghiraukan santri yang sedang mencari landasan membaca kalimat tauhid, menggeleng-nggelengkan kepala.

    Setelah Mbah Siroj pergi, para santri gamang, melanjutkan pembahasan atau tidak. Namun seorang santri langsung menegaskan taslim, istilah yang biasa digunakan santri ketika terjadi kesepakatan atas jawaban, tidak perlu diteruskan pembahasannya.


    Keputusan taslim ini karena Mbah Siroj dianggap sudah mengurai persoalan persoalan para santri dengan cara yang sederhana, menikmati kopi. Mbah Siraj, tanpa bicara, sebetulnya sudah menerangkan bahwa dzikir bil gedek ketika mengucapkan La Ilaha Illa Allah dengan ikhlas dan nikmat, diperbolehkan.

    Nikmatnya orang berdzikir diibaratkan Mbah Siraj laksana nikmat orang ngopi. Tak ada aturan bagi penikmat kopi mau geleng-geleng kepala atau tidak. Waktu pulang usai ngopi di tengah santri sedang bahtsul masail, Mbah Siraj sudah geleng-geleng kepala. Itu isyarat. Para santri yang cerdas dan sensitif isyarah mengetahui kalau Mbah Siraj yang gedhek-gedhek itu sedang memeberikan jawaban, "boleh".

    Begitulah salah satu cara para guru yang soleh memberi penjelasan, menerjemahkan kitab kuning ke dalam bahasa yang mudah dipahami. Lisanul haal afsohu min lisanil maqol/ tingkah seorang soleh itu dalil yang sorih, lebih soheh dari perkataan karena tingkah atau tindakan itu sudah terealisiir.

    Menjelaskan dzikir bil gedhek, tidak perlu koar-koar bilang ini syirik, bid'ah, khurafat dan lainnya. Cukup dengan ngopi. Enak, mudah dipahami dan diserapi. Itu jika Anda bukan akhi wahabi yang tidak percaya wali. Lha Mbah Siraj Payaman yang waliyullah saja dzikirnya geleng-geleng, berani tuduh syirik dan bid'ah, santri kena kualat. [dutaislam.com/ ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: