Selasa, 17 Januari 2017

Membaca Keprihatinan Gus Mus Tentang Salah Kaprah "Kembali ke Al-Qur'an"


Oleh Muhammad Jauhari Sofi

DutaIslam.Com - Dalam sebuah wawancara khusus oleh Koran Tempo dengan Kiai Mustofa Bisri pada Kamis, 5 Januari 2017, Gus Mus, sebagaimana beliau akrap dipanggil, menuturkan,"Al-Quran itu tidak bisa diterjemahkan, apalagi diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yang kosa katanya masih miskin."

Beliau menjelaskan bahwa bangunan kata antara Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia tidaklah sama. Al-Qur’an yang diturunkan Alloh SWT di Arab, ungkap Gus Mus, mengandung banyak nuansa sastrawi. Maka, jika Al-Quran diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, nuansa itu akan hilang. (Baca: Terjemahan Al-Qur'an Bukanlah Al-Qur'an)

Penuturan di atas perlu dibaca sebagai bentuk keprihatinan Sang Kiai atas fenomena semakin maraknya perselisihan yang berujung pada pertengkaran antara sesama umat Islam sebagai akibat dari perbedaan memaknai dan memahami ayat-ayat Al-Quran, terutama yang terjadi akhir-akhir ini. Sebagaimana kita ketahui, masih ada sebagian orang Islam yang menempatkan produk terjemahan Al-Quran sama persis atau, minimal, sejajar dengan Al-Quran dalam bahasa aslinya, Arab.

Saya percaya bahwa Kiai, dalam hal ini, tidak bermaksud melarang penerjemahan Al-Quran dalam Bahasa Indonesia, karena, bagaimanapun juga, ini adalah salah satu bentuk ikhtiyar untuk menyampaikan pesan-pesan Al-Quran kepada masyarakat Indonesia yang ‘ajam, bukan Arab. Pun, penerjemahan al-Quran di Indonesia telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang mulai meyakini makna terjemahan sebagai satu-satunya makna yang harus digunakan, dan menutup kemungkinan munculnya makna lain. Ini bukan berarti kita tidak mempercayai kemampuan tim penerjemah, tetapi lebih kepada masalah atau faktor alamiah yang melekat pada bahasa yang berbeda.

Bahasa Arab adalah bahasa yang kaya. Setiap kata dalam Bahasa Arab memiliki banyak nuansa makna. Maka, seringkali satu kata tertentu dalam Bahasa Arab memerlukan penjelasan panjang-lebar dalam bahasa sasaran (target language), Indonesia.

Penjelasan yang bertele-tele ini tentu saja akan mengurangi kesan bahasa Al-Quran yang meski sekilas nampak sederhana, namun sebenarnya sangat mendalam. Apalagi saat kita dihadapkan dengan bahasa-bahasa kiasan, maka situasi ini akan menambah kerumitan dalam memahami kedalaman makna al-Quran.

Al-Quran akan selamanya tertulis dalam Bahasa Arab, sejak awal diwahyukan hingga akhir zaman. Demikian ini adalah jaminan langsung dari Allah SWT. Oleh karena itu, usaha alih-bahasa dari bahasa asal (Arab) ke bahasa apapun tidak akan menjadikan produk alih-bahasa tersebut setara dengan Al-Quran dalam bahasa aslinya.

Alih bahasa tetaplah alih bahasa atau terjemahan, bukan Al-Quran. Dalam hal ini, penerjemahan mesti dipahami sebagai upaya memperkirakan makna yang tepat dari bahasa asal ke dalam bahasa sasaran. Penerjemahan tetaplah sebatas upaya mengira-ngira makna saja. Karena perbedaan bahasa, suatu kata dan gagasan tidak memungkinkan terwakili secara sempurna.

Memahami pesan-pesan Al-Quran melalui terjemahan tidaklah salah, tidak juga dilarang. Hanya saja, pemahaman tersebut tidak boleh diklaim sebagai satu-satunya kebenaran, menutup kebenaran pemahaman versi yang lain. Seseorang mesti tahu diri bahwa ia sebatas membaca bahan terjemahan, bukan al-Quran versi bahasa aslinya yang memiliki kedalaman makna yang tinggi di setiap sudut kata.


Dr. Abdullah Darraz, seorang penggagas tafsir tematik dari Mesir, mengatakan,"Apabila Anda membaca Al-Qur’an, maknanya akan jelas di hadapan Anda. Tetapi, apabila Anda membacanya sekali lagi, Anda akan menemukan pula makna-makna lain yang berbeda dengan makna sebelumnya. Demikian seterusnya, sampai-sampai Anda dapat menemukan kata atau kalimat yang mempunyai arti bermacam-macam, yang semuanya benar atau mungkin benar. Ayat-ayat Al-Quran bagaikan intan: setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lainnya. Dan tidak mustahil, jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak ketimbang yang Anda lihat."

Memahami Al-Quran tidaklah sesederhana membaca terjemahan. Ia memerlukan banyak perangkat ilmu bahasa dan kebersihan hati. Oleh karenanya, Gus Mus juga berpesan, semangat kembali ke Al-Qur’an mestinya dipahami sebagai semangat mendalami pemahaman terhadap Al-Quran, bukan semangat kembali ke Al-Qur’an terjemahan Kementerian Agama semata. Allahu A’lam. [dutaislam.com/ ab]

Muhammad Jauhari Sofi, santri di Pesantren Fathul Huda, Karanggawang

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini