Selasa, 24 Januari 2017

Kehilangan Baju Besi, Khalifah Ali Mengadu ke Pengadilan Tanpa Kawalan Pendukung

Baju Besi Sayyidina Ali
DutaIslam.Com - Sebuah baju besi milik Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra terjatuh dari untanya dan dipungut oleh seorang Yahudi. Ali yang tidak lupa ciri-ciri baju besinya melihat baju besi itu ada di tangan Yahudi itu dan memintanya kembali. 

Sayangnya, orang Yahudi tersebut tidak mau mengembalikan baju besi itu dan ia tetap ngotot mengaku bahwa baju itu miliknya. Dicapailah kesepakatan di antara mereka agar diselesaikan ke pengadilan. Di sana, akan diputuskan siapa yang berhak atas kepemilikan baju besi tersebut. 

Bagi orang Yahudi itu, pengadilan adalah sebuah pengharapan. Ia tahu, pada zaman itu, keadilan adalah warna utama agama Islam, ruh dan nafas besar bagi para pemeluknya. Syuraih adalah hakim muslim terkenal yang akan sengketa perkara tersebut.

Ali yang pada saat itu menjadi Amirul Mukminin (kalau sekarang mungkin Presiden atau Raja), datang ke persidangan sebagai rakyat biasa. Tidak ada pengawalan dan tidak membawa pendukung. Ia memang Amirul Mukminin, tapi pantang baginya mempengaruhi hakim dalam rangka memenangkan perkaranya.

Setelah mendengar argumen kedua belah pihak yang bertikai, hakim Syuraih berkata kepada Ali: Untuk menguatkan tuntutan anda, bawalah dua orang saksi yang benar-benar bisa memberi keterangan meyakinkan bahwa baju besi ini memang milik Anda.

Ali pun akhirnya mengajukan pembantunya bernama Qundur dan puteranya, Sayyidina Hasan. Hakim Syuraih berkata: Saya bisa menerima kesaksian Qundur, tetapi tidak bisa menerima kesaksian Hasan karena Hasan adalah putra Anda. Tidak diterima kesaksian seorang putera untuk perkara ayahnya.

Ali lalu berkata: Tidakkah engkau mendengar bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda Hasan dan Husein adalah penghulu/ pemimpin di Surga?  (Maksud pertanyaan ini kira-kira adalah, apakah engkau meragukan kejujuran mereka?) 

Dengan suara yang lembut tapi penuh wibawa, Syuraih menjawab: Ya, memang benar, tapi saya tetap tidak bisa menerima kesaksiannya. Dan Syuraih tetap dengan pendiriannya. 

Kalah saksi, Syuraih memutuskan bahwa baju besi itu adalah milik si Yahudi. Ia memenangkan orang Yahudi itu atas Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra sebab bukti-bukti menunjukkan demikian.
Ali menerima keputusan itu dengan lapang hati dan ia menyadari bahwa ia tidak dapat menghadirkan saksi untuk memperkuat tuntutannya itu.

Melihat jalannya persidangan dan adegan yang mengharukan itu, begitu lapang hatinya Ali menerima keputusan hakim Syuraih, padahal ia tahu bahwa baju besi itu memang milik Ali. Orang Yahudi itu pun lalu berkata kepada majelis persidangan: Sesungguhnya baju besi ini benar-benar milik Amirul Mukminin. Aku memungutnya sewaktu baju itu terjatuh dari untanya.

Ali sempat terkejut. Tapi orang Yahudi itu meneruskan ucapannya dengan membaca dua kalimat syahadat. Dari peristiwa yang baru saja dialaminya itulah, si Yahudi tersesbut malah mendapatkan hidayah dari Allah Swt. Dengan kesadarannya, ia masuk Islam. Ia benar-benar menemukan pusaran pengharapan.

Tatkala Ali mendengar orang Yahudi itu membaca syahadat, dengan segera pula ia menyatakan: Kalau begitu baju besi ini kuhadiahkan kepadamu. Selain itu, Ali juga memberi hadiah kepada pria Yahudi itu uang sebanyak 900 dirham.

Alangkah indahnya Islam. Alangkah indahnya orang-orang yang memeluknya, menjalankannya dengan baik. Seperti Ali yang tunduk pada hukum. Atau Syuraih yang tegas untuk dan demi hukum. Alangkah bahagianya pula orang Yahudi itu. Melihat keindahan Islam, keadilan Islam, ia melihat pula orang-orang mulia yang menjalankan Islam dengan begitu baik. 

Dari hanya sekedar ingin mendapatkan baju besi, orang Yahudi itu menemukan sesuatu yang justru lebih indah dalam Islam pada sosok Ali, Syuraih dan pengadilan yang bersih serta berwibawa. Ia telah menemukan kekayaan batin yang lebih berharga dan bermakna dari sekedar baju besi, yakni Iman.

Ini mungkin hanya kisah selembar baju besi. Tetapi sesungguhnya ini adalah kisah tentang pengharapan, tentang orang-orang yang dada lapang, selapang perasaan mengharapkan penyelesaian hidupnya di tangan orang-orang muslim yang bisa dipercaya.

Menjadi seorang muslim harus bisa menjadi pusaran pengharapan, bagi diri sendiri, orang lain, lingkungan dan alam semesta. Bukan menjadi pusaran kecemasan dan ketakutan.

Rasulullah Saw bersabda: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dalam hadist lain beliau juga bersabda: Orang muslim ialah orang, yang darinya orang lain selamat dari lisan dan tangannya. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini