Rabu, 07 Desember 2016

Kecewa Demo 212: Bukan Soal Iman Tapi Kebencian

Sumber foto: Tempo.co
Oleh Ahmad Tsauri

DutaIslam.Com - Alhamdillah kita bersyukur aksi sholat Jumat bersama berjalan lancar. Sejujurnya, mungkin saya satu-satunya orang yang tidak bahagia dengan aksi demo oleh jutaan masa itu. Anda boleh menyayangkan pernyataan saya, boleh menyesalkan atau menganggap saya munafiq sekalipun.

Kawan-kawan, aksi 1-3 itu bukan soal Islam yang menyatukan, tapi soal berhasilnya upaya dan kucuran dana untuk pendangkalan ajaran dan pemahaman.

Aksi 1-3 itu bukan soal girah Islam yang tergugah tapi soal pemahaman agama yang salah arah dan salah kaprah.

Aksi 1-3 itu bukan soal aksi damai dan berjalan tertib tapi semata-mata kabinet yang solid dan presiden yang smart yang membuat pimpinan aksi tidak bisa berkutik.

Aksi 1-3 bukan soal jihad tapi soal ambisi dan kebencian yang terakumulasi.

Aksi 1-3 bukan soal membela ayat suci tapi soal umat yang sudah semakin jauh dari sentuhan dan keteladanan para kiai. Akhirnya mereka belajar Islam dari dai produk Saudi.

Aksi 1-3 akibat polarisasi Pendidikan Umum dan Islami, saat tumbuh interest terhadap Islam mereka sudah diapit dimbimbing wahabi.

Aksi 1-3 bukan soal aksi damai atau anarki tapi soal wahabi takfiri yang masih lemah di hadapan kuatnya NKRI.

Aksi 1-3 bukan soal kebangkitan mayoritas tapi hasil publisitas dengan dana tak terbatas, tv, radio, majalah, rohis-rohis kampus, terus menerus sampai mengikis habis identitas. Tak lagi jelas, demarkasi antara NU, Muhammadiyah, Persis, FUI, dan lain-lain ormas.

Aksi 1-3 ini kebangkitan kembali masyumi yang pernah terlibat makar permesta, dan menajamnya kembali simpul-simpul pembeda antar ormas agama dengan bahan-bahan perdebatan yang tak ada habisnya sebenarnya hampir saja di era kita itu semua mereda.

Aksi 1-3 adalah gambaran bagaimana ajaran yang benci negara, anti bhineka tunggal ika yang dahulu kita hawatirkan bersama, dan kita anggap musuh negara, kita lihat telah diturunkan, diwariskan, diajarkan pada putra-putri, murid kita dan pengikut mereka.

Aksi 1-3 adalah kuatnya hegemoni tirani ustadz minoritas yang membungkam para Kiai yang berintegritas, dahulu kita mintai fatwa kita ikuti perkataannya, kini entah karena apa diam membisu tanpa kata. Seolah Gus Mus, Mbah Moen, Buya Syafii, Habib Luthfi, Sanusi Baco, Mbah Yai Din - Mbah Yai da dan ratusan nama lainnya seolah sudah tiada dari kehidupan kita.

Aksi 1-3 adalah wajah dimana otoritas kalah dengan publisitas. Kiai kita yang dianggap tidak menaikan rating, tidak mampu membeli slot acara televisi, jikapun ada seperti Prof Quraish karena tidak sejalan dengan mereka para dai oportunis dengan paham agama minimalis pak Quraish tidak mereka gubris.

Aksi 1-3 adalah menunjukan semakin banyak kesadaran untuk menjalankan ajaran, cucu, anak, mantu, ayah, kakek nenek terbukti satu keluarga dengan beberapa wajah generasi turun ke jalan namun sayang apa tidak keterlaluan jika saya ngomong mereka salah jalan karena mereka salah mengambil sumber pengajaran.

Aksi 1-3 ini mengabarkan memang benar sejak "khalifah", raja-raja, sultan-sultan mereka bisa naik dan turun jabatan karena demonstran yang disulut oleh sentimen keagamaan.

Jika kini barat mengalami aneka fase peradaban dengan berbagai pencapaian yang mengagumkan, maka umat Islam dari dulu hingga kini masih sama, mereka bisa bangkit karena sentiman keagamaan dan sedikit saja hasutan.

Misalnya Ahok melakukan kekejian Al-Quran telah dinistakan Ayo, mari kita penjarakan atau kita bunuh supaya agama tidak terkalahkan. Pak, bu kalau begini bukan soal iman tapi soal kebencian yang dibalut ratapan dan doa kepada Tuhan.

Ada ribuan kata yang ingin saya tuliskan, tapi mungkin Anda tak akan membacanya, karena Anda lelah setelah terobsesi menonton berjam-jam siaran langsung para demonstran.

Saya akhiri saja dengan seruan, ayo tata organisasi kita dari PB hingga ranting. Biar urusan proyek dan bancaan sumbangan kita pikirkan belakangan.

Hidupkan pengajian dirumah dan di madrasah, kita ajarkan Islam ramah dengan datang ke persatu-satu tiap rumah. Buka wawasan, bangkitkan kewaspadaan jangan sampai, kampung, dusun, kecamatan, kota bahkan negara jangan sampai terjamah paham yang salah.

Ya Rasulallah tunjukan pada kami Islam ramat, Islam yang menyatukan kami, suku-suku bangsa, agama dan kepercayaan rakyat, sesuai wasiat para pendiri bangsa, agar kami teguh memegang amanat. [dutaislam.com/ ab]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post

1 komentar:

Dunia ini memang tempat dakwah, sampai saat ini pun iblis beserta tentaranya masih terus mendakwahi kita untuk masuk neraka. Dan harus diingat, dakwah pihak manapun tidak akan bisa dihentikan dgn intimidasi pihak lain, sejarah telah membuktikan itu. Jadi saya setuju dengan penulis artikel ini, daripada marah-marah dgn keadaan lebih baik berusaha merubahnya.

POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini