Kamis, 01 Desember 2016

Indonesia Itu "Mengingkari" Syariat Islam

penyebab radikalisme agama
Dari kiri: Ustadz Rumail Abbas, moderator, Pendeta Danang Kristiawan
(Foto: dutaislam.com/ ab)
DutaIslam.Com - Islam di Indonesia itu unik. Tidak terlalu menekankan formalisme syariat, begitu juga syariat bisa dihidupkan dalam tradisi arif yang sudah berlangsung ratusan tahun. Misalnya, ketika ditanya tentang sesajen, Sunan Bonang tidak langsung memvonis sesat. Bahkan beliau menyarankan agar memperbanyak sesajen karena itu bagian dari sedekah.

Itulah salah satu pernyataan Ustadz Rumail Abbas yang diutarakan dalam Diskusi Selapanan Ahad Legi bertema "Keberagaman Agama di Indonesia" di Lantai II Gedung NU Jepara, Jl. Pemuda 51 Jepara, yang digelar oleh Lesbumi NU Jepara, Sabtu (26/11/2016) malam. Acara ini makin semarak karena dilengkapi dengan konser musik dari USB Band Unisnu.

Rumail Abbas yang juga pengamat terorisme tersebut juga menyebutkan kalau Sunan Ampel adalah sosok yang sangat mengharagai keberagaman di Indonesia. "Sunan Ampel dulu juga pernah menyatakan kalau agama Islam harus sama kedudukannya dengan agama lain," kata Abbas kepada puluhan peserta diskusi.

Tidak ada superioritas dalam konsep keberagaman yang dipraktikkan para walisongo dulu. Karena itulah, tidak ada dari satu gagasan pun yang menginginkan terbentuknya negara Islam di Nusantara hingga para pewarisnya sekarang, ulama, di Indonesia ini.

Hidup penuh toleransi dan saling berbagi justru karena antar aktor manusianya diberikan ruang untuk saling menghormati atas nama manusia. Syariat Islam di Indonesia justru akan membuat keberagaman tidak bisa hidup saling berbagi, aman dan damai.

"Gus Dur pernah mengatakan, Indonesia itu mengingkari syariat Islam," imbuh Abbas.

Sementara itu, Pendeta Danang Kristiawan dari GITJ Jepara yang ketika itu jadi pemantik kedua setelah Abbas memberikan penjelasan tentang fitrah keberagaman. Menurutnya, jumlah agama itu sama dengan jumlah etnis di Nusantara.

Walaupun sebuah agama bertemu dengan pelbagai jenis adat dan aturan kultural baru, sifat asli agama pasti tetap ada dan tersisa, "meskipun dikonversi dengan pelbagai keyakinan," ujar Danang.

Agama menjadi semacam alat untuk kepentingan politik tertentu karena agama-agama itu pada mulanya memiliki sifat sebagai anak tunggal, yang minta dibenarkan segala yang ada dalam tindakannya.

"Akhirnya mengakibatkan klaim. Terjadi guncangan atau sock ketika bertemu pluralisme, dan makin fundamentalis ketika ketemu klaim-klaim yang sama," tambahnya.

Fundamentalisme berubah jadi radikalisme jika kita tidak pernah berjumpa dengan orang lain yang berbeda keyakinan. Karena hal itu, tutur Danang, akan melahirkan prasangka. "Cara mengurai pra sangka itu ya memang dengan berjumpa," tegasnya.

Yang paling penting saat ini adalah menerima keberagaman dalam satu agama. "Di Kecamatan Kota Jepara ada 7 gereja dengan 5 aliran. Mereka sulit bertemu di internal agama sendiri. Sepertinya baik-baik saja, padahal juga kadang tidak baik-baik saja," terang Danang. [dutaislam.com/ ab]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini