Kamis, 03 November 2016

Diamnya Ulama Terhadap Kemungkaran adalah Bencana Besar

foto santri ngaji dengan kiai

DutaIslam.Com - Orang yang berilmu harus disertai dengan akhlak yang baik. Baik akhlak dhohir ataupun akhlak batin yakni dengan menghindari perkara-perkara semisal hasud, ujub dan lain sebagainya.

Orang yang berilmu juga harus mengetahui rahasia-rahasia amal dan juga apa penyebab dileburnya amal tersebut dan harus pula mengetahui ilmu al-waqi' wal wa'id al-waqiin filkitab was-sunnah, mengetahui ancaman-ancaman dan juga apa yang diperoleh jika taat kepada Allah dan apa ancaman yang akan didapat jika melanggar perintah-Nya. Sebagaimana yang telah disebutkan didalam Al-Qur'an juga Al-Hadits.

Maka jika disertai akhlak seperti ini, ilmu tersebut akan memberikan kemanfaatan. Dan hubungan antara ilmu yang dhohir dan yang batin itu harus sempurna. Jika tidak, maka tidak menjadi sempurna pula ilmu yang didapat. Dan kesempurnaan ilmu bisa kita lihat pada laku dari pada ulama-ulama salaf. Coba baca cerita-cerita ulama salaf, dalam setiap langkahnya selalu diterangi oleh cahaya ilmu dhohir dan cahaya ilmu batin.

"Ilmu batin fala qiwama lahu biduni ilmidz-dhohir". Artinya, orang yang mempunyai ilmu batin, maka tidak ada harganya jika dia tanpa mengetahui ilmu dhohir. "Wa amma ilmudz-dhohir fala tamama lahu biduni ilmil batin". Artinya, orang yang mempunyai ilmu dhohir, ia tidaklah sempurna kecuali harus mempunyai ilmu batin.

Maka jeleklah orang alim yang berbicara tentang sebagian hukum wajib, fadlo'il dan juga perkara-perkara dari yang haram, sedangkan ketika diminta tentang al-wa'id dan al wa'du (tentang ancaman, tentang anjuran untuk beramal) dia tidak bisa menerangkan dengan jernih.

"Wa shudurul mu'minin innama tansyarihu bikalamillahi ta'ala wa bikalami rosulihi shallallahu 'alaihi wasallam". Artinya: hati/dada orang-orang mukmin itu akan menjadi terang dengan kalamullah dan kalam Rasulullah SAW dan dengannya itulah mereka hatinya akan terang.

Ketiga ilmu ini harus kita pelajari dan juga harus kita menguasainya, yaitu ilmu dhohir, ilmu batin dan ilmu tentang ancaman dan  anjuran.

Kegiatan orang yang berilmu adalah menyampaikan, menyebar luaskan dan memperjuangkan, mengajarkan kepada semua umat muslim, yakni mengajarkan ilmu-ilmu yang membawa manfaat kepada mereka.

Dan hendaknya juga seorang 'alim  ketika duduk bersama orang-orang awam menerangkan bagaimana tentang kewajiban, keharaman,  sunnah-sunnah, tentang taat, dan tentang pahala juga tentang siksa yang akan didapat.

Dan ini perlu digarisbawahi  bahwa orang yang berilmu jangan bicara terlalu muluk-muluk. Berbicaralah dengan kadar kepahaman mereka (orang yang diajak bicara). Jika kita berbicara terlalu muluk-muluk, maka justru mereka akan menjauh. Berbicaralah dengan ibarat-ibarat yang mudah dan tamtsil-tamtsil yang ringan. Dengan itu mereka tidak akan lari dari pada kita, jika mereka lari maka bagaimana kita mau mengajarkan pemahaman yang benar tentang agama?

Sebagian kalangan awam itu sering kali tasahhul (meremehkan, menganggap mudah perkara-perkara di dalam urusan agama, baik ilmu maupun amal). Dan sebagai orang yang berilmu jangan sampai diam saja terhadap hal semacam ini. Kita harus memberikan pengajaran, memberikan pengertian agar kerusakan dan bala' tidak menjadi umum dan dianggap sudah biasa.

Seorang 'alim jika datang kepadanya orang seorang murid yang ingin belajar, maka lihatlah dulu bagaimana orangnya. Jika orang tersebut bisa membaca, orang yang mau untuk terus belajar, maka perintahlah untuk membaca kitab.

Jika orang tersebut memang benar-benar awam, maka ajarilah dengan ilmu-ilmu yang hanya diwajibkan saja, karena ilmu yang diwajibkan tidaklah banyak. Jangan membacakan kepada dia beberapa kitab, sehingga dia malas dan tidak mau untuk mendengarkan, tetapi ajarkanlah pelajaran-pelajaran yang wajib untuk dirinya saja biar dia tidak merasa malas dan tidak bosan.

Dan sebagai Alim jangan pernah bosan untuk mengajar "Wa sukutul 'ulama an ta'limihim wa ta'rifihim fala haula wala quwwata illa billah". Artinya: diamnya ulama terhadap kemungkaran, terhadap perbuatan-perbuatan keji, tidak mau mengingatkan dengan lisan, tidak mengajarkan tentang keilmuan, itu adalah sebuah bencana yang besar fala haula wala quwwata illa billahil 'aliyyil adhim.

Allohummanfa'na bima 'allamtana wa 'allimna ma yanfa'una wazidna 'ilman wal hamdulillah 'ala kulli hal wa na'udzu billahi min ahwali ahlinnar. [dutaislam.com/ ab]

Ahmad Zain Bad, AnNur II Bululawang Malang
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini