Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Alasan Pangeran Diponegoro Tak Tertarik Pola Beragama ala Wahabi

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Minggu, 13 November 2016
    A- A+

    Oleh Rizal Mumazziq Z 

    DutaIslam.Com - Awalnya, saya mengira kitab Topah alias Tohfah yang menjadi salah satu kitab favorit Pangeran Diponegoro adalah kitab Tuhfatul Muhtaj-nya Imam Ibnu Hajar al-Haitami, atau mungkin Tuhfat at-Thullab-nya Imam Zakariya al-Anshari, bisa jadi juga Tuhfat al-Habib-nya Imam al-Bujairimi. Sebab, sejak muda sang pangeran telah banyak melalap kitab-kitab fiqh melalui para ulama yang sering berdiskusi di balairung kediaman buyutnya, Ratu Ageng, di Tegalrejo.

    Namun, melihat sekilas penjelasan Peter Carey dalam "Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)", kemungkinan besar Tohfah tersebut adalah Tuhfat al-Mursalah ila Ruh an-Nabi karya Syaikh Muhammad bin Fadhlullah a-Burhanpuri. 

    Kitab ini menjelaskan falsafah sufisme tentang ajaran "martabat tujuh" yang klop dengan pemikiran manusia Jawa manakala merenungkan Allah, dunia dan kedudukan manusia. Sebagai penganut Tarekat Syattariah, Diponegoro mempelajari kitab ini dari guru tarekatnya, kemungkinan melalui jalur Syarif Hasan Munadi alias Tuan Sarif Samparwedi, seorang Arab yang menjadi komandan resimen kawal pribadi Barjumungah.

    Dalam "Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf", KH. A. Aziz Masyhuri memang menyebut Karang Saparwadi (apakah sama dengan Samparwedi, wallahu a'lam?), sebagai salah satu titik pusat penyebaran Tarekat Syattariyah di Jawa Barat yang dari silsilah ini banyak menurunkan murid di Jawa Tengah pula. Jalur sanad ini berasal dari Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, murid Syaikh Abdurrauf Assingkili.

    Alternatif lain, Pangeran Diponegoro mendapatkan silsilah tarekat ini melalui jalur Kiai Taptojani, deklarator Perang Jawa yang juga berlatarbelakang Tarekat Syattariyah. Peter Carey menyebutnya berasal dari Sumatera.

    Jika benar demikian, ada kemungkinan Kiai Taptojani mewarisi matarantai Syattariyah melalui jalur Syekh Burhanuddin Ulakan, Sumatera Barat. Baik Syekh Burhanuddin Ulakan maupun Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, keduanya adalah murid mufassir Syaikh Abdurrauf Assingkili, Aceh. Nama terakhir ini yang menyebarkan ajaran Syattariyah di Nusantara setelah berguru kepada Imam Al-Qusyasyi dan al-Kurani, dua tokoh kunci Syattariyah di Haramain. 

    Dari jalur inilah bisa dilacak bagaimana sebuah kitab karya ulama India, Syaikh Fadlullah Burhanpuri, bisa dipelajari oleh seorang pangeran di Jawa dan menjadi salah satu kitab favoritnya.
    Jika banyak orang melihat bahwa tradisi santri Diponegoro dipengaruhi oleh koneksi para ulama pathok nagari maupun para tentara haji di korps Suranatan, saya justru melihat titik terang berada di tangan buyut puterinya, Ratu Ageng, yang mengasuh Raden Mas Mustahar, nama kecil sang pangeran sejak usia tujuh tahun.

    ****
    Dalam email bertanggal 15 Agustus 2015, Oman Fathurrahman, filolog UIN Syarif Hidayatullah, menjelaskan kepada Peter Carey, bahwa Ratu Ageng adalah penganut Tarekat Syattariyah.
    Menurut Oman, berdasarkan penelitian atas naskah Jav. 69 [Silsilah Syattariyah] dari koleksi Colin Mackenzie di British Library, London, Ratu Ageng--yang disebut 'Kangjeng Ratu Kadipaten' dalam naskah-- disebutkan dalam empat bait sebagai penganut setia yang memiliki pertalian langsung dengan para mursyid utama Tarekat Syattariyah di Jawa Barat, Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (1640-1715) melalui empat silsilah ulama.

    Anggota kesultanan lain yang disebut sebagai penganut Syattariyah adalah Permaisuri Hamengkubuwono II (bertakhta 1792-1810/1811-1812/1826-8), Ratu Mas, dan ayahnya Pangeran Pakuningrat, menak keturunan Mataram yang menikah dengan anak Pakubuwono II (bertakhta 1726-1749) dan Ratu Alit dari Kertasura. Pakuningrat dibaiat dalam Syattariyah oleh Kiai Abdullah (Kiai Muhammad Kastuba) dari Pesantren Alang-Alang Ombo di Bagelen. Selain itu bangsawan lain yang menjadi pejalan Syattariyah adalah Raden Ayu Kilen, selir Hamengkubuwono II.

    Lalu, siapa Ratu Ageng yang menjadi titik bahasan di awal status ini? Dia adalah nenek buyut Pangeran Diponegoro. Perempuan perkasa itu adalah istri Hamengkubuwono I. Dia ikut mendampingi suaminya manakala bergerilya dalam Perang Giyanti. 

    Ratu Ageng jauh dari kesan perempuan Jawa yang gemulai. Sebab, selain terkenal memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan karena merupakan cucu Ki Ageng Sulaiman Bekel Jamus, dia juga punya bakat militer kuat warisan genetika Sultan Abdul Qahir, Bima. Di bawah komando Ratu Ageng, korps Prajurit Estri yang terdiri dari para pendekar perempuan, mengalami kemajuan.

    Kelak, beberapa tahun menjelang Perang Jawa, korps Prajurit Estri peninggalannya ini membuat utusan negara Eropa melongo dan terkagum-kagum saat menyaksikan keterampilan para pendekar cewek mengendarai kuda, melepaskan tembakan salvo, dan ketepatan membidik.

    Di bawah kepengasuhan nenek buyutnya ini, sejak muda sang pangeran telah dibiasakan dengan tradisi santri. Dia dijauhkan dari keraton yang sudah terkena polusi kehidupan tidak agamis dan mulai dirambah konflik internal. Raden Mas Mustahar dijauhkan dari suasana yang tidak kondusif bagi perkembangan jiwanya lalu diperkenalkan dengan ritus-ritus kehidupan kaum santri.

    Melalui bimbingan Ratu Ageng, sang pangeran di usia mudanya menjelajahi pesantren demi pesantren dengan menggunakan baju sederhana dan menjalani laku tirakat yang kuat. Ia sowan ke berbagai ulama, kemudian juga menziarahi makam leluhurnya. Kelak, ziarah akademis dan spiritual ini justru memperkaya koneksinya saat Perang Jawa tiba.

    Di bawah asuhan Ratu Ageng, Diponegoro banyak melalap kitab-kitab fiqh melalui para ulama yang sering diundang berdiskusi (bahtsul masail) di balairung kediamannya di Tegalrejo. Melalui tradisi keilmuan yang dicanangkan oleh buyut putrinya tersebut, Diponegoro mempelajari Muharrar-nya Imam ar-Rafi’i dan Lubab al-Fiqh-nya Al-Mahamili. 

    Namun favoritnya tetap Taqrib-nya Abu Syuja al-Isfahani dan Fath al-Wahhab-nya Imam Zakariya al-Anshari. Taqrib menjadi pegangan Diponegoro saat berperang dan hingga kini disimpan di rumah penangkapan Diponegoro di Magelang (selain al-Qur’an dan serban), sedangkan Fath al-Wahhab menjadi kitab yang rutin dikaji oleh Kiai Mojo di hadapan para ulama saat bergerilya.

    Di tangan Ratu Ageng, yang mahir membaca naskah berbahasa Jawa dan beraksara Pegon, Diponegoro diseret ke dalam keasyikan dunia pengetahuan fiqh sekaligus tasawuf. Buyut puterinya membuatkan sebuah balairung luas di samping tempat tinggalnya khusus bagi para ulama untuk berdiskusi beragam tema, dari fiqh hingga tatanegara. 

    Buyut putrinya pula yang memperkenalkan Diponegoro dengan tradisi akademis Tarekat Syattariyah melalui kitab Tuhfat al-Mursalah ila Ruh an-Nabi karya Syaikh Muhammad bin Fadhlullah a-Burhanpuri. Kitab ini menjelaskan falsafah sufisme tentang ajaran “martabat tujuh” yang klop dengan pemikiran manusia Jawa manakala merenungkan Allah, dunia dan kedudukan manusia. 

    Sebagai penganut Tarekat Syattariah (dan Naqsyabandiyah), sangat masuk akal apabila Diponegoro tidak tertarik pola beragama ala Wahhabisme yang mulai merambah wilayah Sumatera Barat.

    Pada saat Ratu Ageng yang salehah itu mangkat pada 17 Oktober 1803, Raden Mas Mustahar alias Ontowiryo alias Diponegoro, kehilangan pembimbing utama yang mendampinginya melewati masa remaja hingga menjelang dewasa. 

    Namun, di tahun-tahun setelahnya, sang pangeran lebih intens berdekatan dengan rakyat dan mulai membina koneksi berharga yang akan dia gunakan pada saat memulai berjuang, 1825. Selamat ulang tahun sang Pangeran Diponegoro yang ke 231 (11 November 1785-11 November 2016). [dutaislam.com/ ab]
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: