Sabtu, 22 Oktober 2016

Sejarah Singkat Resolusi Jihad yang Tidak Dicatat

sejarah jihad santri dan kiai

DutaIslam.Com - Indonesia merdeka tanggal 17 agustus 1945, namun belum genap 1 bulan usia kemerdekaan, Indonesia langsung mendapat ujian yang berat. Tentara sekutu yang membonceng tentara Belanda mendarat di Jakarta dan kota-kota besar lainya di Indonesia.

Bung Karno dan Bung Hatta berupaya melakukan upaya diplomatik untuk mendorong tentara sekutu bekerja profesional hanya mengurus tahanan saja dan tidak mengutak ngatik status kemerdekaan Indonesia. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil.

Bung Karno galau saat itu, beliau menganalisa bila sampai terjadi peperangan secara sistematis, Indonesia pasti tidak akan bisa mengalahkan tentara sekutu, karena persenjataan mereka jauh lebih lengkap dan keahlian militernya lebih memadai.

Atas saran dari Panglima Besar Jenderal Sudirman, Bung Karno diminta untuk mengirim utusan Khusus kepada Rais Akbar Nadhatul Ulama (NU) Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari di Pondok Pesantren Tebu ireng Jombang.

Tujuannya untuk meminta fatwa kepada Kiai Hasyim tentang bagaimana hukumnya berjihad membela negara yang notabene bukan negara Islam seperti Indonesia.

Kiai Hasyim lantas memanggil KH. Wahab Hasbullah dari Tambak Beras Jombang. Kyai Wahab di minta untuk mengumpulkan para Ketua NU se Jawa-Madura untuk membahas persoalan ini. Bukan hanya itu saja, Mbah Hasyim juga meminta kepada para kiai-kiai khos (utama) NU untuk melakukan sholat istikharah, salah satunya adalah KH Abbas dari Ponpes Buntet Cirebon Jawa Barat.

Pada 22 oktober 1945 seluruh delegasi NU se-Jawa dan Madura telah berkumpul di Kantor Pusat Ansor di Jl. Pungutan Surabaya. Kiai Hasyim langsung memimpin pertemuan tersebut dan kemudian dilanjutkan oleh Kiai Wahab. 

Setelah berdiskusi yang cukup panjang dan mendengarkan hasil istikharah para kiai utama NU, pada esok siangnya tanggal 22 oktober 1945, pertemuan menghasilkan 3 rumusan penting yang kemudian dikenal dengan istilah Resolusi Jihad NU. Berikut isinya:
  1. Setiap muslim, tua, muda dan miskin sekalipun wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. 
  2. Pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan, layak dianggap syuhada (mati syahid). 
  3. Warga yang memihak kepada Belanda dianggap memecah belah kesatuan dan persatuan. Oleh karena itu, harus dihukum mati. 

Dokumen Resolusi Jihad itu ditulis dalam huruf Arab-Jawa atau disebut huruf Pegon, yang ditandatangi oleh KH Hasyim Asy'ari, lalu di sebarluaskan ke seluruh jaringan pesantren, tak terkecuali kepada para Komandan Laskar Hizbullah dan Sabilillah di seluruh penjuru Jawa dan Madura. 

Dokumen Resolusi Jihad juga dimuat dalam sejumlah media masa pergerakan pada masa itu. Hanya berselang 3 hari pasca Resolusi Jihad dicetuskan, 6.000 tentara sekutu mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan persenjataan lengkap.

Mendengar kedatangan pasukan penjajah, ribuan santri, mujahidin dan para kiai se-Jawa Timur bergerak menuju Surabaya dan situasi pun terus memanas cenderung tidak terkendali.

Resolusi Jihad NU telah memompa semangat para relawan rakyat dan memicu terjadinya pertempuran hebat selama 3 hari 3 malam di Surabaya, tanggal 27 sampai 29 Oktober 1945. Tentara Inggris kewalahan menghadapi perlawanan rakyat Jawa Timur.

Inggris lantas mendatangkan Soekarno ke Surabaya untuk diajak berunding melakukan gencatan senjata. Pagi hari tanggal 30 Oktober, gencatan senjata ditandatangani pemerintah Indonesia dan Inggris, namun pada sore harinya terjadi insiden di jembatan merah yang menewaskan orang nomor 1 tentara Inggris di surabaya, yaitu Jenderal Mallabi. Gencatan senjata pun langsung berakhir.

Pengganti Jenderal Mallabi bernama Robert Manison mengultimatum laskar pejuang dan tentara Indonesia agar menyerahkan senjata kepada Inggris paling lambat 10 November 1945. Jika tidak, Inggris mengancam akan membumihanguskan Surabaya dan membombardir Surabaya dari 3 arah sekaligus, yakni laut, darat dan udara.

Mendengar ancaman itu, para komandan Laskar Hizbullah, Sabilillah Mujahidin, TKR dan para santri marah besar. Seorang pemuda bernama Soetomo atau yang lebih akrab di panggil Bung Tomo, sowan kepada Kiai Hasyim, meminta izin untuk menyebarluaskan­ Resolusi Jihad melalui radio. 

Pada Pidato Bung Tomo.
K.H. Ahmad Muchid Muzadi (Pemuda Anshor 1945 dari Jember Jawa Timur) Mengatakan, "Hai.. Tentara Inggris, ayo kita berperang, kita ini tidak takut. Kalau mati, kita syahid. Kalau hidup, kita akan menjadi bangsa yang merdeka".

Ustadz Muhammad Yahya Waloni (Pendeta yang Muallaf) dari Manado Sulawesi. Mengatakan: " Indonesia itu merdeka bukan dengan teriakan Haleluya, akan tetapi dengan teriakan dan pekikan Takbir.. Allohu Akbar.. Allohu Akbar.. Allohu Akbar.. "

Pasukan terdepan yang bertempur di Surabaya adalah :
(1). Laskar Hizbullah, yang dipimpin oleh K.H. Zainal Arifin, dari Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Wafat di Jakarta. 

(2). Laskar Sabilillah, dipimpin oleh K.H. Masykur, dari Ponpes Mishbahul Wathon (Pelita Tanah Air), Singosari Malang, Jawa Timur.

(3). Barisan Mujahidin Indonesia yang dipimpin oleh K.H. Wahab Hasbullah Ponpes Tambak Beras Jombang Jawa Timur.
 
(4). PETA, sebagian besar Batalyonnya dipimpin oleh para kiai NU. Baca Duta Islam: Sejarah yang Hilang: Kiai Jadi Komandan Batalyon.

(5). Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Resolusi Jihad NU (sejarah yang terlupakan) cukup di sayangkan karena Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 tidak tercatat dalam Sejarah Resmi Indonesia. Ada upaya untuk menghilangkan jejak peran para Santri dan Kiai dalam memperjuangkan kemerdekaan. 

Hal itu diduga terkait dengan kebijakan Rasionalisasi, Nasionalisasi dan Modernisasi TKR yang mengakibatkan para milisi terdepak dari TKR. Walau sedikit kecewa pada pemerintah saat itu, tapi para pejuang NU tetap sadar bahwa mereka berjuang bukan untuk pemerintah, tapi membela negara dan tanah air. Mereka tetap setia dengan Resolusi Jihad dan tetap selalu menjaga serta membela NKRI. 

Mereka tidak berpikir untuk melawan pada pemerintah yang sah, apalagi memberontak dan kudeta. Bahkan mereka berperang lagi menghadapi Agresi Militer Belanda tahun 1947-1948. Semoga yang gugur membela NKRI menjadi Syuhada'. [dutaislam.com/ ab
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini