Minggu, 16 Oktober 2016

NU, Aku Makin Jatuh Cinta Padamu!


Oleh Denny Siregar

DutaIslam.Com - Saya selalu senang dengan sikap NU. Ia seperti organisasi Hezbullah di Lebanon. Hezbullah meski sebagai organisasi besar dan kuat di Lebanon, tidak mau mencampuri urusan dalam negeri Lebanon.

Lebanon itu negara demokratis parlementer. Sesudah perang saudara 15 tahun, mereka membangun sistem khusus di negaranya yang bernama konfesionalisme untuk menghindari kembali terjadinya perang sektarian.

Di sana, presidennya haruslah mereka yang dari Kristen Maronit, PM-nya dari muslim sunni, Wakil PM-nya dari kristen ortodoks dan ketua parlemennya dari muslim syiah. Ini kesepakatan di antara mereka sendiri.

Hezbullah sendiri adalah organisasi syiah. Mereka tugasnya melindungi Lebanon dari serangan negara luar, Israel khususnya. NU persis seperti itu.

Mereka tidak mencampuri urusan politik dalam negeri dan membiarkan sistem berjalan dgn demokratis. Mereka hanya bersiap, seandainya mereka dibutuhkan oleh pemerintah untuk turun tangan. Karena itu, Banser dan Anshor meningkatkan perekrutan di mana-mana.

Cara mereka menengahi masalah terhadap situasi yang terjadi pun sangat menarik. Seperti ketika mereka mengetahui bahwa ada oknum-oknum yang berkepentingan menunggangi kasus Ahok dengan isu SARA. Pengurus NU langsung melakukan koordinasi dengan Menkopolhukam.

Sesudah pertemuan, keluarlah statement Kyai Said Agil bahwa Ahok seharusnya di proses secara hukum. NU memposisikan diri berada di pihak yang tidak bertentangan dengan mereka yang menamakan diri "umat muslim" yang demo itu, karena itu berpotensi menimbulkan bentrokan.

Meski begitu, NU tahu bahwa tidak ada indikasi penistaan agama di sana, tapi mereka harus mengeluarkan statemen sebagai pencegah terjadinya antara NU dengan saudara-saudara sebangsanya sendiri. Cara perang yang elegan. Dekatlah dengan temanmu, tapi lebih dekatlah kepada musuhmu.

Ini persis dengan situasi Pilpres, ketika Kyai Said Agil secara terbuka menyatakan diri berada di barisan Prabowo tepat saat Demokrat mencabut batas pemisah antara 2 kekuatan besar dengan alasan "netral". NU langsung membelah diri dan berada di dua sisi untuk mengamankan benturan.

NU teruslah menjadi perekat bangsa. Nasionalisme kalian sudah teruji sejak masa negara ini belum merdeka.

Senang melihat kyai-kyai kalian yang memang layak mendapat predikat ulama. Sarungan, rokok, kopi, kopiah dan sikap kalian yang memandang semua masalah dengan humor cerdas adalah ciri khas bangsa ini sesungguhnya.

Bravo NU, saya angkat cangkir kopi  untuk kalian. [dutaislam.com/ ab]

Denny Siregar, pecinta NU dari luar ruang
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini