Jumat, 14 Oktober 2016

Awas, Ini Kejanggalan Lembaga Potensi Family Heritage (LPFH)


DutaIslam.Com- Lemapora Subabane Poalsedaisin (sekarang berganti nama menjadi Lembaga Potensi Family Heritage/Heritance, disingkat LPFH) sebenarnya sudah eksis sejak Tahun 2003. Kegiatan utamanya menghimpun dana dari masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan yang kurang mendapatkan edukasi dan informasi sehingga mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak masuk akal.

Baca laporan Duta Islam: Hati-Hati Jebakan Batman Lemapora Subabane Poalsedaisin

Dalam menjalankan kegiatannya, LPFH mengklaim sebagai lembaga internasional yang direstui PBB dengan dukungan 32 negara. Terkenal juga berarti yah. Hmm. Mereka menggunakan isu pencairan harta kerajaan nusantara dan harta revolusi warisan Bung Karno (presiden pertama RI) di Bank Swiss (UBS) untuk menarik minat masyarakat.

Mereka tidak sungkan-sungkan menunjukkan dan atau menyebarkan dokumen yang mengatasnamakan PBB dan BI (Bank Indonesia) demik meyakinkan masyarakat, baik melalui forum internal di ruangan tertutup maupun melalui media sosial. Berikut ini beberapa dokumen yang bisa Anda lihat atau Anda download melalui caption gambarnya di bawah ini:

Dokumen Amanat Warisan
Dokumen Surat Perintah Kerja dari BI
Dokumen Prosedur Memelihara Bintang Investasi LPFH
Syarat Investasi Bangun Desa
Mereka juga membuat program-program yang menggunakan isu kemanusiaan dan pembangunan desa. Mereka menyebut kegiatan btersebut sebagai Investasi Bina Bangun Desa dan Bank Desa. Modus yang dilakukan oleh lembaga ini serupa tapi tak sama dengan modus yang dilakukan oleh Yayasan Amallillah, UN Swissindo, dan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, yakni yaitu menghimpun dana dari masyarakat dengan mengiming-imingi pencairan dana yang jauh lebih besar dan fantastis.

LPFH menggunakan istilah “konsultan” untuk orang-orang yang bertugas menghimpun dana dari para pengikutnya (bahasa halus dari “korban”). Namun, LPFH tidak memiliki legalitas resmi dan tidak terdaftar di instansi Kesbangpol (Kesatuan Bangsa dan Politik) provinsi manapun.

Selain itu, sudah banyak yang melakukan klarifikasi kepada pihak UNIC (United Nation Information Center) yang berdomisili di Jl. M.H. Thamrin Jakarta Pusat melalui e-mail unic.jakarta@unic.org, namun dibantah oleh UNIC dengan menyatakan bahwa PBB sama sekali tidak berafiliasi dengan LPFH dan tidak mengenal Bernard Nobel. LPFH juga tidak menempati kantor yang menetap serta tidak memiliki nomor kontak lembaga yang permanen (fix phone).

Sudah pernah ada penangkapan oleh aparat kepolisian dan keputusan dari Pengadilan Negeri Bangil untuk menahan salah satu Konsultan LPFH yang bernama Moch. Husein. Format PDF salinan putusan pengadilan dapat diunduh dari link Direktori Putusan Mahkamah Agung RI. Link putusan bisa Anda baca di SINI.

Sangat disayangkan bahwa penahanan konsultan tersebut tidak serta merta bisa membubarkan lembaga ini. Bahkan LPFH masih eksis dan semakin intens menyebarkan pengaruhnya. Para korban yang sadar telah tertipu kebanyakan merasa malu atau takut untuk melaporkan kepada pihak yang berwajib.

Adanya pembentukan Satgas Waspada Investasi Bodong oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dari Departemen Keuangan dan instansi terkait baru-baru ini, ada yang sudah berkirim e-mail kepada OJK agar supaya LPFH menjadi sorotan, mengingat sudah terlalu lama lembaga ini beroperasi dan sudah sangat meresahkan karena korban penipuan semakin bertambah serta berpotensi menimbulkan konflik horizontal.

Selain mengejar bantuan dana operasional dari warga yang punya uang tapi bingung cari kerja, lembaga ini juga diduga telah melakukan penyesatan akidah (khususnya Islam) dengan statemen-statemen lucu sebagai berikut:
  1. Penyebutan semua nama tuhan dalam kata pengantar surat dan pidato.
  2. Penggunaan istilah-istilah aneh seperti: kandang rasul, di belakang tidak kudus   di depan kudus, alam sana alam sini, perjanjian dengan pemilik barang orang mati, dan lain-lain.
  3. Kepada para pengikutnya, Bernard Nobel mengaku sebagai anak angkat Bung Karno, pemegang kunci harta amanah/kerajaan/dinasti/karun/warisan Bung Karno, mengaku sebagai orang pilihan/mesiah/utusan tuhan/ nabi, dan mengaku sebagai raja di raja (mirip seperti Dimas Kanjeng Taat Pribadi).
  4. Perburuan harta karun dan warisan Bung Karno dengan bumbu mistik (seperti membawa-bawa nama Nyi Roro Kidul).
  5. Menjadikan Pancasila dan UUD 45 sebagai pedoman untuk selamat dunia dan akherat (bukan Al Quran dan Hadits). Padahal dibalik itu, Pancasila dan UUD 45 hanya dijadikan alat propaganda untuk kelanggengan penipuan mereka.
  6. Menakut-nakuti para pengikutnya dengan sumpah MBL (Mati Buta Lumpuh) apabila tidak mendukung pergerakan lembaga ini.
Hal-hal tersebut dapat disimak dari postingan-postingan Bernard Nobel pada akun google plus pribadinya. Buka saja Bernard Nobel

Berkah adanya LPFH, konflik horizontal berskala rumah tangga meluas dari para pengikutnya. Bagaimana tidak, para pengikutnya yang oon-oon itu banyak terlilit hutang dan bangkrutnya tempat usaha mereka, akibat dibuai mimpi pencairan harta-harta yang tidak bisa dibuktikan keberadaannya itu. Tidak sedikit pula dari para pengikut LPFH yang berakhir menjadi orang stress dan gila, bukan gila-gilaan.

Yang sangat membahayakan adalah LPFH kini juga menarget para pengikutnya dari anak-anak remaja dan orang-orang yang belum dewasa secara mental, untuk dipengaruhi (cuci otak) sehingga mereka memiliki militansi dan rela melakukan apa kata "tuan" pemimpin melalui program pendidikan yang disebut Extend University.

Apa jadinya bangsa dan negara ini di masa yang akan datang jika generasi mudanya dari sekarang sudah didoktrin dengan pemahaman-pemahaman yang salah serta diracuni penyakit delusi/ wahm/ panjang angan-angan seperti ini? Duh, gawat!

Buktinya, orang-orang yang mengikuti lalu mengampanyekana adanya lembaga ini tidak pandai berdebat di dalam forum publik, bahkan di dalam dunia maya sekalipun. Tidak mengherankan karena mereka hanyalah sekumpulan para pengkhayal tingkat tinggi dan gemar sesumbar dengan dasar yang konyol, irasional, tapi penuh nafsu memiliki harta benda.

Akhirnya, puluhan komentar para netizen yang kritis dan telah membongkar kebohongan lembaga ini pada postingan-postingan video youtube Bernard Nobel telah dihapus oleh admin. [dutaislam.com/ ab]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini