Kamis, 11 Agustus 2016

Komitmen KH Sholeh Darat Memahamkan Islam dengan Bahasa Lokal

 

Oleh M. Rikza Chamami

DutaIslam.Com - Figur Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (dikenal KH Sholeh Darat) selalu banyak memberikan inspirasi. Salah satu kalimat tegas yang ia sampaikan adalah begini: “Lan murukno siro marang awam apa carane cara Melayu atawa cara Jawa. Endi-endi ingkang dadi ngertine kerono maksude iku ngertine ora kok lafadz bahe ora. Ojo wong bodo wus umur nuli den wuruk Kitab Arab, moko ora biso hasil wajibe. Lan wong kang dadi guru iku ojo gumede gemendung ora gelem muruk Kitab Tarjamah ‘Ajam”.

Pesan singkat yang terdapat dalam Kitab Tarjamah Sabil Al-Abid ‘ala Jauhar Al-Tauhid karya KH Sholeh Darat (halaman 65) memiliki makna yang sangat mendalam. Betapa agama itu butuh dikenalkan dengan bahasa kaumnya. Terlebih agama Islam yang mayoritas kajian-kajian agamanya menggunakan bahasa Arab. Peran guru bagi Mbah Sholeh juga sangat penting dalam mentransfer ilmu agama.

Lalu bagaimana isi dari pesan tersebut? Kita simak terjemah dari pesan Mbah Sholeh: “Dan ajarkanlah kepada orang-orang awam dengan cara (bahasa) Melayu atau Jawa. Apa saja yang akan memahamkan itu berdasar maksudnya, bukan hanya karena kosakata. Jangan sampai ada orang sudah tua diajari dengan Kitab Arab, pasti tidak akan ada hasilnya. Dan barang siapa yang menjadi guru, jangan sampai sombong berlebihan tidak mau mengajarkan Kitab Tarjamah ‘Ajam (selain Arab)”.

Ketegasan Mbah Sholeh dalam memberikan penjelasan ini ada di dalam keterangan tentang Syu’bah al-Iman (cabang iman) yang jumlahnya ada tujuh puluh tujuh. Dalam cabang iman yang ke-18 yaitu tentang ilmu syar’i dan penyebarannya, Rasulullah Saw bersabda: “Liyuballigh al-Syahid minkum al-Ghaib; wajib menghadirkan orang yang sudah mendengar bagi orang yang belum paham”. Intinya bahwa orang yang sudah memiliki ilmu memiliki tanggungjawab untuk mengajarkan ilmunya.

Dalam posisi inilah, ilmu syar’i bagi Mbah Sholeh Darat mutlak untuk diajarkan. Oleh sebab itu disampaikan olehnya bahwa orang yang sudah paham tentang fardlu wudlu, ia sudah termasuk orang berilmu, wajib mengajarkan orang yang belum faham fardlu wudlu. Bahkan ditegaskan, ketika orang berilmu tidak mau mengajarkan, maka ia akan menanggung semua dosa-dosa yang diakibatkan ketidakpahaman itu.

Tahapan-tahapan pemahaman agama juga bagi Mbah Sholeh Darat harus diajarkan secara runtut. Ilmu yang perlu diajarkan pertama adalah terkait fardlu ‘ain terlebih dahulu, baru disusul ilmu tentang fardlu kifayah. Begitu pula distribusi guru agama, juga ditata dengan berbasis masjid dan kampung. Mbah Sholeh menyampaikan: “Dan wajib dalam setiap kampung dan masjid mempunyai guru yang mengajarkan agama Islam, termasuk wajib bagi setiap desa ada guru agama Islam”.

Diantara ilmu agama yang sangat penting disampaikan oleh para guru agama adalah: aqaid lima puluh (teologi), thaharah (bersuci), jinabat, najis, shalat, ilmu hati mahmudah dan madzmumah (akhlak mulia dan tercela). Bagi anak-anak atau santri pemula dalam mempelajari agama harus diajarkan ilmu-ilmu itu terlebih dahulu. Maka, oleh Mbah Sholeh disampaikan tegas: “Jangan sampai anak kecil diajari ilmu Nahwu Sharaf dalam posisi belum paham akidah, wudlu, shalat. Dan itu menjadi tidak boleh”.

Pesen tersebut menjadi penegasan bahwa teologi dan syariat itu menjadi ilmu mutlak yang dibebankan pertama oleh para santri pemula. Sedangkan ilmu nahwu dan sharaf tetap menjadi ilmu yang penting setelah mereka memahami keilmuan-keilmuan sebagaimana disebutkan. Langkah ini menjadi sangat bijak dimana ilmu bahasa itu dapat berjalan dan diajarkan sembari mengkaji ilmu agama.

Hal pokok yang catatan penting dari pesan Mbah Sholeh ada peran guru dalam penyampaian materi agama. Bahwa orang Jawa sangat butuh pemahaman agama dengan bahasa lokalnya, yakni bahasa Jawa. Demikian pula orang-orang Indonesia, juga sebaiknya memahami agama dengan bahasa Melayu. 

Oleh sebab itu, bagi Mbah Sholeh, agama tidak hanya cukup dipahami secara lafdziyyah (parsial) saja, tapi agama harus utuh dipahami materinya dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin.

Dalam posisi semacam ini, dapat dilihat bahwa figur Mbah Sholeh memiliki tiga identitas keilmuan: Pertama, sangat peduli terhadap penanaman nilai agama Islam. Kedua, memberikan perhatian serius terhadap penerjemahan karya-karya Islam yang berbahasa Arab dalam bahasa Jawa. Dan ketiga, mendorong guru agama Islam untuk bangga terhadap bahasa lokal dan tidak malu dikatakan bodoh jika mengajarkan Kitab Tarjamah ‘Ajam.

Pesan nomor tiga ini sekaligus menjadi kinayah (sindiran) bagi masyarakat di era sekarang dimana menganggap tidak mantap jika agama Islam tidak ada Arabnya. Di sisi lain, para ustadz yang menyampaikan materi dengan terjemah seringkali dianggap tidak bisa Arab. Maka Mbah Sholeh menyebut orang yang bisa Arab tapi malu menggunakan bahasa Jawa untuk memahamkan orang awam sebagai orang sombong dan kumprung(sangat bodoh).

Mbah Sholeh memberikan contoh nyata bahwa Syaikh ‘Allamah Ismail Minangkabau ketika berada di Makkah mengajarkan Kitab Sabil al-Muhtadi tarjamah ilmu fiqh dengan menggunakan bahasa Melayu karya Syaikh ‘Allamah Arsyad Banjar. Termasuk Kitab Syubah al-Iman itu asalnya menggunakan bahasa Persia dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab ketika diajarkan di Arab.

Ketegasan Mbah Sholeh dalam pola Jawanisasi model mengajar itu bukan berarti anti Arab. Namun langkah ini sebagai sebuah terobosan nyata bahwa orang Jawa itu harus pandai dengan bahasanya sendiri. Ketika agama Islam di Jawa sudah dipahami dengan bahasa Jawa yang bersumber dari keilmuan Arab, maka hakikat Islamnya akan semakin berkualitas.

Maka kemudian Mbah Sholeh menyampaikan: “Dan janganlah orang yang jadi guru itu pandai sendiri. Sedangkan orang lain masih dalam kondisi bodoh (tidak berilmu). Dan tidak dibenarkan ada orang berilmu menyesatkan orang yang bodoh”. Sungguh luar biasa pesan yang disampaikan ini.

Yang lebih menarik adalah pesan selanjutnya: “Lamun ngucap ojo ngaji Kitab cara Jawa atawa cara Melayu mundak bodho, kerono cara Jawa iku dudu ilmu. Ingkang aran ilmu iku dudu kalam al-Arab. Maka nuli nurut wong bodho lan awam ora gelem ngaji hinggo hasil dadi bodho ora ngerti perkorone agama Islam kabeh kerono kalam al-Arab iku angil, maka dosane ketanggung ingatase wongkang nuturi”.

Menyimak pesan yang demikian, patut rasanya menjadikan tauladan bahwa bahasa lokal adalah kunci dari kesuksesan ilmu. Larangan belajar agama Islam dengan bahasa lokal adalah sebuah kenaifan. Oleh sebab itu, patut kiranya pesan Mbah Sholeh ini menjadi bahan renungan di masa sekarang. Bahwa kitab berbahasa Arab yang berakidah ahlussunnah dan teridentifikasi belum diterjemahkan, maka sudah saatnya diterjemahkan dalam bahasa lokal (Jawa dll).

Keteguhan Mbah Sholeh dalam mengembangkan berpikir Islam Nusantara menjadi nyata. Bahwa Islam di Jawa perlu dipelajari melalui bahasa orang Jawa. Islam di Nusantara juga dapat dipelajari dengan bahasa Indonesia (istilah Mbah Sholeh Darat adalah bahasa Melayu). Wallahu a’lam. [dutaislam.com/ ab]

M. Rikza Chamami, wakil Ketua KOPISODA (Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat) 
dan Dosen UIN Walisongo
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini