Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Khalid Basalamah: Allah Punya Kaki Gedee Sekali di Singgasana (Kursi)

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Kamis, 11 Agustus 2016
    A- A+

    DutaIslam.Com - Disadari atau pun tidak, Khalid Basalamah terjebak pada penetapan Jarihah bagi Allah, jika dia menolak kenyataan ini, maka berarti dia telah mengutamakan sikap kesombongannya (mukabarah). Demikian juga umumnya kaum wahabi selama memiliki keyakinan semacam itu, mereka akan terus terjebak dalam perangkap buruknya itu.

    Allah berfirman :

    وهو الذي يتوفٰكم باليل ويعلم ماجرحتم بالنهار

    "Dan Dia-lah yang menidrukan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari". (QS. al-An’An’aam: 60)

    ام حسب الذين اجترحوا السيآت

    "Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan". (QS. al-Jatsiyah: 21)

    Allah juga berfirman:

    يسألونك ماذا احل لهم قل احل لكم الطيبات وما علمتم من الجوارح مكلبين

    "Mereka bertanya padamu (Muhammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, "Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu." (QS. Al-Maidah: 4)

    Disebut anggota manusia seperti dua tangan, dua kaki, mata sebagai jawarih karena semua itu adalah alat yang digunakan untuk melakukan sesuatu.

    Seorang ulama ahli lughah Abu Manhsur al-Azhari mengatakan "telah berkata imam al-Laits : 

    جوارح الانسان عوامل جسده من يديه ورجليه واحدتها جارحة

    "Jawarih manusia adalah alat-alat jasadnya berupa kedua tangan atau kaki. Mufradnya adalah Jarihah." (Tahdzib al-Lughah: 4/86)

    Maka yang dimaksud Jarihah yang telah dinafikan oleh ulama salaf dan khalaf adalah alat berbuat, yang dengannya, ia berusaha. Oleh sebab itu, Imam Abu Jakfar ath-Thahawi berkata :

    وَتَعَالىَ- أَيْ اللهُ- عَنِ اْلحُدُوْدِ وَاْلغَايَاتِ وَاْلأَرْكَانِ وَاْلأَعْضَاءِ وَاْلأَدَوَاتِ، لاَ تَحْوِيْهِ اْلجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ اْلمُبْتَدَعَاتِ

    "Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut". (Al-Aqidah ath-Thahawiyyah: 28)

    Oleh sebab itu, untuk menyelamatkan diri dari kenyataan pahit ini, sebagian ulama wahabi berani berfatwa secara terbuka dan terang-terangan bahwa Allah butuh dengan anggota tubuh, Allah butuh dengan alat. Ibnu Baz berkata:

    نفي الجسمية والجواريح والاعضاء عن الله من الكلام المذموم

    "Meniadakan jisim, organ dan anggota tubuh dari Allah adalah termasuk ucapan yang tercela" (Tanbiihaat ‘ala man ta’awwala ash-Shifaat: 19)

    Muhammad Khalil Harras mengatakan dalam ta’liqnya (komentarnya) terhadap kitab tauhid dari Ibnu Khuzaimah yang dicetak tahun 1403 terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah pada halaman 63 berikut:

    "Menggenggam tentunya dengan tangan secara hakikatnya bukan dengan nikmat. Jika mereka berkata 'Sesungguhnya huruf ba di sini bermakna sebab maksudnya dengan sebab iradah kenikmatan,' maka kita jawab pada mereka, "dengan apa menggengam itu?" Karena sesungguhnya menggenggam itu butuh kepada alat, maka niscaya tak ada jawaban dari mereka, jika saja mereka mau merendahkan diri mereka."

    Dan Ibnu Taimiyyah secara terang-terangan pun mengakui bahwa Allah butuh terhadap alat untuk berbuat: (lihat Majmu’ al-Fatawa: 3/86)

    Kalangan wahabi telah membuat satu persepsi bahwa haqiqat sifat Allah dan manusia itu sama namun berbeda dalam kaifiyyahnya. Dalam pikirannya terbayang bahwa tangan dan kaki Allah adalah alat untuk mengambil dan memberi sebagaimana tangan manusia adalah alat untuk mengambil dan memberi, akan tetapi menurutnya tangan Allah ini berbeda dengan tangan manusia dari segi kaifiyyahnya, adapun dari segi makna dan hakikat adalah sama. 

    Oleh sebab itu Khalid Basalamah dan wahabi lainnya memaknai yad (tangan) dan rijl (kaki) dengan makna hakikatnya secara bahasa.

    Dia telah menyimpulkan bahwa al-Qabdh (menggenggam) dan al-Basth (melepaskan genggaman) bagian dari kelaziman tangan Allah yang bersifat menyentuh, ini konsekuensi atau akibat pemikiran tersebut. 

    Padahal tidak ada satu pun nash yang menjelaskan bahwa jari-jari dalam ayat mau pun hadits itu tempatnya pada tangan atau jari-jari itu termasuk bagian dari kelaziman tangan? Khalid Basalamah mengunakan qiyas akidah tajsim dan tasybih. Naudzubillah tsumma naudzubillah min dzalik. Jangan ikuti ucapan orang seperti ini. [dutaislam.com/ ab]

    Simak video ngacaunnya Khalid Basalamah di channel Duta Islam TV

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    8 komentar

    Pemahaman khalid basamalah jelas keliru ...
    menjasad alloh yang maha ghib dan dapat di terjemahakan oleh penglihatan mata
    karena pengertian allahuakbar opdi terjemahkan oleh pak khalid menyamakan dengan besarnya suatu benda ciptaan allah

    Maka kalo di kaitkan dengan sifat sifat allah ta ala yang lain seperti allah maha kuasa .. apakah kekuasaan allah tersebut apakah sama pengertiannya dengan pengertian keuasaan nya mampu mampu membunuh diri allah itu sendiri ..
    nu zubillah min dzalik ..

    ⭕ Imam asy-Syafi'i -radhiyallaahu 'anhu- (w. 204 H) secara tegas menyatakan bahwa seseorang yang berkeyakinan bahwa Allah duduk di atas 'Arsy adalah bukan muslim, tidak termasuk orang yang beriman kepada Allah ta'ala dan tidak boleh (yakni tidak shah) shalat (berjama'ah, yakni ma'mum) dibelakangnya, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Qadhi Husayn (wafat : 462 H) :

    🔵 وقد نص الامام الشافعي رضي الله عنه [ت: ٢٠٤ هجرية] على تكفير من يعتقد ان الله جالس على العرش. انتهى، حكاه عن نصه القاضي حسين.

    😊......sebagaimana penuturan para tokoh ulama' Ahlussunnah di masanya, antara lain :

    - Imam Ahmad bin ar-Rif'ah al-Mishri asy-Syafi'i (w. 710 H) dalam kitabnya, Kifaayah an-Nabiih Syarh at-Tanbiih, j. 4, hlm. 24 (cet. Daar al-Kutub al-'Ilmiyyah).

    - Syekh Ibnu al-Mu'allim al-Qurasyi (w. 725 H) dalam kitabnya, Najm al-Muhtadii wa Rajm al-Mu'tadii, hlm. 551.

    Sina maja kitab tijan adaruri we ieu ustadz.parah pisan elmuna..budak sd oge mwl kitu..

    jangan jangan web Syiah ni..ato liberal...mau menyesatkan..

    Ini web antek2 ny syi'ah dan yahudi.

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤

    Tidak ada yang sebanding/serupa/mirip dengan Allah SWT...masih kah kita membayangkan dengan akal pikiran kita yang pendek tentang wujudullah...sedangkan yang di bahas ini adalah menyangkut tauhid dzatullah...cukup kita yang bodoh ini laksanakan saja perintah Allah SWT dan jauhi laranganNYA...karena kalau sampe menyampaikan tauhid dzatullah bukan ahlinya dan yang menedengarkan bukan ahlinya bisa berbahaya...tauhid dzatullah itu tingkatan ilmu yang hanya di bahas oleh para arifin billah (waliyullah)...apakah ustad yang menyampaikan ini sudah mencapai maqom ke ilmuan seorang wali Allah SWT??

    Assalamualaikum
    Antum yg berpendapat "Ini web syiah, web liberal" tolong di kaji lagi sbb sdh terdoktrin akan faham wahabi/salafi...sbg contoh bacaan ringan cba buku "I'tiqad Ahlussunnah Wal Jama'ah" karangan KH.Siradjuddin Abbas
    Tidakkah yg selalu mengkafirkan org (Imam2 besar yg terkenal akan 'alim dan zuhud nya) dan menganggap faham mereka satu2nya benar merupakan kesesatan yg nyata (dengan nafsu mereka)
    Wahabi/Salafi selalu menterjemahkan hadis2 dan ayat dgn aqal melulu (maka tidakkah ad beberapa darinya yg bermakna majas/tersirat atau bukan bermakna sebenarnya) sedangkan aqal dipenuhi dgn hawa nafsu
    Selalu baca rujukan kaum wahabi (yg dibesar2kan nya) sbg contoh Ibnu Taimiyyah, antum kaji latar belakang beliau dan sampai akhir hayat (cari riwayat dan sumbernya) insya allah antum faham Ibnu Taimiyyah di masa lalu. Semoga kita bisa meluangkan waktunya bersama2 kembali mengkaji

    Wallahu'alam bisshawab
    Wassalamualaikum

    islam itu indah dan damai