Senin, 29 Agustus 2016

Gus Mus Kecam Pendakwah yang Main Hakim Sendiri


DutaIslam.Com - Islam di Indonesia saat ini, lebih banyak terlihat wajah marah, daripada ramah. Mengapa begitu? Ini karena esensi dakwah telah menghilang dan luput dari karakter pendakwah muslim di negeri ini. Demikian pesan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Silaturahmi dan Tausyiah di Masjid Universitas Negeri Malang, Selasa (23/8/2016).

Dalam agenda ini, Gus Mus didampingi oleh Rektor Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. H. Ah. Rofi'uddin, M.Pd, dan segenap jajaran pimpinan kampus UM, serta professor, dosen dan pengurus NU Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Dalam ceramahnya, Gus Mus menyampaikan pentingnya ruhuddakwah (ruh atau inti dakwah), yang harus dimiliki oleh ustadz, pendakwah dan segenap umat muslim negeri ini. "Di antara krisis umat Islam adalah krisis ruh ad-dakwah," terang Gus Mus. Menurut beliau, hilangnya ruh dakwah akan menjadikan pesan Islam menjadi melenceng dari apa yang diperintahkan Allah.

Gus Mus juga mengecam para pendakwah yang bersikap keras dan cenderung main hakim sendiri, tanpa ada ajakan dengan kedamaian dan rahmat. "Semua sedang berjalan menuju Allah. Ada yang mampir, ada yang bergeser. Tapi semua belum sampai ke tujuan. Jika masih di jalan, tapi belum sampai kok disikat," ujar Gus Mus, di hadapan ribuan mahasiswa dan dosen.

Lebih lanjut, Gus Mus menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad diutus untuk berdakwah dan mengajarkan cinta, bukan melaknat manusia. "Buitstu daa'iyan, saya diutus untuk berdakwah bukan melaknat. Itulah ungkapan Nabi Muhammad," kisah Gus Mus.

Dalam esensi dakwah dengan cinta, Nabi Muhammad senantiasa bersabar dan terus mengajak kepada kebaikan, meski dibalas musuhnya dengan kejam. Namun, kesabaran Nabi Muhammad membuahkan hasil dengan Islam yang berkembang pesat.

"Kalian tahu siapa Khalid bin Walid? Khalid bin Walid itu anaknya Walid al-Mughirah, yang merupakan tokoh yang memusuhi Nabi Muhammad. Kalian mengenal Hindun? Perempuan bernama Hindun, istrinya Abu Sufyan, yang dahulu pernah memakan jantungnya Sayyidina Hamzah, di perang Uhud. Setelah masuknya Islam, Hindun sangat mencintai Nabi Muhammad, sebagai pujaan dan panutan," terang Gus Mus.

Gus Mus menghimbau kepada umat muslim, khususnya pendakwah agar memahami bab taubat. Beliau mengatakan, bahwa taubat itu sampai pada akhir hayat, sebelum nyawa dicabut, setiap manusia bisa bertaubat.

"Sunan Kalijaga ketika masih menjadi Brandal Lokajaya, itu merupakan begal. Kalau pada masa itu Sunan Bonang bersikap keras, maka ya tidak ada Sunan Kalijaga," kisah Gus Mus.

Dalam tausyiahnya, Gus Mus menghimbau agar umat muslim mengedepankan akhlak dan memudahkan kesulitan. "Yuriidu biqumul yusra, walaa yuriidu biqumul usra. Allah menghendaki kalian gampang, dan tidak menghendaki kalian sulit. Allah itu tidak ingin kita itu sulit, kok kita malah mempersulit," terang Gus Mus.

Gus Mus menambahkan bahwa, beragama itu seharusnya menjadi kenikmatan. "Beragama itu harusnya enak, tapi kok sekarang malah dipersulit? Islam itu harusnya rahmatan lil 'alamin, tapi kayaknya malah jadi la'natan lil 'alamiin," jelas Gus Mus.

Dalam agenda ini, Gus Mus berpesan kepada mahasiswa dan akademisi untuk teguh mengkaji, tekun belajar dan memberi kontribusi pada NKRI. Gus Mus juga berharap agar kampus UM menjadi universitas yang memberi manfaat pada kehidupan, dan turut berkontribusi pada kebaikan Indonesia [dutaislam.com/ munawir/ ab].

Source: KBAswaja
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini