Rabu, 06 Juli 2016

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Bangsa yang Cinta Damai


Oleh M. Rikza Chamami

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبركبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا. لا اله الا الله والله اكبر. الله اكبر ولله الحمد.
الحمد لله انعمنا بختم رمضان الكرام، واعاد علينا بعيد الفطر العظام، اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له، شها دة تنجي قا ئلها من عذاب اخر الايام.
واشهد ان محمدا عبده ورسوله، الذي نال رسول الختام.
اللهم صل وسلم وبا رك على سيدنا محمد حاء الرحمة وميم الملك ودال الدوام، وعلى اله وصحبه وسلم.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد.
فيا معاشر المسلمين رحمكم الله، اتقو الله واعلموا ان يومكم هذا يوم عيد وسرور.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah dalam kesempatan awal bulan Syawwal ini kita bersama-sama meningkatkan taqwa kita kepada Allah Swt dengan senantiasa melaksanakan segala perintahnya dan berusaha secara maksimal meninggalkan segala laranganNya. Sebab ketaqwaan inilah yang menjadi inti dari ibadah mulia selama menjalani puasa satu bulan penuh di bulan Ramadan “لعلكم تتقون”.

Rasa syukur yang terindah hadir di tengah-tengah kita dengan kalimat “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin” atas limpahan karunia berupa umur panjang dan kesehatan yang dapat mengantarkan kita menyelesaikan ibadah Ramadan dan hadir memuliakan Idul Fitri tahun 1437 H/2016 M ini. Nikmat ini menjadikan pertimbangan bagi kita untuk menjadi hamba Allah yang selalu rajin bersyukur. Allah berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7:

واذ تاذن ربكم لئن شكرتم لازيدنكم ولئن كفرتم ان عذابي لشديد

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Bulan Syawwal yang hadir di tengah kita merupakan bulan mulia. Di satu sisi kita sangat menanti dengan penuh harapan dan kegembiraan, sedangkan di sisi lain kita sedang bersedih ditinggalkan bulan Ramadan. Sehingga, Ramadan dan Syawwal ini menjadi masa transisi ibadah sekaligus menjadi ujian keistiqamahan kita dalam selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Bulan Syawwal bukan awal dari kemenangan dan kebebasan semata. Justru Syawwal menjadi pintu gerbang dalam menguji hamba Allah dalam menjalankan ibadah secara baik sebagaimana bulan Ramadan. Kalau itu mampu dilaksanakan, maka Syawwal benar-benar menjadi bulan peningkatan. 

Dan Syawwal menjadi hari raya yang sangat bermakna. Sebab masih banyak orang yang ikut merayakan ‘idul fitri, tapi masih belum mampu istiqamah berpuasa. Banyak orang yang ikut berbaju baru, tapi tidak menjalani tarawih. Banyak orang yang ikut membagikan parsel dan ucapan “Selamat ‘idul fitri”, namun melepaskan amaliyah Ramadan.

Hari ini menjadi penegasan bagi kita, bahwa Syawwal kita jadikan momentum mulia dalam menjaga, melestarikan dan meneguhkan kehambaan kita kepada Allah Swt. Sebab kita semua hidup di dunia ini tujuan utamanya adalah ibadah. Tentunya ibadah yang kita lakukan bersama kelak menjadi bekal menghadap keharibaan Allah Swt. Allah berfirman dalam Surat Al Dzariyat ayat 56:

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Di penghujung Ramadan, kita dikejutkan terjadinya Bom secara bergantian, baik di Turki, Madinah Al Munawarah dan Solo. Sungguh kejam sekali sebuah peristiwa yang merusak kesucian Ramadan sekaligus menjadi teror di awal bulan Syawwal. 

Patut kita renungi bersama, bahwa setan yang telah dikunci rapat oleh Allah ternyata masih bisa lepas dengan menggoda para manusia yang belum bisa memaknai hakikat puasanya. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw, bahwa banyak orang yang rajin berpuasa, namun tidak memahami esensi puasa. Mereka hanya mendapatkan lelah dan dahaga belaka. Rasulullah bersabda:

كم من صائم ليس له من صيامه الا الجوع والعطش

“Banyak orang yang berpuasa, namun puasanya sia-sia. Kecuali hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga”

Mudah-mudahan kita semua dibebaskan oleh Allah Swt dari golongan yang demikian. Amin amin amin ya rabbal ‘alamin.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Ada empat pokok penting yang patut kita renungi bersama dalam menatap 11 bulan ke depan setelah ditinggalkan Ramadan. Ini semua menjadi bagian dari muhasabah atau renungan diri agar kita menjadi hamba Allah yang mampu menyandingkan kehidupan ukhrawi dan kehidupan duniawi kita.

Pertama, di penghujung bulan Ramadan memasuki bulan Syawwal, umat Islam dianjurkan untuk menunaikan rukun Islam berupa zakat. Hal yang paling inti dari zakat adalah penyucian diri. Dimana harta yang kita miliki perlu dibagikan kepada orang lain yang sangat membutuhkan. Disinilah Islam mendorong hidup secara bersama. 

Yang kaya mengingat yang miskin dengan berbagi harta dan bendanya. Islam tidak mengajarkan kesombongan dengan menumpuk harta. Akan tetapi Islam mengajarkan untuk berbagi dengan term zakat, infaq dan shadaqah. Bahkan Rasulullah menyampaikan pesan bahwa:

صوم شهر رمضان معلق بين السماء والارض ولا يرفع الا بزكاة الفطر

“Puasa bulan Ramadan itu digantungkan antara langit dan bumi dan tidak akan diangkat (diterima pahalanya), kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah”.

Hadits ini memberikan penegasan bahwa betapa pentingnya kita berzakat yang terkecil, yaitu zakat fitrah dengan mengeluarkan beras 2,5 Kg (+ Rp.30.000). Sebab zakat fitrah itulah yang menyambungkan pahala Ramadan kita. 

Dan patut dicatat, bahwa shadaqah menjadi salah satu tema khutbah Rasulullah Saw dalam khutbah ‘idul fitrinya. Oleh sebab itu, di pagi yang mulia ini kita bersama-sama berusaha untuk menjadi orang yang rajin mendermakan harta dan benda yang kita memiliki. Dengan usaha menjadi dermawan, maka secara otomatis kita mengharap sebagai orang yang kaya dan selalu ingat Allah dengan mendekat pada orang miskin. Rasulullah Saw bersabda:

اجتهدو يوم الفطر في الصدقة واعمال الخير والبر من الصلاة والزكاة

“Bersungguh-sungguhlah kamu sekalian pada hari berbuka (‘idul fitri) dalam bershadaqah dan melakukan amal-amal kebaikan dan kebajikan, berupa shalat dan zakat”.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kedua, kembali berpuasa. Bahwa agama Islam mengajak kepada umatnya selalu berbuat baik dan tidak berlebih-lebihan. ‘Idul fitri memang hari kita bersenang-senang. Satu Syawwal memang menjadi momentum perayaan kemenangan menghadapi keberhasilan puasa sebulan. 

Dan ‘idul fitri menjadi puncak kebahagiaan dengan sebutan “hari lebaran berbuka puasa”. Dan Allah juga melarang kita berpuasa di tanggal satu Syawwal sebagaimana sabda Rasulullah dari Sayyidatina ‘Aisyah:
الفطر يوم يفطر الناس، والاضحى يوم يضحي الناس

“Hari raya ‘id itu adalah hari berbuka bagi para manusia. Dan hari raya ‘idul adlha adalah hari menyembelih kurban bagi para manusia”.

Ketika kita diperbolehkan makan (berbuka), maka pada tanggal 2 hingga 7 Syawwal, Nabi Muhammad mensunnahkan menjalankan puasa kembali. Hal ini sebagaimana sabda Nabi:

من صام رمضان ثم اتبعه ستا من شوَّال كان كصيام الدهر كله

“Barangsiapa berpuasa bulan Ramadan, kemudian dia lanjutkan dengan enam hari dari bulan Syawwal, maka seolah-olah ia perpuasa satu tahun penuh”.

Betapa indahnya Islam mengatur ibadah bagi para pemeluknya. Setelah orang berpuasa satu bulan penuh, diberi kesempatan berbuka sehari dan ada amalan sunnah kembali enam hari berpuasa. Ini menandakan bahwa Islam ini selalu melatih umatnya untuk tidak berlebih-lebihan dalam makan. Termasuk menjaga kesehatan tubuh dengan cara banyak berpuasa.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Ketiga, menggandakan amal shalih. Kehadiran bulan Syawwal ini jangan sampai membuat kita larut dan merasa bebas. Bebas karena tidak perlu bangun sahur, tidak perlu tarawih, tidak ada qiyamul lail dan tidak ada buka puasa. Justeru Syawwal menjadi ujian sangat berat. Ibarat ukuran orang mabrur atau tidaknya haji dilihat dari sepulang dari tanah suci. Maka kemaqbulan puasa, dapat dilihat bagaimana kehidupan kita di bulan Syawwal hingga Sya’ban yang akan datang.

Oleh sebab itu, tugas hidup kita dalam menatap dunia dan akhirat ini masih sangat panjang. Oleh sebab itu, amal shalih yang menjadi ladang pahala kita perlu tingkatkan. Usaha beramal baik ini menjadi satu-satunya bekal kita kelak menghadap Allah. Sebab kita tidak tahu kapan akan menghadap Allah. 

Sepanjang nyawa masih ada, maka mari kita selalu berbuat baik pada siapapun. Jaga lisan kita dari berkata kotor. Jaga diri kita dari maksiyat dan dekatkan kita pada Allah dengan selalu berdzikir. Dan dekatkan kita pada Rasulullah dengan bershalawat.

Besok di hadapan Allah yang bersaksi atas apa yang kita kerjakan bukan mulut kita. Tapi tangan dan kaki yang akan bersaksi atas apa yang kita lakukan. Sementara mulut kita yang suka berbohong dikunci rapat-rapat. Allah berfirman salam surat Yasin ayat 65:

اليوم نختم على افواههم وتكلمنا ايديهم وتشهد ارجلهم بما كانوا يكسبون

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dan keempat, menjaga kerukunan dan kedamaian. Indonesia negeri kita tercinta ini sangat butuh umat Islam yang rukun dan damai. Di bulan Syawwal ini tangan kita rajin mengetik ucapan maaf lahir dan batin. 

Mulut kita tidak malu mengucap dan meminta maaf pada siapapun orang yang ada. Badan dan wajah kita bisa bergerak dan tersenyum manis mengucap salam dan maaf  hinggacipika-cipiki. Saatnya kebangkitan bangsa pemaaf dan pribadi pemaaf ini menjadi modal Indonesia yang damai dan rukun.

Jangan sampai keutuhan umat Islam di negeri ini kita cabik-cabik hanya persoalan adu domba. Kita patut waspada atas agenda menjadikan Indonesia sebagai Timur Tengah lanjutan yang selalu berkonflik antar golongan Islam. 

Kejadian bom Solo kemarin menjadi wujud nyata, bahwa masih ada saudara kita yang masih lemah jiwa kebangsaannya. Mari ajak saudara kita yang masih ingin mendirikan negara Islam dan menghapus NKRI untuk sadar. 

Sebab bangsa kita, bukan bangsa yang hobi perang, tapi bangsa kita bangsa yang cinta damai. Maka semangat “حب الوطن” patut kembali kita dengungkan kembali lewat peristiwa ‘idul fitri ini. Allah berfirman dalam Surat Al Hujarat ayat 10:

انما المؤمنون اخوة فاصلحوا بينةاخويكم واتقوا الله لعلكم ترحمون

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”

Demikian khutbah singkat ini kami sampaikan. Dengan semangat ‘idul fitri, mari kita tetap teguhkan bahwa hari-hari kita tetap terasa keramadanannya. Dan mari kita isi, 11 bulan ke depan dengan empat hal: rajin bershadaqah, rajib berpuasa sunnah, selalu berbuat baik dan cinta bangsa dengan kerukunan dan persatuan.

جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين والمقبولين كل عام وأنتم بخير. آمين
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
وسارعوا الى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والارض اعدت للمتقين
وقل رب اغفر وارحم وانت خير راحمين

Khutbah Kedua

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا اله الا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
الحمد لله الذى وحده صدق وعده واعز جنده وهزم الاحزاب وعده ولا حول ولا قوة الا بالله. اللهم فصل وسلم على سيدنا محمد صاحب كنز الرحمة وعلى آله وصحبه ومن والاه.
اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله.
 اما بعده،
 فيا ايها الحاضرون اتقوا الله، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.
 قال الله تعالى فى كتابه الكريم والعصر ان الانسان لفى خسر الا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر
 اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الاحياء منهم والاموات، اللهم اعز الاسلام والمسلمين واهلك الكفرة والظالمين. اللهم لا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا. اللهم اجعل بلدتنا اندونيسيا بلدة طيبة تجرى فيها احكامك ورسولك، برحمتك يا ارحم الراحمين. 
فيا عباد الله ان الله يأمر بالعدل والاحسان وايتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر

M. Rikza Chamami,
dosen Universitas Islam Negeri Walisongo dan Majelis Ulama Indonesia Kota Semarang
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini