Selasa, 05 Juli 2016

Keutamaan Ibadah Malam Hari Raya Hapuskan Catatan Dosa


DutaIslam.Com - Umumnya, di malam hari raya kita melihat masyarakat merayakannya dengan hati senang dengan berkumpul-kumpul, menghidupkan lampu indah atau kembang api, dan membakar lilin bagi anak-anak. Jarang terbesit dalam benak kita bahwa makam hari raya disunnahkan untuk dihidupkan dengan memperbanyak ibadah. 

Sebenarnya, malam hari raya termasuk malam yang memiliki banyak kelebihan, termasuk malam yang afdhal dimana siapa yang menghidupkan malam hari raya Allah akan menghidupkan hati mereka ketika banyak hati tengah mati. Yakni dimana manusia mencintai dunia dan enggan melakukan amalan akhirat karena mati hatinya, Allah menghidupkan hati orang-orang yang menghidupkan malam hari Raya, Allah memberikan kemudahan dalam beribadah, beramal akhirat bagi mereka-meraka yang menghidupkan malam hari Raya hal ini sebagaimana sabda Rasullah SAW.

وعن أمامة رضي الله تعالى عنه قال : مَنْ أَحْيا لَيْلَتي العِيدِ أَحْيا الله قَلْبهُ يَوْمَ تَمُوتُ القُلُوبُ.

Artinya: Barangsiapa menghidupkan malam hari Raya maka Allah akan mengidupkan hatinya pada hari dimana banyak hati yang telah mati. (HR. Imam Tabrani).

Selain itu, malam hari Raya termasuk juga salah satu malam yang diterima doa oleh Allah SWT. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Syafii:

بلغنا أنه كان يقال إن الدعاء يستجاب في خمس ليال في ليلة الجمعة وليلة الأضحى وليلة الفطر وأول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان

Artinya: Telah sampai riwayat kepada kami bahwa dikatakan doa dikabulkan pada lima malam, yaitu pada malam Jum`at, malam hari raya adha, malam hari raya fithri, awal malam bulan Rajab dan malam nishfu Sya`ban”.  [1]

Hal yang senada dengan hadis di atas berkaitan tentang lima malam tidak tertolak doa adalah riwayat yang menceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada pegawai beliau di Bashrah, Beliau mengirim surat kepada pegawai beliau di Bashrah.

عليك بأربع ليال من السنة فإن الله يفرغ فيهن الرحمة إفراغا أول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان وليلة الفطر وليلة الأضحى.

Artinya: “Lazimkanlah empat malam dalam setahun karena sesungguhnya Allah memenuhi padanya dengan rahmat Nya, yaitu awal malam dari Rajab, malam nishfu Sya’ban, malam ‘idul-fithri, malam ‘idul-adha”. [2]

Dari beberapa riwayat di atas sangat jelas bahwa malam hari raya termasuk malam yang lebih, maka sudah semestinya kita mepergunakan waktu pada malam hari Raya untuk beribadah kepada Allah dan berdoa, karena pada malam hari Raya adalah termasuk malam yang mustajabah doa. Mari kita menghidupkan malam hari raya, jangan salah mengartikan malam hari raya, sebagaimana sebagian orang salah mengartikan malam hari raya sehingga anjuran Rasulullah untuk beribadah dan berdoa malam hari raya ditinggalkan kosong dari amalan, padahal malam yang berkah penuh makna. 

Berikut adalah pendapat para ulama dan amalan mereka dalam menghidupkan malam hari raya berdasarkan petunjuk Rasulullah:

1. Shalat sunat
2. Berdoa, karena malam hari raya merupakan malam yang mustajabah doa.
3. Memperbanyak takbir dan tahlil, taqdis dan tahmid

Dalam satu hadits Rasulullah bersabda:

زيّنوا العيدين بالتهليل والتقديس، والتحميد والتكبير

Hiasilah dua hari rayamu dengan tahlil, taqdis (menyucikan Allah), tahmid dan takbir (H.R. ad-Dailami) 

Imam Zuhri berkata, Anas berkata bahwa Nabi berkata bahwa siapa yang mengucapkan pada malam dua hari raya:

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد يُحيي ويُميت، وهو حيّ لا يموت، بيده الخير وهو على كل شيء قدير

sebelum shalat hari raya, maka akan Allah nikahkan ia dengan 400 bidadari dan seolah-olah ia telah memerdekankan 400 budak, dan Allah akan memerintahkan kepada para malaikat untuk membangun kota baginya dan ditanamkan berbagai pepohonan hingga hari kiamat. 

Imam az-Zuhri berkata, saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengarnya dari Imam Anas, berliau berkata, saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengarnya dari Rasulullah. [3]

4. Istighfar
Imam al-Wanai mengatakan bahwa siapa saja yang beristighfar setelah shalat subuh 100 kali maka tidak akan tersisa dosa dalam buku catatannya. [4]

5. Mengucapkan selamat Hari Raya (Tahniah) dan saling mendoakan. [5]
6. Shalat Hari Raya

---------------------------------------------------------------------

1. Imam Syafii, al-Umm, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar al-Fikr, 2009) hal. 254 
2. Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami,  Kitab Ittihaf Ahl al-Islam bi Khushushiyat ash-Shiyam, (Maktabah Thaiyibah) hal 376 
3. Abdul Hamid Ibn Muhammad Ali Ibn Abdul Qadir, Kanzun Najah Was-Surur, hal 269. Cet. Darul Al-Hawi
4. Kanzun Najah Was-Surur, hal 269
5. Kanzun Najah Was-Surur, hal 271
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini