Sabtu, 18 Juni 2016

Persekutuan Idrus Ramli dan NU Gila


Oleh Ali Usman

DutaIslam.Com - Ini cerita tentang NUGL alias NU Gila: kelompok puritan yang “mencatut” Nahdlatul Ulama (NU) sebagai basis gerakannya. Klaim yang dikumandangkan adalah berusaha memurnikan dan meluruskan paham-paham keagamaan NU yang dianggap bengkok, menyimpang dari garis khitah pemikiran ahlussunnah waljama’ah via KH. Hasyim Asy’ari.

Di antara kegilaan yang dilakukan oleh NUGL tampak pada beberapa perkara, seperti yang dilakukan oleh beberapa juru bicara NUGL yang mencaci-maki tokoh-tokoh NU secara tidak beradab. Sebut saja, misalnya, yang dilakukan Idrus Ramli ketika menyebut alm. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Ibu Hj. Shinta Nuriyah sebagai orang sesat hanya karena pemikiran dan aktivitas sosial-keagamaanya berseberangan dengan keyakinan Idrus Ramli, yang (konon) oleh kalangan tertentu dijuluki “pendekar Aswaja”.

Kegilaan Idrus Ramli dalam mengkritik Gus Dur sebenarnya bukanlah suatu kesalahan fatal atau mungkin “dosa”, tetapi ini soal su’u al-adab, sama sekali tidak menunjukkan layaknya santri NU dalam menghormati kiai. Sebab sehebat-hebatnya, atau orang NU yang (sok) merasa pintar, tidak akan sampai menyesatkan orangtua, guru, kiai, apalagi sekelas Gus Dur yang tidak hanya dikagumi oleh internal NU, tetapi juga lintas golongan seantero dunia.

Keberanian Idrus Ramli yang bermental “gila” itu dengan menyesatkan Gus Dur, jelas tanpa beban jika kemudian mencaci-maki, mengkafir-kafirkan, dan menyesatkan tokoh-tokoh NU lain yang segaris atau pernah dibesarkan dari rahim ideologis Gus Dur, seperti KH. Musthafa Bisri, KH. Said Aqil Siraj, sampai pada Prof. Dr. Quraish Shihab. Lalu, apa sebenarnya motif kegilaan Idrus Ramli?

Menjawab pertanyaan di atas tentu tidak bisa dilepaskan dari peran ideologi dan basis dukungan dari balik layar. Idrus Ramli tidaklah sendiri. Tokoh kuat lain yang layak disebut dan bahkan pendahulu Idrus Romli dalam menyangkal pendapat-pendapat Gus Dur adalah KH. Luthfi Bashori dari Malang Jawa Timur, yang pernah belajar di Timur Tengah (Madinah dan Mekkah) tahun 1980-an.

KH. Luthfi Bashori, memang tidak setenar Idrus Ramli, tetapi keduanya “bersekutu”. Apa yang dilakukan oleh Idrus Ramli beserta mereka yang sepaham dengannya dalam menghantam tokoh-tokoh elite dan “panutan” NU, jelas merupakan cara-cara kasar di satu sisi, tetapi mungkin dianggapnya menuai berkah di sisi lain: popularitas. Ibarat pepatah Arab, bul ‘ala zamzam, kencingilah air zamam, maka engkau akan terkenal.

Selain popularitas, gerakan pemurnian pada umumnya, seperti yang dilakukan oleh Idrus Ramli mencerminkan haus kekuasaan. Tengoklah bagaimana kaum puritan di Indonesia, ketika memperoleh kekuasaan yang diberikan oleh rezim, pada akhirnya bungkam.

Ini juga bisa diamati tatkala Idrus Ramli dan KH. Luthfi Bashori tampil gagah perkasa mencalonkan diri sebagai Ketua PBNU pada Muktamar ke-33 di Jombang, dan berakhir tragis kalah oleh KH. Ma'ruf Amin sebagai pimpinan tertinggi NU (Rais 'Am), sedangkan Ketua Tanfidziyah PBNU tetap dijabat oleh KH. Said Aqil Siraj. Itulah sebabnya, atas kekalahan ini, kritik Idrus Ramli kepada terutama KH. Said Aqil Siraj semakin membabibuta, yang kemudian diikuti oleh kelompok lain yang kalah dan kecewa kepada kerja panitia dan pengurus PBNU yang baru.

Gerakan pemurnian yang dihembuskan oleh NUGL dengan demikian tidaklah murni persoalan paham keagamaan semata, tetapi juga menyangkut politik kepentingan. Kampanye pemurnian NUGL diuntungkan oleh perkembangan teknologi, yang dengan mudah dan massif memasarkan propaganda-propaganda lewat pemberitaan di media sosial. Website www.nugarislurus.com menjadi corong pengeras suara yang kemudian banyak disebarkan bahkan bertukar-informasi dengan media-media Islam radikal: FPI, MMI, HTI, dan lain-lain.

Kasus aktual baru-baru ini misalnya, NUGL lewat website-nya menyiarkan berita tentang pengusiran oleh ormas Islam tertentu dalam acara buka puasa Ibu Hj. Shinta Nuriyah bersama tokoh lintas agama di Semarang dengan frame yang cenderung “sinis” kepada istri alm. Gus Dur. NUGL menyebut penolakan acara itu dilakukan oleh NU Pudak Payung dan masyarakat setempat, Pemuda Muhammadiyah, FPI, MUI, HTI dan beberapa elemen lain yang mencapai 10 ormas Islam.

Padahal, fakta di lokasi tidaklah seheboh itu. Menurut sumber terpercaya di lapangan, acara buka puasa bersama itu memang sempat ditegur oleh FPI secara lisan lewat Polrestabes Semarang, lalu kemudian Romo Aloys Budi Purnomo selaku tuan rumah dipanggil dan pihak polisi menganjurkan untuk pindah tempat dari rencana awal yang semula di Gereja Ungaran.

Tentang siapa di balik NUGL tersebut, sampai saat ini masih menimbulkan teka-teki misterius. Yang tampak di permukaan, sebagaimana disebutkan oleh banyak media adalah Ustadz H. Luthfi Bashori dan Ustadz Idrus Romli sebagai pelopor lahir dan berkembangnya NUGL—meskipun masih menimbulkan ragam kejanggalan.

Pertama, penggunaan istilah “Ustadz”, sebenarnya tidak lazim di dalam tradisi NU, namun sering digunakan oleh kelompok-kelompok Islam Salafi atau dalam klasifikasi sosiologis di kalangan kelompok Islam modernis. Itulah sebabnya, media-media yang menokohkan kedua ustadz itu, tidak ragu mempopulerkannya sebagai strategi gerakan untuk memecahbelah internal NU.

Bahkan pencetus/pembuat sekaligus admin dari website http://www.nugarislurus.com adalah santri lulusan Persis (Persatuan Islam) yang sedang kuliah di UIN Jakarta, kemudian berhasil menjalin kerjasama dengan orang-orang NU yang vokal berbicara mengenai persoalan-persoalan agama terkait amaliyah NU, sehingga terjadilah simbiosis-mutualistis.

Kedua, istilah NU Garis Lurus dicetuskan oleh Ustadz H. Luthfi Bashori melalui situs pejuangislam.com. Dalam situsnya tersebut, Ustadz Luthfi secara jelas membuat tagline "Pejuang Islam - NU Garis Lurus - Melestarikan Kemurnian Ahlussunnah wal Jama'ah". Tetapi dalam pengakuannya, Ustadz Luthfi menolak dihubung-hubungkan dengan situs lainnya maupun fanpage facebook yang mengatas-namakan NU Garis Lurus.

Meskipun demikian, kita pun sebenarnya dapat memahami, hubungan NUGL (Idrus Ramli) dan Ustadz Luthfi terjawab dengan koalisi gagal total ketika hendak mencalonkan diri sebagai pucuk pimpinan NU di Muktamar Jombang. Dan menurut keterangan dalam website pejuangislam.com, Ustadz Luthfi sebagai penasehat FPI dan MMI, yang secara ideologi berseberangan dengan NU.

Apakah kemudian dengan fenomena Idrus Ramli dan Ustadz Luthfi itu sebagai orang-orang NU tulen, yang meski tampak anti-Wahhabi, tetapi mungkin ada hal lain dari ideologi itu yang bisa mereka terima, sehingga muncul kesan, mereka dan tokoh-tokoh lain yang sejalan dengan keduanya sebagai korban yang ditunggangi oleh kepentingan Wahhabi?

Inilah potret dari NU Garis Lurus, eh, NU Gila.

Ali Usman,
guru di salah satu pesantren di Yogyakarta

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini