Jumat, 06 Mei 2016

Justru Setelah Ada Sekolah, Bangsa Indonesia Merosot Pengetahuan Teknologinya. Ini Faktanya!


Pemikiran Pasca Hegemony VII: Menggali Mutiara Keunggulan Bangsa Dibawah Jejak Reruntuhan Kolonialisme Barat

Oleh K Ng H Agus Sunyoto

Tidak terima dengan pandangan Sufi Sudrun yang menyatakan lembaga pendidikan Barat secara sistematis membodohkan peserta didiknya, yang bermakna orang bersekolah menjadi tambah bodoh, Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D, minta dilakukan dialog terbuka pada Rabu pagi bakdal Subuh dengan tema “pendidikan sekolah, mencerdaskan atau  membodohkan manusia?”. 

Dengan ciri khas akademisi yang ‘mahatahu’, ‘mahabenar’, ‘mahajenius’, ‘mahakuasa’ yang tidak terkalahkan,yang berdiri di atas permadani ketidak-bersalahan, Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D, memaparkan bagaimana sistem persekolahan (schooling system) telah membuka cakrawala baru bagi bangsa Indonesia. 

“Andaikata tidak ada sekolah, bangsa kita pasti masih merayap di tanah dan bergelantungan di pohon atau paling tidak sangat-sangat primitif seperti terlihat pada film dokumenter ini!” kata Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D menunjuk layar LCD Player yang memutar film dokumenter berjudul Moeder Dao.

Sufi Sudrun bertepuk tangan sambil berkomentar,”Itu rangkaian film yang dibuat antara tahun 1913 sampai 1930. Itu jadi bukti kolonial betapa primitif dan tololnya inlander Hindia Belanda yang tidak sekolah.”

Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D, tersenyum. Sekejap kemudian berkata lantang,”Asal tahu, tahun 1909 tercatat dalam data orang Indonesia yang melek huruf baru 1%. Sedang yang 99% buta huruf. Padahal, tahun 1908 dinyatakan sebagai Kebangkitan Nasional. Siapa yang bangkit? Rakyat buta huruf yang 99% itu?”

“Interupsi professor!” sahut Sufi Sudrun menyela,”Darimana angka 1% melek huruf dan 99% buta huruf itu Anda peroleh?”

“Hasil sensus!”

“Hasil sensus?” tukas Sufi Sudrun menekan tinggi suara,”Apakah 99% yang buta huruf dari penduduk Indonesia saat itu termasuk di dalamnya para kyai, santri, haji, dan warga lulusan pesantren yang melek huruf Arab dan melek huruf pegon serta melek huruf Jawa? Apakah mereka yang bisa baca dan tulis al-Qur’an disensus sebagai warga buta huruf?”  

“Maksud saya, buta huruf latin.”

“Wahaha, kalau buta huruf latin, itu memang disengaja oleh golongan santri karena mereka tidak sudi belajar membaca tulisan penjajah. Jadi kalau bikin statemen harus jelas. Penduduk yang 1%  itu,  melek huruf latin. Yang 99% melek huruf Jawa, huruf pegon, huruf Arab, huruf Sunda, huruf Bali, huruf Bugis-Makassar, huruf Mandailing, dan lain-lain. Oke, lanjutkan!” kata Sufi Sudrun mempersilahkan.

Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D memaparkan bagaimana pendidikan sekolah telah mencetak berpuluh ribu sarjana, insinyur, magister, doktor, dan profesor yang menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan terpandang di dunia. Andaikata tidak ada sekolah, ungkap Prof Nafaq al-Bahluli, dapat dibayangkan Negara Indonesia akan tetap menjadi negara terjajah karena penduduknya bodoh, buta huruf, terbelakang, primitif, tidak modern, tidak mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi. 

“Siapa bilang pendidikan sekolah membodohkan manusia?” kata Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D menyindir,”Sungguh, tanpa pendidikan sekolah bangsa ini tidak pernah mencapai dunia modern seperti sekarang ini. Tanpa sekolah, orang di negeri ini hanya memakai sarung, baju takwa, kopiah, bakiak, dengan alas tikar, lampu minyak, dan kitab-kitab kuno dari abad pertengahan.”

“Apakah tanpa sekolah negeri ini akan primitif, tidak modern?” tanya Sufi Sudrun.

“Silahkan dilihat film Muder Dao itu sebagai bukti!” sahut Prof Nafaq al-Bahluli sinis.

“Menurut profesor, mulai kapan bangsa pribumi Hindia Belanda ini mengenal sekolah?”

“Tentu saja semenjak diterapkannya Etische Poliriek!”

“Tahun berapa itu prof?”

“Tahun 1901!”

“Ooo begitu ya,” Sufi Sudrun manggut-manggut,”Berarti sebelum tahun 1901 bangsa Indonesia ini primitif, bodoh, buta huruf, terbelakang, biadab, tidak berbudaya, tidak mengenal ilmu pengetahuan, dan teknologi karena tidak sekolah. Begitukah Prof?” 

Prof Nafaq al-Bahluli Ph.D diam seperti ragu-ragu untuk menjawab.

“Professor pernah baca catatan Wan Zen, pegawai di pelabuhan Sanghai pada abad ke-3 Masehi tentang kapal-kapal Kun Lun yang datang dari selatan yang memiliki ukuran 200 kaki (70 meter), tinggi geladak dari permukaan laut 30 kaki (10 meter), yang dimuati 700 penumpang dan mengangkut barang seberat 10.000 houw?”

Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D menggeleng.

“Professor pernah membaca perjalanan I Tsing ke India pada abad ke-5 Masehi yang menggunakan kapal berukuran sangat besar seperti yang dicatat Wan Zen, yaitu panjang 200 kaki dan dinaiki 700 orang?” tanya Sufi Sudrun.

“Perjalanan I Tsing saya pernah baca. Saat kapalnya terdampar di Jawa, I Tsing memesan kapal dengan ukuran yang sama, yang selesai dalam waktu lima bulan. Memangnya kenapa?” kata Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D heran.

“Menurut professor, kapal yang dibuat orang Jawa pada masa I Tsing abad ke-5 yang juga sudah dicatat Wan Zen abad ke-3 Masehi itu, apakah dibuat orang berpendidikan sekolah? Ilmu pengetahuan dan teknologi dari sekolahkah yang digunakan orang-orang Nusantara pada masa itu?” tanya Sufi Sudrun.

Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D terdiam.

“Maaf prof,” kata Sufi Sudrun minta penjelasan,”Pernahkah professor membaca catatan Portugis tentang kapal-kapal Jawa yang membawa beras untuk diperdagangkan ke India pada dasawarsa 1510 Masehi?”

“Tentu pernah.”

“Menurut catatan Portugis, berapa kira-kira ukuran kapal beras waktu itu?”

“Sekitar 800 ton.”

“Hmm kapal kayu dengan berat 800 ton?” Sufi Sudrun manggut-manggut,”Berarti lima kali lebih besar dari kapal Portugis.”

Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D diam.

“Saya pikir profesor sudah membaca kenapa kapal-kapal ukuran raksasa itu tiba-tiba menghilang dan tidak lagi berkembang?” kata Sufi Sudrun dengan nada tanya.

“Ya kapal-kapal raksasa itu sangat lamban sehingga sering dirampok Portugis. Berasnya dirampas untuk membayar upah prajuritnya,” kata Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D, “Lalu orang-orang Jawa membuat kapal yang lebih kecil agar dapat menghindar dan lari dari kejaran kapal Portugis yang menghadang.”

“Berarti orang-orang Indonesia yang tidak kenal pendidikan sekolah sudah memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, ya prof?” kata Sufi Sudrun menyindir.

Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D diam menarik nafas berat.

Sufi Sudrun melanjutkan pembicaraan menyangkut pengetahuan orang-orang Indonesia kuno yang di abad pertama Masehi sudah menciptakan sistem kalender surya sengkala (syamsiyyah) dan rembulan (candra sengkala) yang dikembangkan dan digunakan hingga saat sekarang ini. “Jika tahun 78 Masehi bangsa ini sudah memiliki kalender, apakah para sarjana, magister, doktor, professor didikan sekolah ada yang mampu membuat sistem kalender baru khas Nusantara?”

Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D diam tak menjawab.

Sejak abad ke-4 Masehi, ungkap Sufi Sudrun, orang Nusantara sudah mengenal aksara meski meminjam aksara Pallawa yang dilanjut aksara Dewanagari. Namun sejak abad ke-8 sudah tercipta aksara Jawa Kuno yang digunakan menulis prasasti-prasasti dan kitab-kitab. Setelah itu tercipta aksara Bali, Sunda, Batak, Bugis-Makassar, Lampung, aksara Jawi atau Pegon. “Apakah para sarjana, magister, doctor, professor didikan sekolah ada yang mampu menciptakan aksara khas Nusantara?” kata Sufi Sudrun dengan nada tanya.

Prof Nafaq al-Bahluli, Ph.D termangu-mangu dengan dada naik turun.

Pertengahan abad ke-7, Sufi Sudrun memaparkan, KUHP pertama Nusantara yang disebut Kalingga Dharmasashtra diterapkan. Pada masa Wisynuwardhana di paruh pertama abad ke-13 KUHP Kalingga disempurnakan dengan nama baru Purwadigama Dharmasashtra. Pada paruh pertama abad ke-14 Gajah Mada menyempurnakan Purwadigama menjadi Kutara Manawa Dharmasashtra. 

Di zaman Demak dibuat KUHP Angger Suryangalam. Di era Pajang dibuat KUHP Jugul Muda. Di era Mataram terdapat KUHP Angger Gunung, Angger Arubiru, Angger Pradata Dalem, dan lain-lain. Di era kolonial, penjajah Belanda membuatkan KUHP untuk pribumi inlander yang disebut HIR. “Nah di era kemerdekaan hingga sekarang ini, adakah sarjana, magister, doktor, professor didikan sekolah yang mampu mencipta KUHP Nusantara?” kata Sufi Sudrun bertubi-tubi. 

Prof Nafaq al-Bahluli diam kelihatan tertekan.

Sufi Sudrun tak sampai hati meneruskan pandangannya yang membongkar fakta keunggulan bangsa Indonesia sebelum mengenal pendidikan sekolah. Sufi Sudrun hanya menjelaskan bahwa semenjak mengenal pendidikan sekolah, bangsa Indonesia malah merosot dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Pendidikan sekolah terbukti belum mampu melahirkan seorang ilmuwan unggul yang memberikan sumbangan pengetahuan dan teknologi kepada bangsanya. Orang-orang didikan sekolah hanya mampu memposisikan diri sebagai “agen penyalur” ilmu pengetahuan dan teknologi Barat. 

“Jadi saya tidak merendahkan, melainkan mengungkapkan fakta betapa sejak belajar di sekolah bangsa kita tidak mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan seperti leluhur kita di masa lalu, sebaliknya hanya saling pamer gelar akademik, dengan kedudukan sebagai bangsa konsumen yang mengkonsumsi ilmu-ilmu dan teknologi Barat.” [dutaislam.com/ed]

Source: KBAswaja






Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini