Senin, 25 April 2016

Mantan Ketua DPR Kudus Pernah Jadi Ketua IKSAB TBS Pertama

DutaIslam.Com - Ikatan Siswa Abituren (IKSAB) adalah akronim yang diberikan KH Turaichan Adjhuri Kudus untuk penamaan keluarga alumni Madrasah Taswiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus. Lokasi sejarahnya adalah bangunan Madrasah Ibtidaiyyah (MI) TBS yang lama. Terjadi pada tahun 1965.

Hadir dalam acara pembentukan itu antara lain KH Mahsun, KH. Nur Badri Syahid, H. Shaleh Syakur, KH. Dahlan Nur, KH. Rodli dan lainnya. “Saya saksi hidup,” ujar KH Khoirozzad, di rumahnya, Langgar Dalem, Kudus Kota, Sabtu (22 April 2016).

Terpilih sebagai ketua pertama IKSAB adalah almarhum Kyai Shaleh Syakur (mantan ketua DPR Kudus era 60-an) yang dulu bermukim di Jl. Veteran Kudus. Ia adalah anak orang kaya yang saat belajar di TBS menyumbang i’anah 5 rupiah per bulan, setara harga seekor kambing sekarang.


Kala itu, kenang Kyai Zad, TBS belum dipasang listrik. Seragam sekolah pun masih bebas bersarung. Murid TBS kala itu hanya 25 orang satu kelas.

Kata Abituren diambil dari bahasa Belanda yang artinya alumni. Pemilihan kata tersebut untuk menghindari kata eks, yang, menurut KH Ahmad BA, -ayah mantan Wakil Bupati Kudus Abdul Hamid (alm), pengusul kata tersebut,- terkesan kurang etis sebagai penyebutan alumnus. 

Ada penyebutan eks Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) untuk mereka yang sudah tidak aktif di organisasi yang didirikan pada 1957 itu. Gerwani adalah komunitas yang masih memiliki hubungan kuat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Istilah mantan pun pada era 60-an belum dikenal. Kyai Ahmad yang asli Belanda tersebut mengusulkan kata Abituren ke Kyai Turaichan karena menghindari konotasi kepada Gerwani, walaupun makna yang terkandung sama (muradif) dengan kata eks atau mantan.

IKSAB juga dipilih sebagai sebutan karena menurut Kyai Turaichan nama tersebut mengandung semangat yang berarti “bekerjalah”. Dari bahasa arab aksaba – yuksibu –iksaban. Ada tabbaruk nama agar alumni tetap semangat dalam tempuhan menambah ilmu di manapun.

Pada prinsipnya, IKSAB waktu itu hanya menlanjutkan slogan Madrasah TBS “Memperbanyak Ilmu dan Mengurangi Kebodohan”. Prinsip tersebut tidak hanya dijalankan di madrasah, tapi dimana-mana dan kapan saja.

“Angkatan saya lulusan 63 setiap tahun reuni selama dua kali, pada bulan Rajab dan Muharram,” ujar Kyai Zad yang pernah menjadi Ketua IKSAB era 1970 awal menggantikan Shaleh Syakur melalui sistem izin penyerahan secara pribadi, dibantu oleh Kyai Hamid Arif. [dutaislam.com/badriologi]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini