Rabu, 06 Januari 2016

Jawaban Gus Dur Sering ke Makam Wali


DutaIslam.Com - Meminta nasihat kepada kiai sepuh atau datang ke makam para wali (terutama Walisongo) merupakan tradisi lazim di kalangan nahdliyyin (warga NU). Dalam hal ini Gus Dur malah termasuk "biang". Misalnya, tak lama setelah dilantik menjadi presiden pada Oktober 1999, ia langsung berziarah ke makam K.H. Ahmad Mutamakin di Pati, Jawa Tengah. Apalagi ia mengaku keturunan K.H. Mutamakin yang dikenal sebagai penyebar Islam esoteris (batiniah) yang hidup di zaman Raja Kartasura, Amangkurat IV dan Pakubuwono II.

Sungguhkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur semacam itu? Kelihatannya dia memang percaya sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela "ideologi"-nya ini. Menurut (alm.) K.H. Cholil Bisri (kakak Gus Mus), setiap memutuskan sesuatu yang penting, Gus Dur lebih banyak datang ke makam para wali daripada memohon nasihat kiai-kiai sepuh.
.
Ini sering membikin repot koleganya di PBNU. Pamannya sendiri, (alm.) K.H. Yusuf Hasyim (Pak Ud), termasuk yang paling kerepotan dengan metode pengambilan keputusan ala Gus Dur ini. "Susah berdiskusi dengan Durrahman ini," keluh Pak Ud pada masa Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU. "Dalam rapat, kalau kita tanya apa landasan keputusannya, dia bilang dia dapat ilhamnya dari mimpi atau dari makam .... Kita mau bilang apa?"
.
Gus Dur sendiri sudah hapal dan kebal terhadap keberatan semacam itu. Inilah tangkisan standardnya, "Saya datang ke makam karena saya nggak percaya sama yang hidup. Mereka yang mati itu sudah tak punya kepentingan."
.
Akhmad Musta'in: Benar sekali, Gus, selama masih hidup di dunia ini, orang susah sekali bisa hadir dalam ruang hampa kepentingan. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini