Tafsir Surat Al-Anbiya 32 - Fungsi Langit dalam Al-Qur'an
Cari Berita

Advertisement

Tafsir Surat Al-Anbiya 32 - Fungsi Langit dalam Al-Qur'an

Duta Islam #05
Senin, 03 Juni 2024
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
tafsir tentang langit dalam alquran
Ilustrasi Langit dalam Al-Qur'an. Foto: istimewa.


Oleh Nurul Masturoh


Dutaislam.com - Dalam Surat Al-Anbiya' ayat 32, Allah Swt berfirman:


وَجَعَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ سَقۡفٗا مَّحۡفُوظٗاۖ وَهُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهَا مُعۡرِضُونَ  


Artinya:

"Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya". (QS. Al-Anbiya': 32)


Kata ٱلسَّمَآءَ dalam bahasa Arab memiliki makna yang berarti "tinggi" atau "meninggi", mencerminkan posisi langit yang berada di atas kita, sesuatu yang tinggi, besar, dan melindungi, sesuai dengan pemahaman dalam budaya dan literatur Arab serta ajaran Islam.

 

Langit sebagai ciptaan-Nya yang sungguh menakjubkan juga berfungsi sebagai "atap yang terpelihara". Maksudnya, lapisan atmosfer bumi berfungsi sebagai pelindung bumi dari jatuhnya benda-benda luar angkasa yang sangat dimungkinkan jika tidak tertahan oleh atmosfer, maka akan berakibat kerusakan yang fatal di bumi.


مَّحۡفُوظٗاۖ yaitu mereka tidak memikirkan apa yang diciptakan oleh Allah yang begitu luas lagi besar dan tinggi menjulang serta apa yang menghiasinya berupa bintang-bintang yang diam dan beredar pada malam hari dan siang hari, beredar mengelilingi matahari yang menempuh (garis) edarnya secara sempurna satu hari satu malam. 


Dia menempuh perjalanan untuk tujuan yang tidak diketahui ukurannya kecuali oleh Allah Yang telah menentukan, menata dan memper jalankannya.


Begitu juga sinar ultraviolet yang karena terhalang oleh lapisan ozon yang dinamakan stratosfer, maka sinarnya menjadi bermanfaat bagi kehidupan di bumi. Sebaliknya, jika tidak ada stratosfer yang menghalangi maka bumi akan hangus terbakar.


Menurut temuan ilmiah, ungkapan "atap yang terjaga baik" menjelaskan dengan sempurna lapisan-lapisan pelindung di sekitar bumi. Bumi memiliki perlindungan atmosfir dengan keberadaan Sabuk Van Allen yang melindungi bumi dari dampak angkasa, memfilter sinar berbahaya sambil memungkinkan masuknya sinar dan gelombang penting bagi kehidupan. Sistem ini menyusun dan melindungi bumi dari bahaya luar.


Konsep tanda-tanda kebesaran Allah ini bekaitan dengan surah Al-Anbiya ayat 31, yaitu:


وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ


Terjemah:

"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk". (QS. Al-Anbiya: 31)


Allah menyampaikan tentang kekuasaannya meliputi semuanya, Allah menyampaikan tentang bagaimana Allah menciptakan dan menjadikan air sebagai sumber, bagaimana Allah memisahkan langit dan bumi yang dahulu bersatu dan menjadikan langit sebagai atap tanpa penopang yang terpelihara yakni terjaga agar tidak jatuh ke bumi. 


Menurut Imam Al-Farra', maksud dari kata terjaga disini adalah terjaga dari para setan yang ingin mencuri kabur berita dari langit. 


Di beberapa ayat sebelumnya fokus membahas tentang kekuasaan Allah dan orang orang yang tidak mengambil pelajaran melalui tanda-tanda yang Allah berikan lalu mereka berpaling setelah itu Allah tegaskan kekuasaan tersebut dengan kembali menyampaikan lewat firman-Nya di ayat 33 bahwasanya: 


Dia-lah Allah yang meciptakan malam sebagai waktu untuk beristirahat, menciptakan siang sebagai waktu untuk mencari rezeki. Dan matahari serta bulan sebagai sumber dari segala kehidupan dan pertanda adanya siang dan malam yang keduanya beredar digaris edar yang telah Allah tetapkan.mSetelah Allah SWT membahas tentang keesaan dan kekuasaan-Nya dalam menciptakan dan menghidupkan sesuatu pada beberapa ayat sebelumnya. 


Lalu diayat setelahnya, yakni diayat 34, Allah mempertegas bahwa betul Dialah Allah yang menguasai segalanya tidak hanya mampu menciptakan dan menghidupkan tetapi juga mampu mematikan dan melenyapkan apa yang telah diciptakan-Nya. 


Uslubun Nuzul 

Diriwayatkan dari ibnu mundzir dari ibnu Juraij, bahwa Nabi Muhammad Saw diberitahu bahwa ajalnya sudah dekat. Lalu beliau bersabda. "Ya Allah jika demikian siapakah yang akan mengurus ummatku". 


Maka turunlah ayat ini untuk menerangkan bahwa setiap manusia ataupun mahluk yang Allah ciptakan telah Allah tetapkan ajalnya meskipun itu seorang Rasul. Ini adalah salah satu pembuktian dari segi keadilan Akah yang memiliki sifat Al Adl yang maha adıl terhadap semua mahluk yang Allah Swt ciptakan. 


Menurut Asy-Sya’rawi, kata "الرَّوَاسِي" adalah bentuk jamak dari kata "رَاسٍ" yang bermakna "الْجِبَالُ" atau gunung-gunung. Kata gunung dalam Al-Qur’an terkadang disebut dengan redaksi kalimat "الْأَوْتَادُ" yang berarti paku atau pasak yang ditancapkan di atas bumi. 


Asy-Sya’rawi menerangkan bahwa langit disebut sebagai atap disebabkan ia menaungi apa yang ada di atas kita semua. Langit ciptaan Allah begitu indah dan menakjubkan bahkan tanpa adanya tiang sama sekali sebagai penyangga. Berbeda dengan buatan manusia, sebuah atap tidak mungkin dibangun tanpa adanya tiang penyangga.

 

Allah menjelaskan bahwa hikmah penciptaan gunung-gunung ialah agar manusia tidak goncang dan goyah bersama bergeraknya lapisan bumi. Sebagai gambaran, gunung-gunung diibaratkan seperti paku yang menyatukan lembaran-lembaran papan yang menjadikan satu dan yang lain semakin kuat. 


Langit sebagai ciptaan-Nya yang sungguh menakjubkan juga berfungsi sebagai "atap yang terpelihara". Maksudnya, lapisan atmosfer bumi berfungsi sebagai pelindung bumi dari jatuhnya benda-benda luar angkasa yang sangat dimungkinkan jika tidak tertahan oleh atmosfer, maka akan berakibat kerusakan yang fatal di bumi. 


Begitu juga sinar ultraviolet yang karena terhalang oleh lapisan ozon yang dinamakan stratosfer, maka sinarnya menjadi bermanfaat bagi kehidupan di bumi. 


Sebaliknya, jika tidak ada stratosfer yang menghalangi maka bumi akan hangus terbakar. Ketebalan stratosfer adalah 35 kilometer, dan terletak di atas troposfer dan di bawah mesosfer. Lapisan stratosfer berada di ketinggian sekitar 10 km di atas permukaan bumi dan mencapai ketinggian 45 hingga 50 km di atas permukaan bumi.


Menurut sains, Matahari memancarkan awan plasma ke angkasa dengan kecepatan 1.500 km/detik, terdiri dari proton dan elektron bermuatan. Awan ini, saat mendekati bumi, menghasilkan arus listrik di bawah pengaruh bidang magnet bumi, yang juga menghentikannya pada jarak tertentu. Meskipun terhenti, pengaruhnya masih terdeteksi, dapat merusak transformator dan jaringan listrik. 


Dalam ledakan bintik Matahari, energi yang dilepaskan dapat setara dengan seratus triliun bom atom Hiroshima. Efeknya, termasuk perubahan pada kompas dan peningkatan suhu di atmosfer. Angin Matahari, partikel Matahari dengan kecepatan lebih rendah, tidak membahayakan karena terkendali oleh Sabuk Radiasi Van Allen di bawah pengaruh medan magnet bumi. 


Sabuk Van Allen dibentuk oleh inti bumi yang mengandung logam magnetik. Inti ini terdiri dari dua struktur berputar, menciptakan medan magnetik yang melindungi bumi. Atmosfer juga melindungi dari dampak angkasa, memfilter sinar berbahaya sambil memungkinkan masuknya sinar dan gelombang penting bagi kehidupan. Sistem ini menyusun dan melindungi bumi dari bahaya luar. 


Tafsir Al-Misbah menjelaskan ayat ini dengan menjadikan langit di atas mereka sebagai atap yang tinggi. Kita melindungi langit agar tidak jatuh atau benda jatuh menimpanya. Namun mereka masih enggan mencari dan mempelajari ayat-ayat yang menunjukkan kekuasaan, hikmah dan kasih sayang Kami. 


Ayat ini mengatakan bahwa langit dan benda langit selalu dalam keadaan saling menjaga satu sama lain agar tidak jatuh ke bumi. Definisi utama langit adalah "segala sesuatu yang ada di atas kita", dimulai dengan atmosfer yang melindungi penghuni bumi dari berbagai benda luar angkasa –seperti meteorit, komet, dan sinar gamma– yang bisa jatuh ke permukaan bumi.  


Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah Swt menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara di atas bumi. Langit ini berfungsi seperti kubah yang menaungi bumi. 


Dalam penjelasannya, Ibnu Katsir mengaitkan ayat ini dengan ayat lain dalam Al-Qur'an, seperti QS Adz-Dzariyat ayat 47 dan QS Asy-Syams ayat 5, yang menyebutkan tentang pembangunan dan perluasan langit. Langit yang terpelihara ini juga dimaksudkan agar tidak runtuh atau menjatuhkan benda-benda yang ada di atasnya ke bumi. 


Tafsir Al-Qurtubi untuk Surah Al-Anbiya ayat 32 menjelaskan bahwa langit dijadikan oleh Allah sebagai atap yang melindungi bumi, serupa dengan atap rumah yang melindungi penghuninya. Langit ini dipelihara dengan baik sehingga tidak runtuh. 


Tafsir ini juga menekankan bahwa banyak orang, khususnya orang-orang kafir, tidak memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di langit seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang, padahal semua ini adalah bukti nyata kekuasaan Allah. 


Tanpa atmosfer yang dipertahankan Bumi melalui gravitasi, kehidupan di bumi tidak akan berfungsi dengan baik. Di atas atmosfer terdapat berbagai jenis benda langit dengan jarak antar mereka yang berbeda-beda. 


Oleh karena itu, makna "wa ja'alnâ al-samâ'a saqfan mahfûzhan" pada awal kalimat ini adalah atmosfer dan seluruh benda langit yang terlihat berada pada posisinya masing-masing di kubah langit dan tampak di depan mata sebagai jika mereka sudah berada di permukaan. 


Kubah langit secara horizontal tampak sangat besar, lebih besar dari luas vertikalnya. Gejala ini akan semakin terlihat saat Matahari terbit atau terbenam. Kemudian, bola Matahari tampak lebih besar dibandingkan bola matahari ketika berada di atas azimuth. 


Hal ini disebabkan adanya trik visual yang memungkinkan kita menentukan jarak horizontal jauh lebih akurat dibandingkan jarak vertikal. Kubah langit ini terdiri dari atmosfer yang menunjukkan karakteristik berbeda-beda tergantung ketinggiannya di atas permukaan bumi, bersama dengan benda langit lain yang terlihat.


Tuhan meminta manusia memperhatikan benda-benda langit yang diciptakan-Nya dengan tertib. Dan Kami ciptakan langit sebagai atap yang terpelihara, tanpa tiang-tiang, tetapi tidak roboh dan tidak terbentur. Namun mereka yang tertutup pikirannya, tetap mengabaikan tanda-tanda kebesaran Allah berupa matahari, bulan, angin, awan, dan sebagainya. Sehingga mereka masih belum beriman kepada Tuhan.


Dalam ayat ini Allah mengarahkan perhatian manusia kepada benda-benda langit yang diciptakan-Nya agar setiap orang dapat berjalan dan bergerak dengan tertib, tidak terjatuh atau terjatuh. Semua ini disatukan oleh gaya yang disebut "gravitasi" antara benda-benda langit, termasuk matahari dan bumi. Ini juga merupakan bukti nyata keberadaan dan kekuasaan Tuhan. Namun banyak orang yang tidak memperhatikan bukti ini.


Padahal, jika kita menaiki pesawat pada jarak 10.000 mil, kita akan melihat awan di bawah, hujan turun di bawah kita, oleh karena itu jelas bahwa bumi tertutup oleh langit yang sangat kuat dan atmosfer bumi serta zat-zat beroksigen yang masih dilindungi oleh manusia dan berbagai organisme hewan dan tumbuhan, dibatasi oleh kebangkitan langit yang sangat kuat.


Menurut para ilmuwan, ayat ini mengatakan bahwa langit adalah atap yang terpelihara. Seperti halnya atap, langit melindungi segala sesuatu yang berada di bawahnya, termasuk manusia. Berbeda dengan Bulan, karena tidak ada perisai, permukaan Bulan kita sangat tidak rata, penuh dengan kawah akibat tumbukan meteorit. 


Atmosfer bumi menghancurkan meteorit apa pun yang mendekati Bumi dan menyaring sinar berbahaya dari ledakan energi fusi Matahari. Atmosfer hanya memungkinkan sinar dan gelombang radio yang tidak berbahaya untuk melewatinya. 


Sinar ultraviolet misalnya. Cahaya ini hanya diperbolehkan menembus sampai batas tertentu yang mutlak diperlukan tanaman untuk melakukan fotosintesis dan dengan demikian bermanfaat bagi manusia. Di atmosfer terdapat perisai yang disebut sabuk radiasi Van Allen yang melindungi bumi dari benda langit yang bergerak menuju bumi. Oleh karena itu, langit berperan sebagai atap pelindung bagi makhluk di bumi.


Atap langit ini akan terus dipertahankan selama bumi masih ada, karena lapisan pelindung ini terikat dengan struktur inti bumi. Sabuk Van Allen merupakan hasil interaksi medan magnet yang dihasilkan inti bumi. Inti bumi banyak mengandung logam magnetis, seperti besi dan nikel. Inti sendiri terdiri dari dua bagian, yaitu inti dalam yang berbentuk padat dan inti luar yang berbentuk cair. Kedua lapisan ini masing-masing berputar mengikuti rotasi bumi. 


Rotasi ini menimbulkan efek kemagnetan pada logam-logam struktur bumi sehingga membentuk medan magnet. Sabuk Van Allen merupakan perpanjangan dari medan magnet yang meluas hingga lapisan terluar atmosfer.


Betapa ilmu dan hikmah Tuhan senantiasa melindungi ciptaan-Nya. Mengapa banyak orang yang tidak memahami hal-hal tersebut selalu berpaling dari kebenaran dan kuasa Tuhan, padahal tanda-tanda kekuasaan Tuhan di alam sudah begitu jelas. [dutaislam.com/ab]


Penulis: Nurul Masturoh


Referensi:

  • M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : Kesan-Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Volume 8, Jakarta : Lentera Hati, 2002
  • Yahya, The Qur’an Leads The Way To Science, Terj. Tim Penerjemah Hikmah Teladan, h. 96-98.
  • Stratosfer, Lapisan Ozon Yang Berfungsi Menyerap Sinar Ultraviolet,” accessed February 28, 2024, https://www.kompas.com/sains/read/2022/04/29/113000523/stratosfer-lapisan-ozon-yang-berfungsi-menyerap-sinar-ultraviolet/
  • Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2017) ), Jilid 5
  • Muhammad Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), Jilid 11


Jual Kacamata Minus

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB