Asbabun Nuzul Az-Zumar: 53 (Kisah Taubatnya Wahsyi)
Cari Berita

Advertisement

Asbabun Nuzul Az-Zumar: 53 (Kisah Taubatnya Wahsyi)

Duta Islam #05
Senin, 03 Juni 2024
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
ilustrasi anjuran taubat dalam alquran
Ilustrasi sebab nuzulnya Az-Zumar 53. Foto: istimewa.


Oleh Siti Robiatul


Dutaislam.com - Asbabun nuzul adalah konteks historis dan situasi tertentu yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat Al-Qur'an, yang memberikan pemahaman lebih mendalam tentang makna dan konteks dari wahyu tersebut. 


Surah Az-Zumar ayat 53 adalah salah satu ayat yang menonjol karena membawa pesan pengharapan yang sangat besar bagi umat manusia tentang ampunan Allah Swt. Ayat tersebut berbunyi:


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ


Artinya: 

"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Az-Zumar: 53)


Sebab Turunnya Ayat

Tentang sebab turunnya ayat ini antara lain telah disinggung dalam riwayat dari Imam Bukhari dan Muslim pada surah al-Furqan. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas yang berkata, "Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang musyrik dari penduduk Mekah". 


Imam al-Hakim dan ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Umar yang berkata, "Pada awalnya kami berpendapat bahwa seorang yang terperosok kembali ke dalam kekafiran setelah sebelumnya masuk Islam dan memahaminya maka tobatnya tidak akan diterima. Akan tetapi, ketika Rasulullah sampai di Madinah, terhadap orang-orang yang seperti itu diturunkan ayat ini".


Imam ath-Thabrani, dengan sanad yang di dalamnya ada kelemahan (cacat), meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata, "Suatu ketika, Rasulullah mengirim surat kepada Wahsyi, yaitu laki-laki yang dulunya membunuh Hamzah bin Abi Thalib, untuk menyerunya masuk Islam. Wahsyi kemudian menjawab surat Rasulullah, tersebut dengan mengatakan, "Bagaimana mungkin engkau menyeru saya (masuk Islam) sementara engkau menyatakan bahwa orang yang membunuh atau berzina atau mempersekutukan Allah akan mendapatkan dosa besar, dilipatgandakan baginya azab di hari kiamat kelak, dan kekal di dalam neraka dalam kondisi terhina. Sementara itu, saya telah melakukannya (salah satu dari kejahatan tersebut, yaitu membunuh Hamzah). Oleh karena itu, apakah saya akan mendapat ampunan?". 


Sebagai responsnya, Allah Swt lalu menurunkan ayat, "Kecuali yang bertobat dan beriman serta mengerjakan amalan shaleh..". Ketika mendengar ayat ini, Wahsyi berkata, "Ini adalah syarat yang berat, kemungkinan saya tidak akan bisa memenuhinya". Allah lantas menurunkan ayat yang berbunyi:


"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar" (QS. An-Nisa': 48)


Mendengar ayat ini, Wahsyi berkata, "Menurut saya, ujung ayat ini masih mengandung kemungkinan. Artinya, saya tidak tahu apakah saya kelak diampuni atau tidak. Apakah ada ayat yang lain?". 


Allah lalu kembali menurukan ayat, "Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya". 


Mendengar ayat ini, Wahsyi berkata, "Kalau dengan yang ini maka saya sepakat (menerima)”. Ia pun kemudian masuk Islam". 


Riwayat lain menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk menghibur semua orang yang telah melakukan dosa besar dan merasa tidak ada harapan untuk mendapatkan ampunan. Dengan turunnya ayat ini, Allah menegaskan bahwa rahmat-Nya sangat luas dan Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, yang siap mengampuni segala dosa apabila hamba-Nya bertaubat dengan tulus.


Tafsir Ibnu Katsir

Ayat 53 ini merupakan seruan kepada semua orang yang durhaka dari kalangan orang-orang kafir dan lainnya agar bertaubat dan kembali kepada-Nya, dan pemberitahuan bahwa Allah Swt mengampuni semua dosa bagi orang yang bertaubat kepada-Nya dan meninggalkan perbuatan-perbuatan dosanya, betapapun banyaknya dosa yang telah dia lakukan dan sekalipun banyaknya seperti buih di lautan. 


Tidak benar bila penafsiran ayat ini untuk pengertian selain taubat, karena dosa syirik itu tidak akan dia ampuni bagi orang yang tidak mau bertaubat dari kemusyrikannya. 


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa pernah ada segolongan orang dari kalangan orang-orang musyrik yang banyak membunuh dan banyak berbuat zina, lalu mereka mendatangi Rasulullah Saw dan berkata: "Sesungguhnya yang kamu katakan dan serukan itu benar-benar baik, sekiranya kamu menceritakan kepada kami bahwa apa yang telah kami perbuat ada kafaratnya". 


Maka turunlah firman-Nya: "Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)" (QS. Al-Furqan: 68). 


Lalu turun firman-Nya: (Katakanlah, "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah").


Makna yang dimaksud dari ayat pertama adalah firman-Nya: (kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh). (QS. Al-Furqan: 70).  


Tafsir Kemenag

Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasulullah agar menyampaikan kepada umatnya bahwa Allah yang maha pengampun, maha penyayang dan sangat luas rahmat dan kasih sayang-Nya terhadap hamba-Nya yang beriman, akan mengampuni segala dosa yang telah terlanjur mereka kerjakan seperti meninggalkan perintah-Nya atau mengerjakan larangan-Nya apabila benar-benar taubat dari kesalahan mereka. 


Banyak orang yang menyangka bahwa karena dosannya telah bertumpuk-tumpuk, tidak akan diampuni Allah lagi. Jadilah ia seorang yang berputus asa terhadap ampunan, rahmat, dan kasih sayang-Nya. Dunia sudah menjadi gelap menurut pandangannya karena selama ini dia tidak mengindahkan ajaran-ajaran agamanya dan selalu membelakangi petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya. 


Hatinya sudah penuh diliputi kekotoran dan kedurhakaan, tak tampak lagi olehnya jalan kebenaran dan kebaikan yang akan ditempuhnya. Dia telah dibingungkan oleh rasa putus asa dan tak ada harapan yang tampak olehnya untuk kembali dari kesesatan dan kemaksiatan yang selalu diperbuatnya. 


Tetapi Allah, meskipun besar dosa hamba-Nya, Dia tetap mengasihi dan menyantuninya dan melarangnya berputus asa terhadap rahmat dan kasih sayang-Nya, Dia tetap memandangnya sebagai hamba-Nya yang berhak menerima kasih sayang-Nya itu apabila ia telah menginsyafi kesalahannya dan memohon ampun kepada-Nya. 


Jangankan untuk orang-orang yang beriman, untuk orang-orang musyrik pun masih terbuka pintu tobat apabila mereka masuk Islam dan beriman kepada Allah dan rasul-Nya.


Hikmah Dan Pesan Penting dari Az-Zumar Ayat 53

  1. Sebuah undangan untuk tidak berputus asa dalam mencari ampunan dan kembali kepada-Nya dengan penuh keikhlasan. Ayat ini menegaskan bahwa tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Berputus asa berarti tidak mempercayai kebesaran Allah dan pengampunan Allah. Ini mengajarkan kita untuk selalu optimis dan yakin akan belas kasih Allah, meskipun kita telah melakukan kesalahan besar.
  2. Bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama hamba-Nya berusaha untuk memperbaiki diri dan bertaubat dengan sungguh-sungguh (kecuali dosa syirik). Ayat ini menegaskan bahwa Allah mengampuni semua dosa kecuali syirik. Ini memberikan harapan besar bagi setiap individu untuk kembali kepada jalan yang benar, karena tidak ada dosa yang tidak diampuni jika kita benar-benar bertaubat dan memperbaiki diri.
  3. Sifat Allah yang maha pengampun dan maha penyayang. Ayat ini menekankan dua sifat Allah yang penting, yaitu Al-Ghafur dan Ar-Rahim. Kedua sifat ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya untuk mengampuni dosa-dosa mereka.
  4. Rahmat Allah maha luas dan tidak terbatas. Ayat ini menegaskan bahwa rahmat Allah sangat luas dan mencakup segala sesuatu. Bahkan bagi mereka yang telah melakukan dosa besar dan melampaui batas, masih ada harapan untuk mendapatkan pengampunan dari Allah. Ini menunjukkan betapa luasnya kasih sayang dan rahmat Allah. 
  5. Motivasi untuk memperbaiki diri. Dengan mengetahui bahwa Allah mengampuni semua dosa, ayat ini memotivasi kita untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Kita diajak untuk tidak terus-menerus dalam kesalahan, tetapi segera beralih kepada kebaikan dengan keyakinan bahwa Allah akan menerima taubat kita. [dutaislam.com/ab]


Siti Robiatul, Mahasiswi Universitas PTIQ Jakarta


Referensi:

  • https://tafsirweb.com/8715-surat-az-zumar-ayat-53.html
  • https://www.alislamu.com/4390/asbabun-nuzul-surah-az-zumar/
  • https://dkmmasjid.pelitabangsa.ac.id/quran_digital/public/39/53/

 

Jual Kacamata Minus

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB