Menjawab Tuduhan Sesat Ajaran Akidah Sufisme
Cari Berita

Advertisement

Menjawab Tuduhan Sesat Ajaran Akidah Sufisme

Minggu, 03 Desember 2023
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
tuduhan sesat sufisme di zaman rasulullah
Ilustrasi Menjawab Tuduhan Sesat Akidah Sufisme. Foto: istimewa.


Oleh Afdila Fahma


Dutaislam.com - Pada awal mulanya, sufi merupakan orang yang mampu mengatur dan menyaring dirinya sehingga yang keluar dari anggota tubuhnya itu selalu baik, misalnya dalam berucap, dalam melakukan aktifitas maupun sikap dengan mulia. 


Arti kata sufi berasal dari bahasa Arab yaitu shoffa yang artinya membersihkan sesuatu yang kotor atau menyaring sesuatu yang kotor sehingga muncul yang bersihnya saja. Baca: Flashdisk Ebook Sufisme Lengkap 32 GB


Diantara orang-orang muslim sendiri banyak yang mengecam sufisme. Mereka memandang bahwa sufisme atau sufistik merupakan aliran dan gerakan yang bukan Islam, tidak pernah diajarkan maupun dipraktikkan oleh baginda Nabi Muhammad Saw, mereka juga menganggap sufisme adalah aliran sesat dan merugikan umat Islam. 


Tak hanya itu, tuduhan bahwa aktivitas tasawuf sebagai perbuatan tidak dibenarkan, tidak ada dalam syariat, sesat dan jauh dari al-Quran hadis, bahkan dituduh sebagai kafir.


Dalam membenarkan tuduhan-tuduhan negatif yang ditujukan pada sufisme ini telah dibuktikan yaitu pada masa Rasulullah Saw sudah ada kaum sufi yang disebut Ahl al-Suffah. Di antaranya adalah Abu Hurairah. Tentang Ahlus Suffah Abu Hurairah ra, mengatakan:


لَقَدْ رَأَيْتُ سَبْعِينَ مِنْ أَصحَابِ الصّفَّةِ مَا مِنْهُمْ رَجُلٌ عَلَيْهِ رِدَاءٌ إِمَّا إزَارٌ وَإِمَا كِسَاءٌ قَدْ رَبَطُوا فِي أَعْنَا قِهِمْ فَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ نِصْفَ السَّا قِيْنِ وَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ الْكَعبَيْنِ فَيَجْمَعُهُ بِيَدِهِ كَرَاهِيَةَ أنْ تُرَى عَوْ رَتُهُ


Terjemah:

"Saya melihat 70 orang dari ahl al-suffah, tidak seorang pun di antara mereka yang memakai rida‘ (Sejenis kain penutup bagian atas tubuh). Mereka hanya mengenakan sarung atau kisa' (potongan kain). Mereka mengikatkan potongan kain tersebut pada leher mereka. Ada yang menjulur sampai separuh betis dan ada yang sampai kedua mata kaki. Kemudian dia mengumpulkannya dengan tangan karena khawatir terlihat auratnya". 


Meskipun ada istilah tasawuf, sufi dan tarekat belum populer pada masa Nabi Muhammad Saw atau tasawuf belum menjadi ilmu. Namun dalam praktiknya telah dipraktikkan oleh Rasulullah Saw. Sikap-sikap mulia Rasulullah seperti asketisme, kesabaran, wara', istiqamah, tawakkal, uzlah, dll adalah sikap yang dilakukan oleh para sufi. Dengan kata lain, tasawuf bersinergis dengan ajaran Islam. 


Imam Malik ra juga mengatakan bahwa orang yang bertasawuf haruslah berusaha menjadi seorang yang juga mempelajari ilmu fikih (menjalani syariat). Beliau juga mengatakan orang yang hanya mempelajari Ilmu fikih, namun tidak mau menjalani tasawuf maka hatinya tidak dapat merasakan kenikmatan takwa. 


Dari ucapan-ucapan tersebut, para imam madzhab sudah tidak diragukan lagi keilmuan dan kehujjahannya, bahwa mereka telah memberi penegasan kalau syariat dan tasawuf semestinya harus diamalkan sekaligus.


Ilmu tasawuf tidak bertentangan dengan ajaran Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw. Bahkan Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah itulah yang menjadi sumber sufisme. 


Ajaran-ajaran tentang khauf, raja', taubat, zuhud, tawakal, syukur, sabar, rida, ikhlas, ketenangan dan lain sebagainya secara jelas diterangkan dalam Al-Qur'an. 


Dalam hadist pun banyak membicarakan tentang kehidupan rohaniah sebagaimana yang ditekuni oleh kaum para sufi setelah baginda Rasulullah Saw. Secara subtansial ilmu tasawuf bukanlah suatu disiplin ilmu yang sesat dan menyesatkan, sekalipun ada penyimpangan itu merupakan dari pengamalnya atau orangnya, jadi bukan tasawufnya. 


Usatdz wahabi Firanda Adirja sempat menjelaskan bahwa seorang sufi atau orang yang mendalami sufisme itu harus jelas thoriqahnya atau jalan yang diambil dalam membersihkan jiwa dengan menentukan ajaran dan aqidah apa yang akan diambil atau dipelajari. 


Seorang Sufi yang benar adalah orang yang mendahulukan akhiratnya daripada dunianya, namun jika sufi yang mempunyai akidah yang bertentangan dengan syariat maupun sunnah Rasulullah Saw semisal thoriqoh sufi meyakini nabi Muhammad masih hidup, sudah jelas sufi ini adalah sufi yang tidak dibenarkan dan merupakan ajaran sufisme yang salah.


Tasawuf atau sufisme selalu istiqamah bersama Allah SWT dan harmonis dengan makhlukNya. Menurut Imam Al Ghazali, siapa saja yang istiqamah bersama Allah SWT, berakhlak baik terhadap orang lain dan bergaul dengan santun, maka ia adalah seorang sufi. [dutaislam.com/ab]


Afdila Fahma, tinggal di Gresik, Jawa Timur


Jual Kacamata Minus

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB