Iklan

Iklan

,

Iklan

Ingin Hidup Mulia, Nikahilah Janda Kaya!

30 Okt 2023, 05:09 WIB Ter-Updated 2023-11-12T22:20:54Z
peristiwa hijrahnya rasulullah ke madinah
KH. Ali Masrukhin (kanan) saat menyampaikan materi dalam Tahdzib Siroh Nabawiyah PC MDS Rijalul Ansor Jepara Zona I, di Ponpesnya, Nailul Muna, Kalipucang Wetan, Welahan, Jepara, Ahad (29/10/2023) malam. Foto: dutaislam.com


Dutaislam.com - Di Makkah, perjuangan dakwah Rasulullah Saw mengalami banyak hambatan dari golongan kafir Quraish. Meski sudah menikah dengan Sayyidah Khadijah yang kaya raya dan berpengaruh, hinaan tetap diterima oleh Rasulullah Saw. 


Indahnya, Rasulullah Saw tidak pernah membalas. "Itupun hanya sedikit saja yang mengikuti Rasulullah Saw," demikian ungkap KH. Ali Masrukhin, saat menyampaikan materi bertema "Hijrah dan Peperangan di Masa Rasulullah Saw" dalam Tahdzib Siroh Nabawiyah (TSN) yang digelar oleh PC MDS Rijalul Ansor Jepara di Pondok Pesantren asuhannya, Nailul Muna, Kalipucang Wetan, Welahan, Jepara, Ahad (29/10/2023) malam. 


Setelah sekian lama di Makkah, Rasulullah Saw memutuskan hijrah ke Yasrib atau Madinah, bersama para sahabatnya. Di Madinah, Rasulullah Saw disambut oleh para sahabat Anshor. Mereka inilah yang disebut Al-Qur'an sebagai as-sabiqunal awwalun (para pendahulu Islam paling awal).


"Barang siapa membenci Anshor, akan dibenci Allah. Tapi bukan GP. Ansor sekarang, melainkan para Anshor (penolong) di zaman Rasulullah," ungkap Sekretaris PC MDS Rijalul Ansor Jepara tersebut, didampingi moderator Ustadz Abdullah Nurul Hafidh. 


Untuk membangun peradaban, lanjut Masrukhin, Rasulullah Saw membangun masjid, lalu pasat dan kemudian pemerintahan. Masjid adalah lambang agama dan ulama', pasar sebagai pusat perekonomian dan bentuk pemerintahan dibangun sebagai langkah strategis menata peradaban lebih baik. 


Bangunan awal di Madinah itulah yang menurut Kiai Masrukhin ditiru oleh Indonesia. Buktinya, hampir setiap kota terdapat masjid agung, yang disampingnya dibangun pasar, pendopo lalu alun-alun. Baca: Larangan Mengarang Silsilah Nabi Muhammad Hingga Nabi Ibrahim.


foto bersama peserta tahdzib siroh nabawiyah zona 1
Foto bersama setelah rangkaian materi Tahdzib Siroh Nabawiyah PC MDS Rijalul Ansor Jepara selesai digelar di Ponpes Nailul Muna, Kalipucang Wetan, Welahan, Jepara, Ahad (29/10/2023) malam. Foto: dutaislam.com.


Menurut alumnus Ponpes Ploso Kediri tersebut, masjid adalah simbol ilmunya para ulama' (ilmul ulama'), pasar sebagai simbol kedermawanan (sakhowatul aghniya'), pendopo simbol harapan adilnya para pejabat (adlul umaro') dan alun-alun sebagai simbol doa para orang fakir (dua'ul fuqoro'), dimana keempat unsur tersebut harus dibangun secara seimbang demi kehidupan yang lebih baik, sebagaimana dicitakan Rasulullah Saw saat hijrah ke Madinah. 


"Sayangnya, kadang alun-alun sekarang bukan hanya digunakan sebagai tempat menggelar istighostah dan doa bersama, tapi digunakan untuk kemaksiatan pula," ungkap Kiai Masrukhin. Baca: Nur Muhammad: Makhluk yang Pertama Kali Diciptakan oleh Allah Swt


Dia mengungkap, hidupnya Islam (hayatul Islam) adalah dengan ilmu dan harta. "Nek pengen mulyo, luru rondo sugih (kalau ingin mulia, carilah janda kaya). Kalau sudah merasakan janda, carilah gadis. Tirulah Rasulullah," tandasnya, disambut tawa peserta. [dutaislam.com/ab]


Iklan