Iklan

Iklan

,

Iklan

Propaganda Gincu Untuk Kamar RSU Anugerah Sehat Jepara

31 Jul 2023, 17:57 WIB Ter-Updated 2023-08-15T10:51:23Z

propaganda rsu anugerah sehat jepara
Ilustrasi kamar Rumah Sakit yang sudah jadi. Foto: istimewa.

Dutaislam.com - Bahagia terasa saat melihat kampanye antusiasme sejumlah pihak akan mendonasikan untuk kamar RS(N)U Jepara. Sampai Ahad, 25 Juni 2023 kemarin, tercatat sudah 57 kamar terbooking dalam varian jenis, baik kamar standar biasa seharga 70 juta, atau kamar UGD seharga 200 juta.


Antusiasme wakaf kamar sampai 50 kamar, setidaknya sudah membuka peluang RS (bukan) NU itu menjadi rumah sakit tipe D. Tipe sebuah rumah sakit paling kecil yang cukup perijinannya di level kabupaten, dengan kuota 50 kamar. 


Untuk perbandingan, RS PKU Muhammadiyah Mayong misalnya, adalah rumah sakit dengan tipe C yang memiliki sedikitnya 100 kamar dengan beragam kelas dan instalasi khususnya. Luas tanah 6.612 meter dan luas bangunannya 2.900 meter.


Bagaimana dengan RS (bukan) NU yang sedang berproses pembebasan lahan dan mengawali groundbreaking besok 1 Juli 2023? 


Luas tanah yang digotong royongkan untuk dibebaskan dengan dalih wakaf seluas 15.740 meter. Sebuah lahan yang 2.5 kali lebih luas jika dibandingkan RS PKU Muhammadiyah bertipe C, tapi bagi RS (bukan) NU Jepara hanya cukup menargetkan menjadi tipe D. 


Luasnya lahan untuk pembebasan itu membutuhkan biaya 10.2 milyar yang sampai kini masih "kedodoran" pelunasannya. Bagaimana tidak, sejak disepakati dalam Muskercab 1 pada 17 Juli 2022 sampai 26 Juni 2023 sekarang ini, terkumpul 6.7 milyar. Artinya, ada kekurangan biaya sebesar 3.4 milyar. 


Jika diperhatikan dari kurangnya dana sebesar 3.4 milyar, berasal dari target yang sampai saat ini belum terpenuhi. MWCNU Nalumsari misalnya, tempat sejumlah petinggi PCNU berada, baru menorehkan 11 persen atau 49 juta dari 442 juta yang ditargetkan. Demikian juga MWCNU Mayong, sampai data terakhir masih bertahan 0 persen. 


Tak hanya itu, MWCNU Kedung juga baru 17 persen dari 474 juta yang ditargetkan. MWCNU Jepara sebagai pusat percontohan karena pusat dari markas besar PCNU Jepara, bahkan masih sebatas 29 persen dari 442 juta. MWCNU Welahan, Batealit, atau Pakis Aji misalnya, masing-masing di bawah 50 persen dari targetnya.


Ironisnya, sejumlah badan otonom dan lembaga bahkan lebih miris. GP Ansor Jepara baru menyumbangkan 8 persen dari target 650 juta. Kinerja GP Ansor masih menunjukkan iktikad baik dibandingkan RMINU, LKKNU, Lakpesdam NU, LBMNU, LTMNU, LPBINU, PMII, termasuk KBIHNU, SARBUMUSI. Barisan organisasi tersebut masih pada angka 0 persen atau 1 meter tarif wakafpun belum terpenuhi. 


Sebagian khalayak NU Jepara sudah mengetahui bahwa selama ini, dana talangan untuk membebaskan lahan dipinjam dari dana sejumlah BMT yang tergabung pada Askowanu. Tidak dapat terbayangkan bagaimana rasanya jika terjadi rush money para nasabah sekaligus anggota BMT tersebut. Suatu kondisi semua penyimpan dana secara serentak beramai-ramai mengambil dananya dari BMT anggota Askowanu. Ambyar tentunya.


Tanggungan 3.4 milyar tentu persoalan serius, setidaknya bagi Kemin Soplo Kere Kere yang tersebar dari Donorojo sampai Nalumsari. Terlebih, dana yang masuk tentu tidak semuanya untuk pembebasan lahan sebagaimana peruntukannya, karena acara groundbreaking saja dengan percaya diri menghadirkan 2.000 orang yang dengan sejumlah persiapannya mungkin bisa menelan kisaran 500 juta. 


Bagaimanapun juga, kemin soplo kere kere tak perlu susah ikut berfikir. Lunas atau tidaknya pembebasan lahan, toch bisa diambilkan dari donasi yang sudah ikrar 57 kamar. Urusan ke depan depannya masih kurang anggaran, yang penting masih banyak "orangku". [dutaislam.com/ab]


Ditulis di Jepara, 26 Juni 2023 | Penulis: Kemin Soplo Kere Kere


Iklan