Iklan

Iklan

,

Iklan

Menyebut Anak Syarifah Bukan Dzurriyah Nabi, Bersiaplah! (15)

8 Jun 2023, 00:40 WIB Ter-Updated 2023-06-07T17:40:45Z
kitab allimu auladakum ahla bait
Cover Allimu Auladakum Mahabbata Ali Baitin Nabi. Foto: istimewa.


Oleh KH. Ali Badri Masyhuri


Esai ini adalah sambungan dari esai ke-14 berjudul: Menggugat Dosa Non Sayyid Menikahi Syarifah 


Dutaislam.com - Kita melanjutkan pembahasan tentang hadits:


كل بني آدم ينتمون إلى عصبة إلا ولد فاطمة فأنا وليّهم وأنا عصبتهم


Terjemah:

"Semua anak Adam itu bernisbat pada kelompok mereka, kecuali anak Fathimah maka akulah wali mereka dan akulah kelompok mereka".


Yang dimaksud 'ushbah atau kelompok adalah tradisi Arab dalam berkelompok berdasarkan marga atau garis ayah. Al-Imam Al-Haitsami menyebut hadits ini dha'if sekali, sehingga tidak boleh dijadikan hujjah. Anehnya, hadits seperti ini justru banyak dimuat dan dishahihkan dalam kitab-kitab kaum Syi'ah. Status lemah yang saya maksudkan hanya terkait dengan sanad, belum berbicara soal matan atau konten.


Secara sanad sudah jelas bermalasah, lalu bagaimana dengan matannya? Kalau kita mengamati hadits-hadits sebelumnya, jelas hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits sebelumnya itu. Dalam kaidah ilmu hadits, hadits shahih sekalipun akan menjadi dha'if apabila matannya bertentangan dengan matan hadits yang lebih lebih shahih.


Baca: Doktrin Sesat Kafa'ah Nikah Ba'alawi di Indonesia (12)


Baiklah, anggap saja hadits ini shahih secara sanad, bahwa Rasulullah SAW benar-memang benar pernah bersabda seperti itu. Lalu apa betul maksud hadits ini seperti yang mereka pahami?


Pertama, secara gramer, kalimat كل بني آدم ينتمون إلى عصبة itu disebut jumlah khabariyah (kalimat yang menunjukkan kabar), yakni Rasulullah SAW mengabarkan bahwa orang-orang menisbatkan diri mereka pada kelompok keluarga ayah. 


Kalau ini adalah kabar, tentu orang-orang yang dimaksud adalah bangsa Arab, karena bangsa lain banyak yang biasa menisbatkan pada kakek yang lebih terkenal walaupun dari jalur ibu. Misalnya di Madura, kalau ada yang bertanya siapakah Kiai Abdullah Sachal itu, semua orang Madura pasti menjawab "cicit Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan", padahal beliau itu cicit dari garis perempuan. Bahkan ada tradisi sebagian suku di Indonesia yang justru menisbatkan diri pada ibunya, bukan pada ayahnya. 


Nah, "jumlah khabariyah" itu tidak bisa diubah artinya menjadi "kata perintah" kecuali ada dalil yang shahih. Maka kalimat كل بني آدم ينتمون إلى عصبة tidak boleh diartikan "semua anak Adam harus bernisbat pada kelompok ayahnya", atau "semua anak Adam tidak boleh bernisbat pada ibunya", atau "semua anak Adam tidak boleh mengaku keturunan kakek dari ibunya". 


Justru kalau dibelokkan menjadi kata perintah seperti itu malah bertentangan dengan hadits أنا ابن العواتك من سليم dan hadits ابنُ أُخْتِ القَوْمِ منهمْ yang telah kita bahas pada esai sebelumnya (Menggugat Dosa Non Sayyid Menikahi Syarifah).


Lalu bagaimana dengan kalimat berikutnya, yakni إلا ولد فاطمة? Ketika kalimat sebelumnya adalah jumlah khabariyah, maka kalimat inipun jumlah khabariyah juga. Artinya Rasulullah SAW mengabarkan bahwa keturunan Siti Fathimah selamanya akan merasa dan menyebut sebagai keturunan beliau, dan memang itulah yang terjadi, semua keturunan Siti Fatimah hingga kini lebih dikenal sebagai keturunan Rasulullah SAW, bukan sebagai keturunan Abu Thalib.


Kedua, kalau seandainya hadits ini shahih, bahwa Rasulullah SAW benar-benar pernah bersabda seperti itu, ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah SAW masih meragukan orang Arab walaupun sudah masuk Islam. Beliau khawatir mereka belum bisa meninggalkan paham jahiliyah terkait keturunan garis perempuan, kemudian mereka menganggap Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain bukan cucu beliau. 


Maka hadist itu bermaksud begini: "Silakan saja kalau kalian tetap bersikeras untuk menisbatkan anak hanya pada ayahnya, tapi jangan lakukan itu pada anak-anak Fatimah, mereka adalah anak-anakku, akulah wali mereka dan akulah 'usbah mereka". 


Sepertinya Rasulullah telah meprediksi bahwa nanti akan banyak orang yang masih berpegang dengan tradisi jahiliyah, dan itu benar-benar terjadi di kemudian hari, yaitu ketika musuh-musuh Sayyidina Hasan dan sayyidina Husain sampai berani membunuh beliau berdua, karena mereka menganggap Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain sebagai putra Sayyidina Ali atau cucu Abu Thalib, bukan sebagai putra Siti Fatimah atau cucu Rasulullah SAW. 


Baca: Konflik Imigran Yaman Membuat Umat Islam Pribumi Terganggu (11)


Jadi, garis perempuan yang putus nasab adalah tradisi Arab yang telah menelan korban, dan korbannya adalah kedua cucu Rasulullah SAW. Seandainya Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain tinggal di Jawa, maka semua orang Jawa akan menganggap beliau sebagai cucu Rasulullah SAW, karena tradisi Jawa tidak membedakan antara cucu garis laki-laki dan perempuan.


Belum yakin kalau orang Arab zaman itu banyak yang menganggap Saiyyidina Hasan dan Sayyidina Husain bukan cucu Rasulullah SAW? Tahukah kenapa Raja-raja Dinasti Abbasiyah merasa lebih berhak menjadi Raja (khalifah) daripada keturunan Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain? Karena mereka menganggap Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain itu bernisbat pada Sayyidina Ali, bukan pada Rasulullah SAW, sedangkan dinasti Abbasiyah bernisbat pada Sayyidina Abbas yang merupakan pamannya Sayyidina Ali. 


Jadi, Bani Hasyim sendiri saat itu masih banyak yang menganut paham jahiliyah yang memutus nasab dari garis ibu, dan yang menjadi korban dari paham itu adalah keturunan Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain.


Ada cerita menarik dalam dialog Harun Ar-Rasyid, Raja dinasti Abbasiyah, dengan Imam Musa Al-Kazhim. Terlepas soal keshahihan ceritanya, di situ ada penjelasan yang sangat logis. Ceritanya, Harun Ar-Rasyid bersikeras bahwa Imam Musa Al-Kazhim bukan cucu Rasulullah SAW karena nasab beliau ke Rasulullah melalui garis perempuan, yaitu Siti Fathimah. 


Baca: Menyoal Klaim Sanad dan Ilmu Thariqah Ba'alawi (10)


Harun Ar-Rasyid tidak puas dengan dalil Al-Qur'an yang menyebut Nabi Isa sebagai keturunan Nabi Ibrahim walaupun melalui garis ibu, yakni Siti Maryam. Maka Al-Kazhim pun berkata: "Wahai Amirul Mukminin, seandainya Rasulullah SAW melamar putri Anda, apakah anda terima lamaran itu?"


Harun Ar-Rasyid menjawab: "Tentu saja aku terima, bagaimana mungkin aku menolak lamaran Rasulullah SAW?"


Al-Kazhim pun berkata: "Kalau saya tidak akan menerimanya?"


Harun Ar-Rasyid bertanya dengan terkejut: "Kenapa?"


Al-Kazhim: "Karena putri saya adalah mahram Rasulullah".


Harun Ar-Rasyid pun tercengang menyadari satu hal, yaitu bahwa semua keturunan Siti Fatimah adalah mahram bagi Rasulullah SAW, yang perempuan tidak batal wudhu' dengan beliau, yang laki-laki tidak batal wudhu' dengan Siti Fatimah dan Siti Khadijah, walaupun beberapa leluhur yang menyambungkannya dengan siti Fatimah adalah perempuan semua. 


Terlepas soal status sebagai ahlulbait terkait dengan wakaf, larangan menerima zakat dan lain-lain, kalau ada orang yang ayahnya adalah anak fulanah binti fulanah binti fulanah binti Syarif fulan Al-Husaini, orang itu tidak batal wudhu' dengan Siti Fathimah dan Siti Khadijah.


Jadi, garis perempuan putus nasab itu hanya tradisi Arab saja, bukan ajaran Islam, sehingga ketika di Arab banyak orang yang menyatakan garis perempun putus nasab, maka banyak ulama besar yang langsung menentang, seperti Sayyid Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, pengarang kitab "Syaraful Asbath". Umat Islam hendaknya bisa membedakan mana tradisi Arab dan mana yang ajaran Islam.


Baca: Ba'alawi Sering Menyepelekan Riwayat Nasab (9)

 

Di Indonesia berbeda, tradisi bangsa ini kebanyakan memasukkan keturunan garis perempuan dalam daftar keluarga. Makanya dari dulu para kiai tidak perlu repot-repot menulis bab ini. Saya pun menulis ini karena Rabithah Alawiyah sering bikin masalah dengan "membuang" syarifah dan anak-anaknya karena ayah mereka orang pribumi atau non sayyid. Selama ini, Rabithah Alawiyah ditakuti oleh para kiai sehingga semena-mena memaksakan pendapat mereka yang lemah itu.


Dulu Rabithah Alawiyah "menyerang" saya dengan sengitnya karena saya memasukkan keturunan garis perempuan dalam daftar keluarga Walisongo. Ketika berdiskusi dengan pihak Rabithah Alawiyah yang diwakili oleh Habib Abdullah Maulakhelah, saya menjelaskan hal ini sebegai berikut:


"Kita ini hidup di negeri orang, kalau kita mengaku orang Arab berarti kita numpang di negeri ini. Jadi kita harus menghormati budaya orang Indonesia. Orang Indonesia tidak membeda-bedakan keluarga dari garis laki dan perempuan. Semua adalah keturunan kakek buyut yang sama dan saling menganggap keluarga. Coba begini, ibu antum syarifah juga tidak? Dari marga apa?"


Habib Abdullah: "Ibu saya dari marga Bin Yahya".


Sayapun berkata: "Baik, kalau ada pertemuan keluarga Bin Yahya dan antum tidak diundang maka antum tidak akan sakit hati, karena budaya antum memang begitu, antum tidak merasa keluarga Bin Yahya walaupun antum cucu Habib Yahya dari garis ibu. Tapi kalau orang Indonesia, misalnya ada pertemuan keluarga Bani fulan kemudian yang keturunan garis perempuan tidak diundang maka mereka akan marah-marah, mereka akan bilang "aku juga cucu mbah fulan, kok aku tidak diundang? 


"Jadi saya juga mencatat keturunan Walisongo dari garis perempuan itu karena hal tersebut. Lagi pula, Rasulullah SAW mewajibkan kita untuk mempelajari nasab dengan tujuan silaturrahim. Dalam Islam, rahim itu keluarga, tidak ada bedanya antara garis laki maupun garis perempuan, semua harus disambung silaturrahim. Nah, salah satu cara silaturrahim adalah mencatat, maka pentingnya mencatat keluarga itu sama antara mencatat keluarga yang garis laki dan garis perempuan. Dengan demikian berarti budaya kami didalam mencatat keluarga memiliki kelebihan dibandingan budaya antum yang dibawa dari Arab, yang hanya mencatat garis laki-laki".


Baca: Kebohongan dan Fitnah Robitoh Alawiyah Terkait Keturunan Walisongo (6)


Yang terakhir, mari kita gunakan nurani dan logika. Kalau ada orang memiliki nasab pada Sayyidina Abbas dengan garis laki-laki, berarti dia Abbasi dan Rabithah Alawiyah pasti menyebutnya sebagai ahlulbait (keluarga Rasulullah SAW). Sedangkan anak syarifah yang ayahnya adalah orang Sunda tulen dianggap bukan ahlulbait. 


Seandainya Rasulullah SAW, Siti Fathimah dan Siti Khadijah masih hidup, siapa diantara dua orang itu yang bisa cium tangan Siti Fathimah dan Siti Khadijah? Si Abbasi atau anak syarifah? Yang mana di antara keduanya yang cucu Rasulullah? Mungkinkah Rasulullah SAW lebih menerima si Abbasi dan berkata pada anak syarifah itu "kamu bukan cucuku karena ayahmu orang Sunda"? Jawablah menggunakan nurani dan akalmu.


Ketika saya berdiskusi dengan Kiai Maimun Zubair, waktu itu beliau hanya tahu nasab beliau yang garis perempuan ke Sunan Gunung Jati, beliau pun berkata sambil tertawa kecil: "Saya dari garis perempuan, jadi tidak masuk..". 


Sepertinya beliau khawatir ada tentangan dari orang yang suka memutuskan nasab garis perempuan. Saya pun berkata sambil tertawa: "Kiai, cucu antum dari putri antum, apakah antum tega menyebutnya bukan cucu antum?" Kiai Maimun hanya tertawa. Saya pun melanjutkan dengan berkata:


ورسول الله أرحم منا


Terjemah:

"Dan Rasulullah itu lebih penyayang daripada kita". 


Kalau kita saja tidak akan tega membuang cucu kita karena ayahnya orang luar, apalagi Rasulullah SAW. Beliau adalah orang yang paling penyayang pada keluarganya.


Baca: Akibat Ba'alawi Tidak Adil Kepada Dzurriyah Walisongo (1)


Kiai Maimun pun tertawa lebar mendengar perkataan saya itu. Diskusi itu disaksikan oleh banyak orang, termasuk KH. Abdur Ra'uf bin Maimun Zubair dan KH. Mas'udi Busyiri (pengasuh Pesantren An-Nur Bululawang, Malang) yang menemani saya waktu itu.


Jadi, kalau ada orang menyebut anak syarifah bukan dzurriyah Nabi SAW, siap-siaplah untuk berhadapan dengan datuknya di yaumil mahsyar. Katakan pada beliau bahwa dia bukan dzurriyah beliau. Beranikah? 


Bersambung...[dutaislam.com/ab]


Keterangan:

Tulisan ini adalah serial esai KH. Ali Badri Masyhuri berjudul "Menyikapi Konflik Habaib dan Keluarga Walisongo" (15) yang dimuat pada 25 Mei 2023. 


Iklan