Ki Joko Tirto, Waliyullah di Karimunjawa Suami Nyai Nur Azizah
Cari Berita

Advertisement

Ki Joko Tirto, Waliyullah di Karimunjawa Suami Nyai Nur Azizah

Duta Islam #01
Senin, 06 Maret 2023
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
makam wali di karimunjawa mbah joko tirto
Kompleks Makam Ki Joko Tirto dan Nyai Nur Azizah di Desa Karimunjawa, Jepara. Sumber foto: Joko Isfandi, Karimunjawa.


Oleh M. Abdullah Badri


Dutaislam.com - Nama Ki Joko Tirto tidak banyak dikenal luas oleh penduduk Pulau Karimunjawa, Jepara. Padahal, makamnya ada dan bersebelahan persis arah Timur Laut dari makam istrinya, Nyai Nur Azizah (Mbah Jah atau Mbah Jijah). Status kompleks tanah makam masih merupakan milik desa, dimana tumbuh Pohon Randu besar merindang di atasnya, dan dekat dengan makam Mbah Danang Joyo.  


Sosok Ki Joko Tirto berbadan tinggi, kekar dan berkulit gelap khas pelaut pesisir pantai. Ada kemiripan dengan foto Patih Gajah Mada yang beredar di internet itu. Terkesan kuat, ulet, pekerja keras dan tak pantang menyerah. Baca: Mbah Amiruddin Hamzah, Cikal Bakal Desa Potroyudan Jepara.


Sementara itu, Nyai Nur Azizah sosoknya berpipi manis kemerahan, bertubuh makmur, supel (mudah bergaul) dan selalu berkedurung putih agak longgar. Ia tidak suka dipanggil Mbok Jah atau Paijah, karena identik dengan penjual kacang godok asal Madura di zamannya. 


Sosok perempuan seperti tergambar di atas memang pernah dijumpai oleh Margono, Juru Kunci Makam Mbah Joyo saat ini. Di kompleks makam yang sama, Margono juga pernah ditemui Pangeran Syarif. Empat kiai dari Pati yang pernah tirakat dzikir di sana pun pernah dijumpai sosok yang mengaku bernama Mbah Shidiq. Tentang profil keduanya, masih memerlukan penelusuran lebih lanjut. Simak video dari juru kunci Margono di bawah ini:



Ki Joko Tirto adalah putra dari Mbah Jumeneng, asal Demaan (sekarang Jepara Kota). Sementara itu, Nyai Nur Azizah adalah anak ke-6 dari Kiai Hasan Mahfud yang makamnya ada di Desa Mlonggo (kemungkinan nisannya sudah hilang termakan usia). Nyai Nur Azizah muda bertemu tanpa sengaja dengan Ki Joko Tirto Jumeneng. Ceritanya, Kiai Hasan Mahfud adalah seorang tokoh agama di Mlonggo dan seorang kenalan baik Mbah Joko Samudro, musafir asal Banten yang makamnya ada di Cumbring, Jepara Kota. Kisah Mbah Joko Samudro, silakan baca: Mbah Jaka Samudra (Lelono), Wali Musafir Banten Pejuang Islam di Jepara.


Atas saran Mbah Samudro, Kiai Hasan Mahfud mengenalkan Nur Azizah kepada Joko Tirto, yang ayahnya (Mbah Jumeneng) juga kenalan baik Mbah Samudro. Awalnya, Nur Azizah hendak dijadikan anak angkat. Tapi, seiring waktu, Joko Tirto ternyata lebih tertarik menjadikannya istri. Daripada dinikahi oleh penyembah pohon, lebih baik dinikahi sendiri. Itulah alasan Ki Joko Tirto Jumeneng mengambil istri Nyai Nur Azizah. Selisih umur keduanya terpaut 9 tahun. Saat menikah, Nur Azizah berusia 12, dan umur suaminya 21 tahun. 


Untuk menambah pengalaman dan mengobati penasaran, kedua pasutri menuju Pulau Karimunjawa. Tak disangka, mereka justru menemukan kenyamanan bertempat tinggal di pulau tanpa kuasa raja tersebut. Padahal saat itu penduduknya masih sedikit dan dominan asal Madura beragama Hindu-Budha atau pemuja bebatuan (Arab: autsan [الأوثان]). Sekampung hanya dihuni 50an keluarga dan dipimpin oleh lurah yang dijuluki Ki Jogo Satru (Penjaga dari Bahaya). 


Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai seorang putra saja. Namanya Ragil. Istri yang memiliki ketaaan besar kepada suami biasanya memiliki tabiat mudah hamil. Demikian menurut ilmu titen ala Nyai Nur Azizah. Namun, karena anak yang lahir langsung diberi nama Ragil, Allah Swt. memberinya anak tunggal saja, sesuai arti namanya. 


Ragil sempat hidup hingga akan menikah dengan wanita asal Madura. Tapi, Nyai Azizah menolak halus pilihan putranya tersebut, dengan tujuan: agar ia tidak mengikuti keyakinan agama calon istrinya, Hindu-Budha. Orang Madura lah yang pertama mengajarkan tradisi lamaran pengantin dengan Pendok, sejenis penyu berkulit mulus. Hingga sekarang, tradisi menyembelih Pendok masih dijalankan sebagian warga Karimunjawa jelang pernikahan. Tradisi dari Madura yang dulu ada di Karimunjawa tapi sudah hilang adalah Balapan Sapi. 


Digambarkan, Pulau Karimunjawa saat itu dikelilingi banyak kuburan Cina. Kini, hampir sulit ditemukan bekas kuburan Cina di Karimunjawa, kecuali sudah berada di bawah laut (sudah tenggelam akibat pendangkalan pesisir pantai). Dulu banyak sekali warga daratan Cina yang hijrah ke Karimunjawa untuk bertahan hidup. Namun, akibat gesekan sosial dengan warga keturunan Madura, orang-orang Cina terusir hingga mereka menemukan tanah baru di Pulau Kalimantan. Ada yang hijrahnya sampai ke Singkawang dan Pontianak, lalu beranak-pinak di sana, sampai sekarang. 


Berdagang dan Berguru Kepada Datuk Subuh

Untuk menghidupi keluarga, Ki Joko Tirto Jumeneng menjaring ikan di laut. Setiap bulan ia juga kulakan 8 karung goni ikan tawar ke Sidigede, di tambak payau milik seorang kiai bernama Datuk Subuh. Jika mengandalkan angin, perjalanan pergi-pulang kulakan dari Karimunjawa ke pesisir Jepara di Welahan itu memakan waktu sepekan penuh. 


Baca: Mbah Suto Margo (Datuk Subuh Sidigede, Jepara), Pendakwah Asal Aceh


Bila angin laut berbelok dan fisik mendukung, Ki Joko Tirto cepat-cepat menurunkan layar kapal lalu mengayuhnya dengan tangan. Bila badan fit, sehat dan tidak sedang malas, dia hanya butuh tiga hari perjalanan pergi-pulang Jepara-Karimunjawa, bergantian dengan dua santrinya asal Madura yang setia menemani. 


Baginya, menjual ikan tawar ke Karimunjawa adalah bisnis yang menguntungkan. Tidak banyak orang Karimunjawa yang saat itu bisa memperoleh ikan tawar. Harganya mahal. Sekilo bisa dibayar 4 ndil. Dari bisnis inilah keduanya bisa membangun rumah keluarga senilai 3 keceng/iket. Sekarang mungkin nilainya ratusan juta rupiah. Baca: Mbah Juminah, Saudagar Asal Tlare, Istri Kiai Amir Hasyim Mantingan, Jepara.


Ki Joko Tirto benar-benar memanfaatkan waktunya untuk menimba ilmu agama saat bertemu Datuk Subuh di Desa Sidigede, yang kemudian diajarkan kepada para 35 muridnya di Karimunjawa. Bila ada perkara sulit yang perlu dipecahkan soal apapun, tidak jarang Ki Joko Tirto diajak sowan Datuk Subuh ke Datuk Jokosare Ngabul. 


Di Karimunjawa, Nyai Nur Azizah memang meneruskan jejak perjuangan sang ayah sebagai kiai. Di Mlonggo, sebelum menikah, ia biasa dipanggil "diajeng", sebutan mulia bagi anak kiai saat itu. Hanya berbekal kitab fiqih berbahan kulit binatang dari abahnya Kiai Hasan Mahfud, ia mengajarkan amaliyah-amaliyah ibadah dan akhlak kepada 21 muridnya. 


Banyak sekali orang yang berhasil dimuallafkan oleh Nyai Nur Azizah saat berada di Karimunjawa. Termasuk 12 anak remaja keturunan Madura yang sering meminta makan ke rumahnya. Diantara muridnya ada yang bernama Mbah Kinang. 


Gara-gara beristri seorang ibu nyai ahli tutur dan ceramah, suaminya, Ki Joko Tirto, pernah ditolak warga saat mencalonkan diri sebagai Ki Jogo Satru (istilah sekarang: lurah atau petinggi). Padahal, secara kemampuan dia lolos kualifikasi. Buktinya, fisik kuatnya bisa digunakan untuk menghadapi 10 lawan sekaligus. Jin yang memiliki tangan di ubun-ubun kepala pun pernah dia lawan. Maklum, waktu itu Karimunjawa memang lebih banyak dihuni makhluk gaib daripada makhluk dhahir, manusia dan binatang. Nyai Nur Azizah lah yang selalu menjadi kontrol sifat galak Ki Joko Tirto Jumeneng. 


Kini, Karimunjawa lebih ramai penduduk, dan mayoritas beragama Islam. Namun, bagi Ki Joko Tirto, cara berislam manusia sekarang dianggap kurang sip (kurang mendalam). Kepada warga Karimunjawa, Nyai Nur Azizah menyampaikan pesan, antara lain:


  1. Ojo angkoro murko, eling anak turunmu, ojo mbok entek-entekno saiki! Kukupen anakmu karo agomo, dadiyo Singo sing ngerti agomo! (Jangan angkara murka, ingat keturunanmu, jangan kau habiskan sekarang! Rengkuhlah anakmu dengan agama, jadilah Singa yang paham agama!)
  2. Lati iku iso jogo ati, rogo lan sukmo. Ngendalikno lati iso kendali ati, rogo yo kejogo. (Lisan itu bisa menjaga hati dan sukma. Mengendalikan lisan bisa mengontrol hati, raga pun terjaga). 


Bila Ki Joko Tirto menyukai wirid Sholawat Ummi, Nyai Nur Azizah lebih memilih wirid Sholawat Jibril. Menurutnya, orang yang membiasakan bersholawat Jibril memiliki lima keutamaan, yakni: 1). Hatinya terjaga, 2). Raganya terjaga, 3). Keturunannya terjaga dan didoakan 1000 malaikat, 4). Akan diberi minuman pertamakali dari Telaga Kautsar milik Rasulullah, dan 5). Masuk ke surga di urutan pertama bersama golongannya. 


Kepada para perempuan, Nyai Nur Azizah berpesan agar menjadi sholihah dan menerima penuh pemberian sang suami. Dengan begitu, ia akan diberi anugerah tubuh makmur, minimal berpipi menter-menter (berisi) yang tidak akan kelewat saat suami hendak menciumnya. Selain itu, perempuan muslimah harus berkerudung walau berbahan klaras/daun pisang kering (apa adanya). 


Nyai Nur Azizah Wafat Lebih Dulu

Nyai Nur Azizah wafat cantik di usia 63 tahun pada Malam Jumat waktu Lintang Jagasatru usai kacapekan menyalami para santri yang datang ke rumah untuk Halal Bihalal Hari Raya Idul Fitri (Riyoyo) Bulan Syawwal. Ia meninggalkan suaminya, yang wafat menyusul pada Selasa di Bulan Rajab waktu Lintang Alang-Alang dengan usia lebih sepuh, yakni 85 tahun. 


Mereka berdua wafat saat Dajjal belum muncul di akhir zaman. Bagi Nyai Nur Azizah, Dajjal (si Jahat Bermata Kincer) akan terpental bila memaksa menjejakkan kakinya di tanah Jawa. Alasannya, banyak para wali Allah yang dimakamkan di sepanjang pesisir laut Jawa. 


Baca: Kiai Pakisaji Potroyudan, Ulama Pejuang dan Guru Waliyullah Ahmad Hasyim


Orang yang hidup di Jawa tidak perlu bernafsu dikuburkan di Makkah bila alasannya ingin aman dari fitnah Dajjal. Jawa sudah dijaga para wali Allah, yang wafatnya sangat memberkahi. Jawa menjadi wilayah yang disayangi Rasulullah Saw. Alasannya: banyaknya umat Islam yang beriman kuat kepada Allah dan Rasul-Nya, padahal jaraknya sangat jauh dari sumber datangnya Islam. Posisi Jawa ada Timur Jauh (aqshal masyriq) dan manusianya tidak mengerti Bahasa Arab. Taatnya orang Jawa sungguh luar biasa. 


Demikian profil singkat pasangan waliyullah Ki Joko Tirto bin Jumeneng dan Nyai Nur Azizah binti Hasan Mahfud, Karimunjawa. Untuk keduanya, mari kirimkan bacaan Surat Al-Fatihah! [dutaislam.com/ab]

 

Baca: Mbah Joyo Rekso Laduni, Sang Penjaga Pusaka Nyai Ratu Kalinyamat Jepara 

Terjemah Hikam Athaillah

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB