Tumenggung Cendol, Serang Belanda dengan Petir ala Ki Ageng Selo
Cari Berita

Advertisement

Tumenggung Cendol, Serang Belanda dengan Petir ala Ki Ageng Selo

Duta Islam #01
Jumat, 20 Januari 2023
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
makam dan sejarah tumenggung cendol
Tengah: Makam Tumenggung Cendol, Margoyoso, Kalinyamatan, Jepara. Foto: internet.


Oleh M. Abdullah Badri


Dutaislam.com - Setidaknya ada 9 (sembilan) makam waliyullah di Kompleks Pemakaman Islam Tumenggung Cendol yang terletak di Desa Margoyoso, Kalinyamatan, Jepara. Diantaranya adalah Mbah Srigi, Mbah Margo Tiyoso (Suto Margo) dan Mbah Rawit (Rasto Gendok). Empat diantara mereka ada waliyah perempuan (Mbah Sulastri, Sutinah, Sukirah dan Lasmi), dan semuanya masih kerabat dekat maupun jauh. Paling disegani adalah Tumenggung Cendol? Berikut kisah singkatnya.


Tumengung Cendol bernama asli Rekso Karsono bin Karyo Duwiryo. Ia lahir di daerah ngisor (bawah) Gunung Merapi, Yogyakarta. Saat itu, daerah kelahiran Mbah Cendol belum dikenal dengan sebutan nama desa tertentu, laiknya sekarang. 


Ia masih keturunan Ki Ratimah, seorang laki-laki keturunan Jawa asal Purwodadi yang merupakan murid Ki Ageng Selo. Mungkin, karena faktor genetik itu, di kala lahir, Rekso Karsono bayi sudah memiliki keistimewaan seperti gurunya Ki Ratimah, Ki Ageng Selo. Apa itu? Banyaknya petir menyambar-nyambar tanpa hujan di depan rumah orangtuanya. 


Di waktu belia pun, Rekso Karsono sering terkena petir berkali-kali saat main di sawah. Tapi, dia selalu selamat. Ia sangat suka memeras air Nira (Legen) dan memburu Keong untuk disate bersama teman-temannya. 


Yang unik, di kedua tangan Rekso Karsono selalu ada petir jika dia sedang marah kepada siapapun, tanpa bisa mengontrolnya. Hal itu ia dapat tanpa tirakat. Karena itulah, sejak muda, ia memiliki kemampuan sebagai pawang hujan. Dia memiliki kepiawaian bersahabat baik dengan makhluk bernama petir seperti Ki Ageng Selo. 


Wajahnya mirip orang Madura. Tutur bahasa Jawanya halus khas Keraton Yogyakarta. Tapi dia tegas, setegas alis matanya yang meruncing ke atas mirip logo sepatu Nike, serta kumis yang meruncing ke bawah, lengkap dengan sorjan hitam yang mengikat kepalanya dan baju lurik hitam-putih di badannya. 


Rekso Karsono menikah dengan Nyi Rasimah (asal Pati), yang kemudian melahirkan tiga orang anak laki-laki semua. Yakni: Gandik (menikah dengan orang Jawa Barat, dan memiliki 7 anak), Kanthil (anak paling sakti, dan syahid terkena barang bunder [bom Belanda] tanpa meninggalkan keturunan), dan terakhir, Kencono (menikah setelah Rekso Karsono wafat, dan tidak memiliki keturunan). 


Ketiga putranya sengaja dinamai persis nama-nama perhiasan atau bunga, dengan harapan: semua anaknya kelak harum dan indah seperti bunga dan perhiasan. Ia pindah ke Jepara, di daerah yang sekarang disebut Margoyoso. Diangkatkatlah ia sebagai Tumenggung, jabatan tinggi dan berpengaruh setingkat daerah kabupaten yang membawahi beberapa kademangan. 


Saat menjadi tumenggung inilah, Rekso Karsono mendapatkan julukan Tumenggung Cendol. Pasalnya, ia suka sekali minuman hasil air perasan daun Cendol yang bisa merambat itu. Saking sukanya, ia sering mengutus putra terakhirnya (Kencono) ke daerah Pati dan Rembang untuk membeli daun Cendol terbaik, hingga Kencono pun mendapatkan jodohnya dari Pati. Pada masa ini, Pati, Kudus dan Rembang sudah tidak masuk wilayah Jepara lagi.


Abdi dalemnya pun ada yang ditugaskan khusus membuat cendol. Namanya Sukinah, asal Cirebon, Jawa Barat. Sukinah lah yang biasa memeras air daun Cendol untuk dimasak dan diramu jadi minuman enak untuk Tumenggung Cendol Rekso Karsono.  


Sejak kecil hidup Rekso Karsono penuh kemiskinan. Sejak menjadi tumenggung, ia merasakan enaknya rezeki Allah Swt. di dunia. Merasakan jadi orang kaya. Bila air legen jadi minuman favoritnya dikala belia, di waktu dewasanya, cendol jadi kesukaannya. Jadi, cerita menghabiskan cendol sebagai taruhan untuk menjadi tumenggung, perlu dikoreksi.


Senjata Petir Melawan Belanda

Ia didaulat sebagai Tumenggung karena kesaktiannya sebagai pengendali petir ala Ki Ageng Selo. Saat itu, setiap tumenggung (jabatan prestisius tinggi bukan dari keturunan bangsawan) haruslah sakti dan memiliki banyak pasukan perang. Belanda menaruh takut kepadanya karena ia sering memberontak. 


Diceritakan, saat menjadi tumenggung di Jepara, Rekso Karsono kerap melawan pasukan berambut pirang-ikal berpakaian abu-abu kusam (Belanda) yang mulai serentak melemahkan para penguasa yang memberontak Belanda, dengan serangan petir kanan-kiri di tangannya. Petir itu selalu muncul tanpa kontrol bila ia marah atau bertemu musuh; kompeni Belanda. 


Meriam peluru yang kala itu disebut tank (karena bentuknya seperti tong dan cara menyalakannya dengan uceng), biasa diserbu pasukan Tumenggung Rekso Karsono dengan petir menyambar-nyambar. 


Untuk mengontrol petir di tangan, Tumenggung Cendol diberi ijazah sholawat oleh guru ngajinya, yang dia panggil "Mbah Kiai", yakni Kiai Srigi. Amalan shalawat yang dihapal Tumenggung Cendol adalah Sholawat Nariyah. Selain shalawat, Kiai Srigi memerintahkan Tumenggung Cendol agar selalu membaca Al-Qur'an untuk melembutkan hatinya, biar emosinya terkontrol dan petirnya terkendali. 


Bagi Tumenggung Cendol, "orang yang mudah marah perlu dikoreksi cara baca Qur'annya". Alasannya, pembaca Al-Qur'an hatinya pasti dilembutkan oleh Allah Swt. dan tidak akan sombong. Menurut ajarannya, ilmu yang didapatkan karena belajar dari Al-Qur'an akan senantiasa turun ke anak-cucu. 


Tumenggung Cendol menerapkan perintah sang kiai. Ia belajar keras melancarkan bacaan Al-Qur'annya. Diantara murid Mbah Kiai Srigi yang paling lama belajar Al-Qur'annya adalah Tumenggung Cendol. Maklum, saat ngaji Al-Qur'an, ia sudah berusia sepuh. Tapi, atas ijin Allah, Tumenggung Cendol berhasil membaca Al-Qur'an secara fasih hingga khatam 40an kali, meski saat membaca harus repot menyalakan alat penerang dari Buah Lerak yang disate (agar nyala bertahan lama) dan harus tetap memegang mushaf besar dengan dua tangan (supaya tidak jatuh). 


Meninggal Sebagai Syuhada'

Atas saran Kiai Srigi, suatu kali, di tengah kecamuk Perang Jawa yang meluas, Tumenggung Rekso Karsono menerapkan strategi perang ala Rasulullah Saw. di Perang Khandak. Bersama pasukannya, ia menggali parit melingkari wilayah perbatasan. Sekarang, jejak parit itu jadi sungai Cipluk. 


Itulah alasan mengapa sungai tersebut tidak ada mata airnya, dan sekarang mati. Itu bukan sungai asli, tapi kalen kedukan (galian) parit bekas perang Khandak di lokasi. Konon, sungai tersebut pernah dirajah oleh Tumenggung Cendol agar tidak dilewati pemimpin (ratu) lalim seperti Kompeni Belanda. Hingga sekarang, mitos seorang presiden (yang masih menjabat) tidak berani datang ke Jepara dikaitkan dengan rajah pemberian Kiai Srigi tersebut. 


Tumenggung Cendol meninggal di Hari Jumat sebagai syuhada' bersama putranya Kanthil setelah dibombardir oleh Belanda saat sedang membaca Al-Qur'an di mushalla, tempat ia biasa dzikir. Baginya, hari Jumat harus dihormati. Ia tidak mau berperang di hari mulia itu, meski risikonya harus mati. Jika mati di hari Jumat, itu adalah harapan setiap orang Islam, yang berusia sepuh, yang berjuang di jalan Allah Swt. Toh jika melawan pun, senjata petir saktinya bisa mengenai pasukannya sendiri. Dan itu sangat merugikan. 


Benar saja, ia ber-pasrah, dan mengambil Al-Qur'an hingga saat syahid, mushaf masih terbuka-terbalik dan menutupi wajahnya. Innalillah wa inna ilahi raji'un. Kisah ini mengingatkan kita atas peristiwa wafatnya Sayyidina Ustman bin Affan ra. yang dikepung oleh kelompok terhasut misi politik. 


Ki Rekso Karsono meninggal di usia 80an tahun. Ia hanya sempat menjabat sebagai tumenggung selama 2,5 tahun saja (1825-1828 M) menggantikan kosongnya kepemimpinan di Jepara karena pejabat Adipati Jepara saat itu, Tjitrosumo VI, sedang bertugas sebagai Bupati di Tuban. Pasca syahidnya Tumenggung Cendol, Tjitrosumo VI yang dikenal cerdas berstrategi politik itu, melanjutkan kepemimpinan di Jepara hingga digantikan oleh Tjitrosumo VII (Tjitrosumo terakhir). 


Sebagai tambahan keterangan, Tjitrosumo VI adalah salah satu dari 42 putra Tjitrosumo I yang juga memiliki nama asli Arab (dirahasiakan). Tjitrosumo VI merupakan kakak dari Mbah Citro Joyo Kusumo alias Mbah Wiro yang makamnya ada di punden Lebuawu, Pecangaan, Jepara. Bila istri Tjitrosumo I jumlahnya ada 17, maka Tjitrosumo VI belum diketahui jumlahnya. 


Seperti saat lahir, wafatnya Mbah Tumenggung Cendol pun dipenuhi petir menyambar tanpa ada hujan di sekitar area pemakaman. Orang-orang kesulitan memakamkan beliau, meski akhirnya sukses. Dikisahkan, lokasi dekat makam Mbah Tumenggung Cendol memang sering ada petir besar menyambar bertubi-tubi saat hujan, hingga sekarang. 


Salah satu wasiat dari Tumenggung Cendol Rekso Karsono adalah: urip kudu akeh selehe (hidup harus banyak berpasrah). Seleh bisa mendorong sikap tegas (galak) tanpa ngawur, yang itu disebut sebagai sifat orang sholeh. Seleh = Sholeh. Ia mengajarkan kepada anak cucu agar merasa paling hina, paling fakir dan paling lemah di hadapan Allah Swt. Itulah salah satu bentuk seleh yang sholeh.  


Kala masih hidup, ia berpesan agar makamnya tetap seperti orang Islam saja, yang tanpa payon (atap). Bila ada atapnya, ia khawatir akan banyak orang datang yang justru menaruh kembang dan menyan di sekitar, laiknya Pure yang saat itu masih banyak dijumpai. 


Hingga artikel ini dibuat pada Jumat Subuh, 20 Januari 2023, makam Mbah Tumenggung Cendol memang tidak beratap. Syahdan, pesan itu sangat berharga untuk menjaga lurusnya tauhid umat Islam saat itu, yang ia bagian dari bibit kawit (pejuang awal) meluasnya ajaran agama Islam warga sekitar Kecamatan Kalinyamatan, Jepara sekarang. Wallahu a'lam. [dutaislam.com/ab]


Terjemah Hikam Athaillah

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB