Mbah Margo Tiyoso, Leluhur Desa Margoyoso, Jepara
Cari Berita

Advertisement

Mbah Margo Tiyoso, Leluhur Desa Margoyoso, Jepara

Duta Islam #01
Minggu, 22 Januari 2023
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
makam mbah margo tiyoso jepara
Makam Mbah Margo Tiyoso di sebelah Barat Tumenggung Cendol. Foto: dutaislam.com.


Oleh M. Abdullah Badri


Dutaislam.com - Desa Margoyoso, Kalinyamatan, Jepara berasal dari nama sesepuh desa tersebut. Nama aslinya Suto Margo bin Suto Barok (Barok: pemberian nama tambahan dari seorang sayyid), asal Cirebon, Jawa Barat. Ia adalah seorang yang diyakini sebagai waliyullah yang hidup se zaman dengan tokoh ulama dan pejuang masyhur, Pangeran Diponegoro. 


Yang pertama kali memberi nama desa itu dengan Margoyoso adalah Mbah Rawit, penderek Mbah Margo dan Mbah Tumenggung Cendol yang juga murid abdi dalem Kiai Srigi (Abdullah Muntaha Basyaiban), guru ngaji tokoh pejuang di daerah tersebut. 


Sejak Mbah Margo wafat, Mbah Rawit menginginkan supaya masyarakat mengingatnya. Nama Margo (Indonesia: jalan) diambil sebagai nama depan desa, dan Yoso (Indonesia: usaha) diambil dari kata Tiyoso yang artinya tirakat (dari kata thariqah). Tujuan penamaan itu agar anak cucu Mbah Margo suka menjalani hidup tiyoso, tirakat, berusaha keras. 


"Aku suka bila anak cucuku bertirakat (tiyoso). Seiring zaman, kampung ini akan makmur karena leluhurnya suka tiyoso," begitulah kira-kira pesan Mbah Margo, ke Mbah Rawit, dulu, saat masih hidup. Baca: Mbah Mbirah: Waliyullah Pendakwah di Sumanding yang Ahli Pengobatan


Menurut kisahnya, para pengikut Mbah Tumenggung Cendol dulu tidak banyak yang melakukan tirakat. Oleh Mbah Margo, mereka diajak sering tiyoso supaya lebih dekat dengan Allah Swt. Tentunya dengan laku menjauhi hubbud-dunya dan teguh berjuang. Kata tiyoso kala itu benar-benar melekat dalam karakter khas Mbah Margo. 


Istri Mbah Margo, Sri Mukti (asal Bekunang, Sukoharjo), adalah adik dari istri Tumenggung Cendol (ipar). Karena itulah, Mbah Margo sering menjadi badal (pengganti peran) Mbah Cendol sebagai Tumenggung Jepara dan lainnya. Dari pernikahannya dengan Sri Mukti, Mbah Margo memiliki dua anak: 


  1. Joyo Ketir (menikah dengan orang Bali)
  2. Siswanto (Mbah Margo sudah wafat saat dia dewasa)


Kedua anak beliau ini dirawat oleh Mbah Sukirah. Mbah Margo adalah tipe orang yang banyak memberikan perhatian dan kasih sayang kepada masyarakat. Welas asih-e akih marang sepodo-podo. 


Ia wafat di usia 67 tahun. Makamnya ada di sebelah Barat pas pusara Tumenggung Cendol Rekso Karsono. Wallahu a'lam. [dutaislam.com/ab


Terjemah Hikam Athaillah

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB