Mbah Kiai Srigi, Demang yang Pintar Strategi Gerilya
Cari Berita

Advertisement

Mbah Kiai Srigi, Demang yang Pintar Strategi Gerilya

Duta Islam #01
Jumat, 20 Januari 2023
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
makam dan sejarah kiai srigi margoyoso jepara
Makam Mbah Kiai Srigi, Margoyoso, Kalinyamatan, Jepara (Tengah). Foto: dokumen.


Oleh M. Abdullah Badri


Dutaislam.com - Perawaknnya tinggi tapi tidak kurus dan tidak gemuk. Wajahnya putih kearaban. Itulah Mbah Srigi, yang dimakamkan di Margoyoso. Warga sekitar lebih banyak mengenal beliau dengan sebutan Mbah Surgi, yang semasa hidup pernah menjabat sebagai demang (sekarang Camat) selama enam tahun, dengan gelar Demang Socodiwiryo Mursiti. 


Beliau lahir di Demak dari seorang Ibu bernama asli Rohul Sutimah dan ayah bernama asli Abdul Manaf. Kala itu, pemilik nama Arab sering dicurigai oleh Belanda dan dibully oleh masyarakat sekitar karena identik dengan keturunan Rasulullah Saw. yang memiliki sifat khusus pemberani (nujada'), nyah-nyoh/dermawan (juda') dan penyayang (ruhama'), 


Atas dasar itulah, Rohul Sutimah berganti nama Sri, dan Abdul Manaf berganti nama Giyanto. Putra pasangan tersebut, yang bernama asli arab Abdullah Muntaha diberi nama oleh dukun bayi kala itu dengan: Srigi (diambil dari Sri dan Giyanto, kedua orangtuanya). Sejak tiga puluh tahun terakhir hingga hayat menjelang, Srigi lebih disukai Abdullah Muntaha sebagai panggilan atau julukan, sampai sekarang. 


Dari pernikahannya dengan Siti Az-Zahra, putri guru ngajinya asal Cirebon bernama Kiai Muntaha (juga), yang masih keturunan sayyid, Srigi dikaruniai tujuh orang anak, yakni:  


  1. Brenggolo (hijrah ke Jatim dan berkeluarga di sana)
  2. Suco (hijrah ke Bali)
  3. Sumo Tamijan (hijrah ke Kudus dan berkeluarga di sana)
  4. Trimo Sajono (hijrah ke Kedu dan berkeluarga di sana)
  5. Ringgit (perempuan, hijrah ke Arab dan berkeluarga di sana)
  6. Sariyo beristri Siti Sutimah (Jepara) dan salah satu putranya bernama Abdullah Idris yang wajahnya kearaban mirip Mbah Srigi. 
  7. Muhammad Abdullah Rasyid, beristri Rabinah (Jepara)


Semua nama anaknya bernama Jawa, kecuali yang terakhir, Abdullah Rasyid. Di masa kelahiran anak terakhir itu, zaman sudah berubah. Nama Arab tidak lagi diincar maupun dihina. Kiai Srigi hidup se-zaman dengan Tumenggung Cendol


Entah dari jalur ayah atau ibu, Mbah Srigi masih keturunan dzurriyah Rasulullah Saw. bermarga Basyaiban. Selain itu, beliau juga masih keturunan Sultan Hadi Wijaya (Joko Tingkir) ke-7. Sayang, untuk memastikannya, masih butuh penelusuran lanjut. Selain itu, Mbah Srigi hanya mengenal ayah yang lebih akrab ia sebut "abah" saja, tanpa meninggalkan catatan silsilah pasti atas nama keselamatan nyawa keturunanannya. 


Jabatan Demang

Mbah Srigi hidup se-zaman dengan kawan seperjuangan yang hijrah ke Desa Tubanan: Mbah Alim Agung. Mendengar Anwar, murid Mbah Alim Agung yang dibunuh sadis oleh Belanda (ditenggelamkan jenazahnya dengan batu), Mbah Srigi sedih berhari-hari. Perlawanan-perlawanan ke pihak Belanda sering dilancarkan Mbah Srigi bersama 60an murid ngajinya. Tapi sering gagal.


Ya. Selain pemberontak Belanda, Mbah Srigi adalah seorang guru ngaji. Diantara tokoh yang diajari beliau membaca Al-Qur'an adalah Tumenggung Cendol, Jepara. Ia kiai yang alim ilmu alat (Nahwu-Shorof). Di antara kitab-kitab itu, -berbentuk panjang dan gepeng,- yang paling disukai beliau adalah Kitab Nahwu Jurumiyah, dimana ia mendapatkan ilmu kitab tersebut dari gurunya di Cirebon, yang kemudian menjadi mertuanya itu. 


Kitabnya sangat banyak. Semuanya habis setelah kemarahan Belanda dalam tragedi pembantaian pasca pemberontakan rakyat yang mengakibatkan kebayan atau keamanan kampung, Mbah Anwar, murid Mbah Alim Agung (Tubanan), menjadi korban kekejaman mereka. 


Selama menjadi santri dan mengajar sebagai kiai, Mbah Srigi sering umpet-umpetan dengan penjajah dengan penerangan uplik. Saat itu, ngaji merupakan giat terlarang mengingat ketaatan total santri kepada kiai sangat berpotensi merugikan pihak Belanda di kemudian hari. Diceritakan, Mbah Srigi pernah kena peluru bedhil nyasar saat buang hajat. Meski hanya nyerempet di pinggang, Kiai Srigi merasakan panas, nyeblak-nyeblak dan linu di bagian yang terkena tembakan. 


Saat itu, bisa makan dengan nasi saja sangat lah berharga. Hanya kalangan menir-menir dan yang dekat dengan kompeni saja lah yang masih bisa merasakan makan enak dengan nasi. Warga biasa hanya bisa memakan singkong (Jawa: pogong) sebagai makanan terlezat. Apalagi seperti Mbah Srigi Muntaha, yang suka melawan. Embargo ekonomi kepada kelompoknya pasti lah sangat berat disangsikan oleh pihak penjajah. Di zaman itu, Mbah Kiai Srigi dan keluarga lebih sering memakan bonggol gedang, yang diparut, dibuat tepung, digodog, dan memakannya bisa mengakibatkan mules di perut. 


Meski sering melakukan perlawanan, Mbah Kiai Srigi disegani. Pengaruh besarnya di masyarakat itulah yang membuatnya dilantik demang oleh pihak Belanda, di wilayah Demak wetan, yang sekarang masuk Welahan. Nama yang melantik kala itu adalah: Adose. Selama hidup, Mbah Kiai Srigi menjabat enam tahun sebagai demang. 


Mbah Srigi memiliki prinsip pentingnya memiliki kekayaan dunia untuk beramal. Andai semasa hidupnya diberi kelimpahan rezeki banyak, ia berharap bisa beramal lebih banyak. "Dunyo iku penting kanggo ngamal," begitu petuahnya. 


Keturunan Mbah Srigi masih banyak hingga sekarang. Salah satunya adalah keturunan ketujuh dari putra ke-enamnya (Sariyo), Ari Wahid, Pancur, Jepara. [dutaislam.com/ab


Terjemah Hikam Athaillah

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB