Mbah Jaka Samudra (Lelono), Wali Musafir Banten Pejuang Islam di Jepara
Cari Berita

Advertisement

Mbah Jaka Samudra (Lelono), Wali Musafir Banten Pejuang Islam di Jepara

Duta Islam #01
Kamis, 26 Januari 2023
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
jaka samudra cumbring jepara kota haul
Makam Mbah Joko Samudro alias Joko Lelono bin Sutikna (depan RSI Jepara). Foto: dutaislam.com.


Oleh M. Abdullah Badri


Dutaislam.com - Nama asli Mbah Joko Lelono yang dimakamkan di Desa Cumbring, Jepara Kota, adalah Jaka Samudra bin Raden Sutikna. Ia berasal dari daerah yang disebut Galih, Priangan, Banten, dan masih keturunan Raja Siliwangi. Nama ibunya Sularsih. Jadi, beliau adalah orang Sunda. Istrinya bernama Retno Kinanti, keturunan Jawa dari Jepara. Cantik, berambut ikal dan panjang. Darinya, Joko Samudro hanya mendapatkan satu keturunan saja, yakni: Kinasih. 


Mbah Jaka Samudra disebut Joko Lelono karena ia pernah menjalani hidup sebagai musafir (pejalan kaki) menyusuri pesisir Samudra laut Jawa selama 15 tahun. Berhenti di Jepara dan memutuskan berkeluarga di Cumbring karena melihat banyaknya masyarakat Jepara waktu itu yang masih syirik; menyembah pohon-pohon besar. Ciri fisiknya tinggi gagah, tirus wajah, dan sering bersurban kuning. 


Baca: Mbah Kiai Srigi, Demang yang Pintar Strategi Gerilya


Alkisah, Jaka Samudra muda dulunya dikenal ahli gelut. Ia seorang pendekar yang tidak takut kepada musuh. Dia biasa menghabisi lawannya (penyamun atau lainnya) tanpa ampun, dengan menenggak arak terlebih dahulu agar makin berani. Waktu itu, Jaka Samudra tidak tahu haramnya hukum memimun arak dalam Islam. Kisah mudanya mirip Raden Lokajaya di tanah Jawa. Jawara yang dikenal sakti itu. 


Suatu hari, pantat Jaka Samudra terkena penyakit udun (bisul) yang tak kunjung sembuh. Kepada seorang kiai bernama Abdul Muallim (asal Aceh, bertempat di Jawa Barat), ia meminta supaya disembuhkan. Tapi, apa yang disarankan kiai belum berhasil menyembuhkan penyakitnya itu. Ia tidak pernah duduk nyaman. Posisi duduknya selalu miring karena kesakitan. 


Ia kemudian diberi ijazah menjadi musafir agar terus beribadah kepada Allah Swt. tanpa harus duduk. Menurut Kiai Muallim, musafir sangat cocok untuk Jaka Samudra. Dalam perjalanan, ibadah apapun bisa ditunda atau dirangkap oleh musafir. Misalnya, untuk shalat lima waktu, Jaka yang musafir bisa mengqashar dan jama'. Dengan begini, aktivitas duduknya bisa berkurang setiap saat, dan rasa sakit karena bisul tidak diderita terus menerus. 


Dari Pangandaran, ia mulai melakukan perjalanan menyusuri pesisir laut (samudra). Di tengah perjalanan, ia wiridan shalawat Jibril (shallaAllah ala Muhammad) sebanyak-banyaknya, setiap saat, setiap tempat. Di tengah perjalanan itu, ia bertemu dengan sesama musafir bernama Mbah Gimbal (rambutnya gimbal dan tidak mempan dipotong), yang memberinya ijazah wirid Ya Latif (wahai Yang Maha Lembut), agar hatinya peka, penuh kasih dan sayang. 


Allah Swt. sayang kepada Jaka Samudra. Ia diberi anugerah bisa membaca pikiran orang lain agar nasihat-nasihat dan hikmah yang ia ucapkan mudah diterima oleh orang-orang yang butuh petuah. Beliau menjelma jadi sosok yang nasihatnya mudah diterima. 


Baca: Filosofi Pedas dalam Ajaran Mbah Rawit (Rasto Gendok) Margoyoso, Jepara


Saat di Jepara, ia memutuskan berhenti sebagai musafir. Alasannya, saat itu masih banyak orang Jawa di Jepara yang menyembah pohon-pohon besar dan aksi kejahatan kian marak dimana-mana. Jaka Samudra bin Sutikna akhirnya mendirikan padepokan kejawaraan/kependekaran di sekitar makamnya sekarang. Ada lebih kurang 80 orang yang nyantri di sana. 


Semua murid Jaka Samudra sang pengelana itu ngajinya terbagi tiga. Pertama, murid ngaji agama. Kedua, murid ngaji perang, dan ketiga, murid yunior (pemula atau ibtida'iyyah). Salah satu muridnya ada yang memiliki karakter angel dikandani (sulit dinasehati). Si murid memiliki kebiasaan buang hajat besar sembarangan, termasuk di tempat shalat. Butuh waktu 10 tahun menghentikan kebiasaan ini. 


Ada juga murid bekas prajurit yang bingung karena lari dari medan pertempuran hingga sampai lah dia ke Jepara. Namanya Bagus Walelo. Ia salah satu murid Mbah Jaka Samudra yang diangkat Allah Swt. sebagai wali juga. Murid-murid lain yang diberkahi Allah Swt. menjadi waliyullah, antara lain: 


  1. Kiai Mudzakir (Pati)
  2. Ki Wedus (Demak)
  3. Ki Jenang (Kudus)
  4. Kiai Surokampar (Rembang)
  5. Ki Bagus Sutro (Gunung Merbabu), dll. 


Banyaknya murid beliau yang jadi waliyullah karena ikhlash melakukan apa dikatakan oleh hati terdalam masing-masing, tanpa pamrih. Ada orang yang diangkat wali oleh Allah Swt. sebab memiliki banyak harta, tapi untuk disedekahkan. 


Saat menjadi pengasuh banyak murid inilah, Mbah Jaka Samudra berteman akrab dengan Datuk Jokosari Ngabul (Ashari/Asy'ari). Keduanya saling mengunjungi, menjaga silaturrahim, dengan sesekali mengirim pogong ke Ngabul, dan sebaliknya, menerima gebukan beras (gabah) dari Datuk Jokosari, Ngabul. 


Keduanya juga saling bertukar ilmu. Suatu kali, Jaka Samudra pernah sowan ke Datuk Jokosari untuk men-tashih kitab Mekkah (mungkin Al-Qur'an atau kitab kuning) agar bacaannya sesusai teks yang dimiliki. Begitu pulang, ia dihadang kelompok rampok di Desa Tahunan. 


Baca: Tumenggung Cendol, Serang Belanda dengan Petir ala Ki Ageng Selo


Jaka Samudra melawan. Tapi ia kalah jumlah. Jarinya ada yang terpotong akibat menangkis sayatan pedang. Sesampainya di padepokan, ia demam akibat luka. Ia makin sakit karena waktu itu bersamaan dengan wabah penyakit. Banyak muridnya juga yang meninggal akibat wabah tersebut. Termasuk beliau, yang akhirnya kembali ila rahmatillah di Bulan Ramadhan usai Padang Bulan (antara tanggal 16-20). Inilah waktu haul beliau. 


Mbah Jaka Samudra bin Sutikna wafat di usia 87 tahun. Saat inilah ia tidak lagi memakai pakaian kusam lagi, yang saat dicuci ulang harus digodok karena saking banyaknya tumo (kutu) di bagian bawah, yang sungguh gatal bila dipakai lagi, dan makin mbedel (mudah sobek akibat digodok air panas) terus-menerus. [dutaislam.com/ab]


Terjemah Hikam Athaillah

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB