Filosofi Pedas dalam Ajaran Mbah Rawit (Rasto Gendok) Margoyoso, Jepara
Cari Berita

Advertisement

Filosofi Pedas dalam Ajaran Mbah Rawit (Rasto Gendok) Margoyoso, Jepara

Duta Islam #01
Minggu, 22 Januari 2023
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
makam mbah rawit margoyoso jepara
Makam Mbah Rawit yang ada di sebelah Timur Tumenggung Cendol. Foto: dutaislam.com.


Oleh M. Abdullah Badri


Dutaislam.com - Nama asli Mbah Rawit adalah Rasto Gendok bin Suro Ragimin. Berasal dari daerah dekat Desa Loram, Kudus. Rawit adalah julukan yang diberikan oleh orang-orang di zamannya, se-jawatnya, karena ia suka dengan rasa pedas. Kulit wajahnya cokelat kehitaman, khas orang Jawa. Surbannya putih bersinar. Matanya biru dan teduh dipandang. 


Ia menikah dengan Nyi Dasemi, yang dulu dirawat laiknya adik sendiri. Alkisah, Dasemi dulunya adalah anak yatim. Ayahnya meninggal syahid dibedhil oleh penjajah Belanda dalam sebuah pertempuran. Di medan tempur, Dasemi kacil bingung. Mau kembali ke rumah ia tidak tahu jalan pulang. 


Gadis kecil Dasemi itu akhirnya hidup di jalanan, sebatangkara. Untuk terus bisa makan, ia kadang menggantungkan hidupnya mengais pogong (singkong). Saat ini, usia Dasemi beranjak 6 tahun. Rasto Gandok kasihan melihatnya. Dibawalah ia pulang, dirawat, dan dianggap sebagai adik asuhnya sendiri. 


Baca: Joyo Kusumo Raharjo, Sunan Gelut dari Dongos Jepara


Diam-diam Rasto tertarik dengan Dasemi gadis yang makin terlihat cantik saja di hadapannya. Di usia 9 tahun, Rasto menikahi Dasemi. Dulu adik angkat, sekarang istri sah. Saat menikahinya, Rasto berusia 12 tahun. 


Dari pernikahan itu, Rasto Gendok dan Dasemi dikaruniai 3 orang anak. Pertama, Lasmi. Ia adalah putri pertamanya yang menikah dengan suami asal Cluwak, Pati. Saking sabarnya menghadapi suami, Lasmi dikisahkan meninggal akibat sering tidak makan (kelaparan) yang mengakibatkannya menderita sakit maag dan liver akut. 


Allah Swt. sayang kepada Lasmi. Diangkatlah ia sebagai waliyah (wali perempuan) yang nisan makamnya sekarang sudah tak berbekas lagi karena tak terawat, masih di sekitar Kompleks Pemakaman Islam Tumenggung Cendol, Margoyoso, Kalinyamatan, Jepara. Lasmi inilah yang merawat Rasto Gandok di hari tuanya. Ia sosok istri yang taat suami dan birrul walidain. Kedua, Sugito. Ketiga, Danang. Keduanya adalah adik Lasmi. Cerita mereka tidak terlacak lebih lanjut. 


Ikut Berperang

Di usia muda, 14 tahun, bersama Mbah Margoyoso dan Tumenggung Cendol, Rasto Gendok mulai ngaji ke Mbah Kiai Srigi Basyaiban (asal Cirebon). Lama-lama ia dikenal sebagai santri ndalem Kiai Srigi, tapi ia juga setia menjadi pengikut Tumenggung Cendol yang melaksanakan dalam tugas di bidang politik, sosial dan militer. 


Biasanya, usai ngaji Al-Qur'an dan Ilmu Shorof di mushalla gedhek (bambu) kecil milik Kiai Srigi, Rasto Gandok sering diberi makan serba paling pedas dan lewat batas oleh Nyi Sukirah, sang pamomong putra-putra Kiai Srigi. Gara-gara itulah ia mulai suka dengan rasa pedas cabai rawit. Jadi, ia dijuluki Mbah Rawit bukan karena profesi bakul lombok. 


Mbah Rawit berkali-kali ikut berperang melawan Belanda dalam barisan Tumenggung Cendol. Salah satunya adalah perang parit yang ide awalnya digagas oleh Mbah Kiai Srigi. Saat itu, parit sengaja digali untuk menghalau pasukan Belanda marangsek masuk ke wilayah Jepara. 


Pohon-pohon besar di pinggiran parit itu (sekarang Sungai Cipluk) sengaja tidak ditebang karena fungsi strategisnya sebagai teropong untuk musuh. Mbah Rawit salah satu pasukan yang mendapatkan tugas pengintaian masuknya pasukan tank (meriam Belanda) melalui pohon-pohon besar tersebut. 


Karena dekat dengan Tumenggung Cendol maupun Kiai Srigi, Mbah Rawit dikisahkan sering pura-pura sowan agar bisa mendapatkan sabun mandi. Habis sowan, ia biasa mengambil dua atau tiga biji buah lerak dari Kiai Srigi atau Tumenggung Cendol, yang di zaman itu berfungsi sebagai deterjen atau sabun mandi. 


Filosofi Cabai Rawit

Dalam ajaran Mbah Rawit, "wong urip kudu wani pedes (wani loro [berani bertanggungjawab], wani rekoso [berani berjuang])". Antara pedas dan rekoso (susah payah) itu beda. Orang bisa ambil risiko pedas berkali-kali, namun jarang yang mau ambil tindakan susah payah berkali-kali. Rasa pedas rawit mengandung keimanan. Tapi, bersusah payah bisa mengakibatkan manusia lupa daratan (ngale'ake), lupa iman.  


Orang bisa saja dengan sengaja (njarak) mencari makanan pedas, karena ia tahu, lombok rasanya memang pedas, dan itu dilakukan penuh kesadaran akan wujud mutlak Sang Pencipta rasa pedas, Allah Swt. Tapi, pedihnya bersusah payah adalah buah dari perbuatan manusia sendiri. Bisa jadi, menurut Mbah Rawit, rekoso iku sebab keset (malas). 


Susah (rekoso) muncul karena hati yang kurang bisa bersyukur. Tidak ada orang yang meratap kepada Allah Swt. sebab pedasnya cabai. Tapi, kalau mengalami susah, manusia beriman pasti sambatnya (meminta tolongnya) kepada Allah Swt. Allah lah yang bakal diteriaki. Mengapa? Karena rekoso cenderung melupakan Allah Swt. Demikianlah ajaran-ajaran penting Mbah Rawit.

 

Semasa hidup, Sholawat Nariyah dan Bismillahir Rahmanir Rahim adalah wirid andalannya. Saat maju perang pun, Bismillah dibaca 1.000 kali oleh Mbah Rawit. Baca: Mbah Senopati Mindahan, Duta Mataram Islam di Jepara


Mbah Rawit wafat di usia sepuh, 97 tahun. Karena faktor usia, matanya sempat mengalami rabun, tapi tidak buta, dan dimakamkan di sebelah Timur makam Tumenggung Cendol. Wallahu a'lam. [dutaislam.com/ab]


Terjemah Hikam Athaillah

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB