Mbah Tirto Karimunjawa, Pemomong Sunan Nyamplungan
Cari Berita

Advertisement

Mbah Tirto Karimunjawa, Pemomong Sunan Nyamplungan

Duta Islam #01
Sabtu, 26 November 2022
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
makam mbah tirto karimunjawa
Makam Mbah Tirto (kanan) beserta istri dan putri beliau. Gambar diambil pada 10 November 2022. Foto: dokumentasi redaksi dutaislam.com.


Dutaislam.com - Tidak banyak warga Karimunjawa yang mengetahui sosok Mbah Tirto. Padahal, makamnya ada di sebelah kanan atas Sunan Nyamplungan. Karena tidak banyak yang mengenal beliau, sebagian orang Karimunjawa menyebut nama beliau dengan nama Sayyid Abdullah atau Ki Ageng Santri. 


Karena makamnya berada di dataran lebih atas Sunan Nyamplungan, tentu saja beliau lebih sepuh dari Sunan Nyamplungan. Tapi, siapa beliau, berikut ulasannya:


Mbah Tirto adalah pamomong Sunan Nyamplungan yang diutus Sunan Muria agar selalu mendampingi putranya itu saat di Karimunjawa. Karena itulah, ia disebut sebagai pemomong, meski secara ilmu berbeda jauh dengan Sunan Nyamplungan, yang tentu saja lebih alim syariat. 


Baca: Mbah Mbirah: Waliyullah Pendakwah di Sumanding yang Ahli Pengobatan


Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan dakwah Sunan Nyamplungan, Mbah Tirto sempat membuat belik di sekitar Nyamplungan yang hingga kini masih bisa dimanfaatkan oleh para peziarah dan warga setempat. Nama belik itu kemudian disebut Tirto Kenadi atau Tirto Nadi, sesuai nama penemunya. 


Meski kurang mengusai sumber-sumber agama, sejak dulu Mbah Tirto sering jadi rujukan nasihat Sunan Nyamplungan hingga wafat. Karakternya yang tegas setengah galak memengaruhi tabiat Sunan Nyamplungan yang tegas dalam berdakwah. 


Baca: Misteri Sejarah Sunan Nyamplungan Karimunjawa


Mbah Tirto wafat di usia 124 tahun. Sementara, Sunan Nyamplungan berusia 66 tahun. Sunan Nyamplungan lebih muda dari Mbah Tirto dan periode wafatnya pun lebih dulu. Di kompleks Nyamplungan, Mbah Tirto dimakamkan bersama istri dan satu putrinya. 


Sementara itu, tiga walad Mbah Sunan Nyamplungan, dua laki-laki dan satu perempuan, kembali ke Kudus, daerah asal kakeknya, Sunan Muria. Satu putra beliau meninggal di usia muda. Satunya lagi tidak memiliki keturunan, dan putri beliau dipersunting oleh orang Malaka (sekarang Malaysia), dan tidak diketahui dimana keturunannya. 


Karena itulah, makam Mbah Sunan Nyamplungan ada tanpa didampingi nisan-nisan lain. Beliau memang mewakafkan diri berdakwah dan mengawal keber-islaman warga Karimunjawa seperti saat beliau masih hidup. [dutaislam.com/ab


Terjemah Hikam Athaillah

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB