Joyo Kusumo Raharjo, Sunan Gelut dari Dongos Jepara
Cari Berita

Advertisement

Joyo Kusumo Raharjo, Sunan Gelut dari Dongos Jepara

Duta Islam #01
Minggu, 28 Agustus 2022
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
makam mbah joyo kusumo dongos sawo
Makam Eyang Joyo Kusumo Raharjo, Dukuh Sawo, Dongos, Jepara. Foto: dutaislam.com.


Dutaislam.com - Eyang Joyo Kusumo Raharjo adalah salah satu dari tiga tokoh babat alas di Desa Dongos, Kedung, Jepara. Ahmad Sobari dan Rasiyem adalah nama kedua orangtuanya. Asal Demak. Tubuhnya tinggi, agak kurus. Kedua pundak dan dadanya agak bidang berisi. Dia suka tampil dengan ikatan hitam di kepala. 


Kini, Anda bisa menziarahi makamnya yang berada di tengah-tengah kompleks makam umum Sawo di Dukuh Randu Lencer, Desa Dongos, Kedung, Jepara. Beberapa kali warga dari luar Jepara berziarah ke sana karena dikenal sebagai waliyullah. Baca juga: Mbah Mbirah: Waliyullah Pendakwah di Sumanding yang Ahli Pengobatan.  


Beliau hidup di zaman beredarnya uang dipo di Jawa, yakni setelah era perang Diponegoro berakhir tahun 1825 M. Kesimpulan ini tentu saja mengoreksi sebagian pendapat yang menyatakan kalau Joyo Kusumo Raharjo hidup jauh sebelum Walisongo dan Islam belum menyebar. 


Sebelum Eyang Joyo Kusumo datang, Desa Dongos memang dikenal sebagai sarang penyamun dan para pemuja pohon-pohon besar. Penduduk setempat belum mengenal Islam. Wajar bila masa hidup beliau dianggap sebagian warga setempat sebagai era pra-Islam Pulau Jawa. Yang lebih mendekati kebenaran, beliau hidup di zaman Islam sudah dipeluk mayoritas penduduk Jawa tapi Dongos belum terislamkan penuh.  


Karena itulah, oleh Kerajaan Mataram Islam, Joyo Kusumo Raharjo diberi tugas berdakwah sekaligus amar ma'ruf nahi munkar membersihkan para kelompok penyamun kurangajar yang sakti di Dongos, para begal nan bengal itu. Mungkin peran Joyo Kusumo hampir mirip dengan operasi Petrus di era Soeharto berkuasa. 


Ia dipilih sebagai juru dakwah karena selain jawara, Joyo Kusumo adalah orang yang memiliki ilmu agama mumpuni dimana ia mendapatkannya dari seorang kiai dari Kudus, meski akhirnya, sang guru itu berakhir dipenjara oleh kerajaan tanpa sebab. Berkat kegigihannya berdakwah, Joyo Kusumo disebut-sebut berhasil mengislamkan banyak orang di Dongos.  


Di zaman muda, Joyo Kusumo sebetulnya bercita-cita menjadi pendakwah. Sayangnya, hal itu tidak tercapai. Ia justru jadi prajurit yang sangat dibutuhkan jasanya oleh Mataram Islam dalam rangka menanggulangi gangguan kriminal seperti di Dongos. Guru kependekarannya juga dari Kudus, keturunan Cina. 


Semasa pengabdiannya sebagai prajurit kerajaan, Joyo Kusumo sempat berjuang hingga berhasil menghabisi 60an penjajah Belanda lalim di Dongos dan sekitarnya. Selain dikenal tahan bacok dan dan anti pukul, ia dikenal sebagai pendekar yang membuat 20an orang kocar-kacir, hanya dengan sekali tendangan. 


Baca: Makam Mbah Breo, Waliyullah di Rengging, Jepara


Ilmu tersebut adalah tambahan karamah dari Allah yang diperoleh Joyo Kusumo tanpa ritual kanuragan apapun. Tiba-tiba saja ia mendapatkan ilmu itu tatkala jatuh dari pohon kelapa akibat disengat lebah di bagian kepala. Tapi, anehnya, dia hanya lebam tanpa terluka sama sekali. 


Ia sengaja mengulanginya, menjatuhkan diri lagi dari pucuk pohon kelapa, dan benar saja, tak terluka lagi. Akhirnya, ia mengamalkan anugerah ilmu dari Allah tersebut saat mengunduh kelapa -dengan cara berayun meloncat dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa lainnya seperti Tarzan, tanpa memanjat pohonnya. 


Sejak itulah, rasa takut atas kematian seolah hilang. Alias tidak takut mati. Suatu kali, Joyo Kusumo pernah ditusuk tombak oleh penyamun jahat. Bukannya takut, ia justru mengambil tombak yang jatuh tak mempan mengenai tubuhnya itu, lalu, dengan tangan kosong, ia potong tombak tersebut menjadi bagian-bagian kecil (Jawa: ditoklek-toklek). 


Ia mendapatkan derajat waliyullah menjelang usia sepuh. Demikian sepenggal kisah Eyang Joyo Kusumo Rajarjo yang penulis dapatkan. 


Silsilah Joyo Kusumo

Di masa hidupnya, Joyo Kusumo pernah mendapatkan pesan guru agamanya agar mencatat silsilah keturunannya. Ia berhasil menulis hingga tujuh silsilah ke atas di daun pisang yang telah dikeringkan. Sayangnya, catatan itu sempat hilang bersama bungkusan pakaian yang sempat dicuri penjahat. 


Sumber menyatakan, Joyo Kusumo adalah putra ke-4 dari Ahmad Sobari dan Rasiyem, dan memiliki 11 orang saudara kandung laki-laki semua. Berikut nama-namanya, sesuai urutan paling tua hingga paling muda: 


  1. Surowungkul (kakak tertua)
  2. Surodipo 
  3. Rajiman
  4. Joyo Kusumo Raharjo
  5. Siswo (paling ganteng)
  6. Bekti
  7. Rasmito
  8. Sasongko 
  9. Mitro Tawi
  10. Rasmono
  11. Tumenggung
  12. Muhammad Rais 


Hampir semua saudara Joyo Kusumo di atas adalah seorang pendekar atau minimal memiliki hubungan kemiliteran dengan Kerajaan Mataram Islam, kecuali si ragil, Muhammad Rais, yang memilih menekuni ilmu agama Islam. Alasannya, ia tidak nyaman akibat seringnya melihat para kakak pulang ke rumah dengan baju belumuran darah usai gelut dengan musuh atau Belanda.  


Karena paling disayang dan paling muda, Mat Rais -panggilan Jawa untuk Muhammad Rais- dipanggil Joyo Kusumo dengan sebutan "kenang Rais". Adik terkasihnya inilah yang hingga sekarang disebut-sebut sebagai tokoh yang melahirkan banyak ulama' dan kiai di beberapa wilayah di Jepara. 


Baca: Kisah Maulana Mangun Sejati (Bugel, Jepara) Melawan 10 Perampok


Dua diantara beberapa anak Mat Rais bernama Sunandar dan Mukardi. Meski telinganya agak terganggu, Sunandar merupakan keponakan Joyo Kusumo yang paling disayang karena sering main ke rumahnya dan acap memijit pamanya itu. Sunandar inilah yang disebut-sebut sebagai keponakan yang mendapatkan ilmu turunan keramat dari Joyo Kusumo. 


Adapun anak Mat Rais bernama Mukardi merupakan keponakan Joyo Kusumo yang dikenal sebagai sosok kiai yang di masa hidupnya sering mengajar ngaji di daerah yang dulu dikenal dengan sebutan "cepitan gunung". Konon, dari Mukardi inilah Mat Rais memiliki keturunan kiai, ulama' dan guru di daerah Bugel, Dongos serta desa-desa lain sekitarnya.  


Joyo Kusumo menikah dua kali. Istri pertama bernama Sakimah, dan istri keduanya bernama Satemi (anak seorang dalang dari Pati bernama Sutar). Dari istri pertama (Sakimah), Joyo Kusumo dikaruniai 6 anak laki-laki. Berikut nama-namanya, secara berurutan:


  1. Karto Rajimin
  2. Rasmito
  3. Joko Sutejo
  4. Danang
  5. Ahmad Adib
  6. Sastro Dimedjo (hijrah ke Rantau Prapat)


Anak terakhir (Sastro Dimedjo) disebut-sebut pernah merantau (hijrah) ke  daerah yang dulu disebut sebagai Rantau Prapat. Secara administratif, daerah itu kini merupakan nama Ibukota Kabupaten Labuhanbatu, Sumatra Utara (Sumut). 


Dari Satemi, Joyo Kusumo memperoleh 6 keturunan (5 laki-laki dan 1 perempuan). Berikut urutannya: 


  1. Wirokromo
  2. Umar Said
  3. Joko Siswono
  4. Warsinah
  5. Sukarto
  6. Rasmo 


Rasmo disebut-sebut sebagai satu-satunya anak Joyo Kusumo yang berprofesi sebagai dalang, melanjutkan tradisi kakeknya Sutar, ayah Sutemi. Baca: Mbah Senopati Mindahan, Duta Mataram Islam di Jepara.


Lalu, siapa saja saudara Ahmad Sobari (ayah Joyo Kusumo)? Hingga cacatan sejarah ini ditulis pada 28 Agutus 2022, belum ada satu pun dari paman maupun bibi Joyo Kusumo yang terlacak namanya. 


Warga Dongos hanya mengenal adanya dua waliyullah di Jepara yang masih terhitung adik dari Joyo Kusumo, yakni Joyopotro (dijuluki Sunan Gelut dari Dongos juga) dan Lukman Hakim (Kedungleper, Bangsri). Keduanya bukanlah saudara kandung, melainkan saudara misanan yang bertemu nasab di kakek yang sama. 


Demikian silsilah Eyang Datuk Joyo Kusumo Raharjo yang ada, dimana keturunanannya hingga sekarang masih banyak yang bermukim di Dongos, meski banyak pula yang tidak mencatatnya atau bahkan tidak mengetahuinya. Wallahu a'lam. [dutaislam.com/ab]


Jasko Rijalul Ansor

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB