Bila "NU" Tanpa Nahdlatul Ulama'
Cari Berita

Advertisement

Bila "NU" Tanpa Nahdlatul Ulama'

Duta Islam #01
Sabtu, 05 Februari 2022
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
nahdlatul ulama tanpa kepengurusan nu
Logo Nahdlatul Ulama. Foto: istimewa.


Oleh Ayik Heriansyah


Dutaislam.com - Menurut survei yang dirilis LSI dua tahun lalu, 49,5% responden menyatakan berafiliasi ke NU. Jika digeneralisir, maka ada sekitar 108 juta jamaah NU di Indonesia.


Jumlah jamaah sebanyak itu tidak mungkin masuk ke pengurusan struktural NU yang memiliki 1 PB, 34 PW, 521 PC, 31 PCI. Anggap lah di semua kecamatan sudah terbentuk MWC yaitu 7.230. Anggap pula di semua kelurahan/desa, maka sudah ada PR sebanyak 83.381.


Andaikata ditambah dengan Banom-banom pun, tetap saja mayoritas jamaah NU tidak dapat duduk di pengurusan. Lalu, bagaimana mereka terpaksa gagal menjadi santri Mbah Hasyim dan tidak didoakan husnul khatimah? Baca: Kamus Istilah dalam NU yang Perlu Kamu Ketahui


Semua jamaah mau menjadi santri Mbah Hasyim dan didoakan husnul khatimah melalui struktur NU, tidak mungkin. Harus ada cara lain di luar struktur.


NU kultural, yaitu NU secara aqidah dan amaliyah minus harakah bersama jam'iyah itu sebenarnya "NU" sebelum NU. NU didirikan untuk menstrukturkan "NU". Jam'iyah NU inilah yang dimaksud oleh Mbah Hasyim. Jadi, "NU" tanpa NU sulit diterima. Sedangkan kesempatan untuk jadi pengurus sangat terbatas.


Maka, solusi yang perlu dipertimbangkan adalah: NU memperbanyak amal-amal sosial kemasyarakatan sehingga dapat menampung jamaah yang ingin "menjadi santri Mbah Hasyim dan dido'akan husnul khatimah", dengan menjadi pengurus lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan tersebut. Baca: Sejak Tahun 1290, Nusantara Diprediksi Jadi Negara Bangsa. Ini Buktinya!


Dengan mengurus lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan milik jam'iyah NU, seperti  menjadi ketua DKM, marbot, kepala sekolah, guru, tenaga pendidikan, kepala rumah sakit, dokter  perawat, apoteker, rektor, dekan, dosen, dan sebagainya, masih termasuk mengurus NU.


Visi membangun peradaban yang dicanangkan oleh PBNU sekarang ini secara sederhana diterjemahkan dengan membangun masjid NU, PTNU, RSNU, Klinik NU, Apotek NU, Pesantren NU, Madrasah NU, perusahaan bisnis NU, Bank NU, dan lain-lain, sebanyak-banyaknya. 


Proyek-proyek peradaban tadi pasti membutuhkan SDM pengurus dan tenaga kerja yang banyak pula, sehingga dapat menampung jamaah yang ingin mengurus NU, tapi belum berkesempatan duduk di struktur NU dan Banom. Dengan mengurus proyek-proyek peradaban NU, mudah-mudahan harapan jamaah ingin menjadi santri Mbah Hasyim dan dido'akan husnul khatimah tercapai. Amin. [dutaislam.com/ab]


Jasko Rijalul Ansor

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB