Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Makna Ashf (عصف)
Cari Berita

Advertisement

Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Makna Ashf (عصف)

Duta Islam #07
Senin, 01 Februari 2021
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
angin yang kencang atau ribut
Makna ashf yang ringan. Foto: istimewa

Dutaislam.Com -
'Ashf (عصف) adalah bentuk mashdar dari kata kerja 'ashafa-ya'shifu, tersusun dari huruf-huruf  'ain, shad, dan fa', yang mempunyai makna denotatif, yaitu 'ringan' dan 'cepat'. Dari makna dasar berkembang artinya menjadi antara lain: 'kencang/ribut' (angin) karena ia dengan ringan bergerak cepat; 'jerami' karena buahnya sudah tiada sehingga menjadi ringan.


Menurut Ibnu A'rabi, 'ashf juga berarti 'daun', an-naqatu al-'ashifah yang berarti '(unta) yang lincah' karena dapat membawa orang yang mengendarainya berlari dengan cepat; 'giat' karena dengan ringan ia lakukan pekerjaan; 'ashafat al-harbu bil-qaum artinya 'binasa' karena perang seakan-akan hilang diterpah angin, seperti di dalam ungkapan.

Kata 'ashf dan pecahannya terulang tujuh kali dan 'ashf sendiri terulang tiga kali (QS. Ar-Rahman: 12), (QS. Al-Mursalat: 2), dan (QS. Al-Fil: 5), empat lainnya di dalam bentuk ism fa'il, dua kali di dalam bentuk tunggal mudzakkar, 'ashif (عصف) (QS. Yunus: 22 dan QS. Ibrahim: 18), sekali di dalam bentuk tunggal muannats, 'ashifah (عاصفة),(QS. Al-Anbiya: 81), dan di dalam bentuk jamak muannats, 'ashifat (عاصفات),(QS. Al-Mursalat: 2).

Di dalam (QS. Ar-Rahman: 12) dan (QS. Al-Fil: 5), kata 'ashf diperselisihkan maknanya oleh para ulama. Al-Hasan mengartikannya dengan jerami. Mujahid mengatakan artinya adalah daun dari pohon dan tanaman yang diterbangkan angin atau pucuk tanaman yang masih hijau yang dipotong kemudian menjadi kering. Al-Farra' dan Said bin Jubair mengatakan 'tunas tanaman yang baru tumbuh'. As-Suyuthi mengartikannya dengan 'buah tin'. Kata 'ashf, di dalam (QS. Ar-Rahman: 12) digunakan berkaitan dengan nikmat yang Allah berikan kepada manusia, berupa, antara lain bumi yang di dalamnya tumbuh pepohonan yang menghasilkan buah dan biji-bijian yang mempunyai jerami. 

Di dalam (QS. Al-Fil: 5), digunakan berkaitan dengan suatu peristiwa di Mekah, ketika Abrahah, gubernur Yaman, bersama pasukannya yang mengendarai gajah hendak menghancurkan Ka'bah, lalu Allah menghancurkan mereka dengan mengirimkan burung Ababil yang melempari mereka dengan batu yang panas, sehingga membuat mereka hancur bagaikan dedaunan yang telah dimakan ulat. Sementara itu, kata 'ashf di dalam (QS. Al-Mursalat: 2) berarti 'kencang', yaitu Allah bersumpah dengan (angin atau malaikat) yang kencang.

Adapun kata 'ashif di dalam (QS. Yunus: 22) dan QS. Ibrahim: 18) atau 'ashifah di dalam (QS. Al-Anbiya': 81), para ulama sepakat mengartikan dengan 'kencang' atau 'keras,' yaitu angin yang bertiup kencang atau keras. Di dalam QS. Yunus, kata 'ashif digunakan berkaitan dengan tabiat manusia di mana apabila ditimpa kesenangan, ia lupa bahwa nikmat itu datangnya dari Allah, tetapi jika ditimpa kesusahan, seperti bila di dalam perahu tiba-tiba datang angin kencang ia segera memohon kepada Allah agar diselamatkan dari kesulitan itu. Pada (QS. Al-Anbiya': 81), digunakan berkaitan dengan mukjizat Nabi Sulaiman as. yang dapat memerintahkan angin untuk dijadikan kendaraan dan sebagainya.

Sementara itu, kata 'ashif di dalam (QS. Ibrahim : 18), digunakan di dalam kaitan dengan orang kafir, yang amal perbuatan mereka diumpamakan seperti debu yang diterpa angin kencang pada suatu hari, yaum 'ashifun (hari yang kencang anginnya').

Kata 'ashifat di dalam (QS. Al-Mursalat: 2), para ulama mengartikannya dengan 'angin', yaitu angin yang menerbangkan dedaunan. Pendapat ini diperkuat oleh Ibnu Mas'ud. Di samping itu, menurut Al-Qurthubi, ada pula yang menafsirkannya dengan 'malaikat', yaitu malaikat yang bertugas membawa angin, atau malaikat yang mencabut nyawa orang kafir. Kata 'ashifat di dalam ayat ini digunakan sebagai sumpah Allah bahwa Dia tidak akan menyalahi janji-Nya dan pasti akan enghukum orang-orang kafir kelak.


Dari pemaparan kata 'ashf dan pecahannya di dalam ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa penggunaannya, meskipun di dalam berbagai konteks, tidak terlepas dari makna denotatifnya yaitu 'ringan' atau 'cepat'. Misalnya diartikan dengan 'daun' karena daun itu ringan, sehingga dapat diterbangkan angin dengan cepat, 'kencang' karena sesuatu yang kencang itu sifatnya ringan dan cepat.[dutaislam.com/ka]

Sumber:
Ensiklopedia Al-Qur'an, Kajian Kosakata, Jilid: I, hlm: 33-34, ditulis Zubair Ahmad 
Jual Kitab Kuning Pethuk

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB