Filosofi Tongkat Menurut Al-Qur'an
Cari Berita

Advertisement

Filosofi Tongkat Menurut Al-Qur'an

Duta Islam #07
Sabtu, 30 Januari 2021
Download Ngaji Gus Baha

Buku Terjemah Fathur Rabbani Lengkap
tongkat nabi musa
Filosofi tongkat. Foto: istimewa

Dutaislam.Com -
Kata 'asha (عصَا) secara literal mempunyai arti 'mengumpulkan'. Makna ini menunjukkan bahwa 'asha (عصَا) mengandung pengertian adanya persatuan dan kekompakan yang pada gilirannya dapat melahirkan kekuatan sekaligus dapat menjaga dan memeliharanya dari berbagai macam bahaya. 

Di dalam konteks inilah maka 'asha (عصَا) diartikan 'tongkat'. Dinamai demikian karena tangan dan jari-jari secara bersama-sama berpegang kepadanya dengan maksud agar orang yang menggunakannya dapat berdiri tegak atau minimal agar tongkat tersebut menjadi tempat berpegang supaya tidak terjatuh. Karena itulah maka 'asha (عصَا) digunakan pula untuk menunjuk kepada jamaah yang sekaligus menunjukkan adanya kekuatan, baik di dalam merealisasi suatu progam maupun untuk menanggulangi dan menjaga diri dan kelompok dari hal-hal yang berbahaya.


Kata 'asha (عصَا) di dalam Al-Qur'an yang menunjuk kepada pengertian 'tongkat' disebutkan sebanyak 12 kali. Di dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 10 kali, semuanya berbicara tentang tongkat Nabi Musa as. dengan segala fungsi dan kegunaannya. Sebelum Nabi Musa as. menjadi rasul tongkat itu digunakannya untuk berbagai macam keperluan, seperti bertelekan dan memukul daun-daun pohon untuk makanan kambing gembalaannya (QS. Thaha: 18).

Setelah Nabi Musa diangkat menjadi rasul, tongkat tersebut lebih banyak berfungsi sebagai mukjizat yang mengokohkan kerasulan beliau, baik di dalam mengokohkan keyakinan pengikutnya maupun di dalam menghadapi dan memelihara diri dari musuh-musuhnya terutama Firaun. Sebagai mu'jizat, tongkat Nabi Musa dapat berubah menjadi ular yang memusnahkan ular hasil sihir tukang sihir Firaun. Ketika Nabi Musa dan pengikutnya dikejar Firaun, dengan memukulkan tongkatnya ke laut, tiba-tiba terbentanglah jalan yang menyelamatkan beliau dan para pengikutnya. Dengan tongkat itu pula, dipukul lagi jalanan yang tadinya terbentang di laut, kembali seperti semula sehingga Firaun pun tenggelam (QS. Al-A'raf: 177) dan (QS. Asy-Syu'ara': 45 dan 63).

Dengan tongkat itu pula Nabi Musa dapa memperlihatkan kemahabesaran Allah yang dapat mengeluarkan air dari celah-celah batu (QS. Al-Baqarah: 60).

Adapun di dalam bentuk plural 'ishiyy (عصي), ditemukan sebanyak 2 kali (QS. Thaha: 66) dan (QS. Asy-Syu'ara: 44), masing-masing berkaitan dengan tongkat-tongkat yang digunakan ahli sihir Firaun untuk menghadapi Nabi Musa. [dutaislam.com/ka]

Sumber:
Ensiklopedia Al-Qur'an, Kajian Kosakata, Jilid: I, hlm: 32-33, ditulis M. Galib Matola

Jual Kitab Kuning Pethuk

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB