Adzab dan Siksa Allah Bagi Seorang Muslim dalam Tafsir Al-Qur'an
Cari Berita

Advertisement

Adzab dan Siksa Allah Bagi Seorang Muslim dalam Tafsir Al-Qur'an

Duta Islam #07
Sabtu, 12 Desember 2020
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami
adzab dan siksa allah
Asal usul adzab. Foto: istimewa


DutaIslam.Com - Kata adzab merupakan ism masdar dari adzdzaba-yu'adzdzibu, sedangkan bentuk mashdar nya adalah ta'dzib. Bentuk jamak dari kata adzab adalah a'dzibah. Kata adzab dan ta'dzib ini bisa berarti menghalangi seseorang dari makan dan minum atau perbuatan memukul seseorang dan bisa pula berarti keadaan yang memberati pundak seseorang. Dari pengertian terakhir inilah kata adzab digunakan untuk menyebut segala sesuatu yang menimbulkan kesulitan, atau menyakitkan dan memberatkan beban jiwa dan atau fisik, seperti penjatuhan sanksi. 

Kata adzab dan kata-kata lain yang seasal dengan kata itu ada di dalam Al-Qur'an dan disebutkan 329 kali, mengacu kepada dua macam sanksi. Pertama sanksi yang ditimpakan kepada manusia di dalam kehidupannya di dunia ini, baik yang berasal dari Allah maupun yang dilakukan oleh seseorang atau suatu golongan tertentu. Kedua, sanksi yang ditimpakan-Nya kepada manusia di akhirat nanti, 


Dijelaskan dalam (QS. Al-Baqarah: 49), (QS. Al-A'raf: 141), (QS. Ibrahim: 6), dan (QS. Ad-Dukhan: 30 dan 31) berbicara mengenai siksaan yang dilakukan oleh Firaun beserta para pengikut terhadap Bani Israil. Di antara siksaan itu adalah membunuh semua bayi laki-laki yang lahir di kalangan Bani Israil, dan membiarkan bayi-bayi perempuan tetap hidup. Siksaan itu merupakan ujian yang sangat berat bagi mereka. Adapun QS. (Az-Zukhruf: 48) menyatakan bahwa Allah menimpakan sebagian dari siksaan-Nya terhadap Firaun dan para pengikutnya dengan harapan agar mereka menyadari kekeliruannya dan kembali kepada jalan yang benar.

Dalam (QS. Al-Anfal: 32) dan (QS. Al-Ankabut: 29, 53 serta 54) berbicara mengenai sikap orang-orang yang menentang dakwah yang disampaikan oleh para Rasul Allah, seperti Nabi Luth dan Nabi Muhammad saw. Sikap keras dan penolakan orang-orang musyrik pada masa Rasulullah saw. Misalnya diungkapkan di dalam (QS. Al-Anfal: 32). Jika Al-Qur'an itu benar-benar berasal dari Allah, kata mereka, turunkanlah hujan batu dari langit atau datangkanlah siksaan yang pedih. Nabi Luth juga ditantang oleh umatnya untuk membuktikan kebenaran dakwahnya itu dengan datangnya siksaan dari Allah, seperti yang dikemukakan di dalam (QS. Al-Ankabut: 29). (QS. Ar-Ra'd: 3). (QS. An-Nahl: 55), dan (QS. Az-Zumar: 25) yang menegaskan bahwa keengganan dan sikap menentang itu hanya akan mengundang datangnya siksaan Allah dari arah yang tidak mereka perkirakan.

Ayat-ayat yang berbicara tentang siksaan Allah terhadap orang-orang kafir di akhirat kelak, antara lain, ada yang disebutkan tanpa merangkaikannya dengan kata sifat, ada pula yang dirangkaikan dengan kata sifat tertentu, seperti alim ( عَالِمٌ), azhim ( عَظِيْمَ), muhin ( موهين),  syadid ( شديد), muqim ( مقيم), dan ghalizh (غاليز ). Siksaan di akhirat tersebut merupakan wewenang yang hanya dimiliki oleh Allah, dan hakikatnya tidak diketahui oleh siapa pun selain Dia. [dutaislam.com/ka]

Sumber: 
Ensiklopedia Al-Qur'an, Kajian Kosakata, Jilid: I, hlm: 8-9, ditulis oleh zulfikri 
Jual Kitab Kuning Pethuk

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB