Mukjizat Ilmiah Al-Qur'an dalam Kitab Al-I'jazul Ilmi (PDF)
Cari Berita

Advertisement

Mukjizat Ilmiah Al-Qur'an dalam Kitab Al-I'jazul Ilmi (PDF)

Duta Islam #01
Jumat, 11 September 2020
Jual Kaos Gus Baha

mukjizat alquran dalam bidang sains dan teknologi
Cover I'jazul Ilmi fil Qur'an was Sunnah PDF. Foto: dutaislam.com.

Oleh M. Yusuf Al Faruq

Dutaislam.com - Al-Qur'an sebagai wahyu ilahi yang membuktikan kebenaran risalah Muhammad saw. merupakan kitab suci yang sarat akan berbagai aspek menakjubkan. Tak hanya keindahan gaya bahasanya yang tak tertandingi, selain pemilihan kata-katanya yang begitu teliti, dan ungkapan redaksinya yang amat serasi, Al-Qur'an juga memuat berbagai pemberitaan gaib dan pernyataan prediktif yang pada akhirnya terbukti kebenarannya.

Di sisi lain, Al-Qur'an juga menyebut banyak isyarat ilmiah yang belum diketahui oleh umat manusia pada saat turunnya wahyu ilahi tersebut. Ajaibnya, perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi terkini justru mengonfirmasi kebenaran isyarat ilmiah tersebut satu demi satu. Tak pelak, deretan keistimewaan Al-Qur'an yang sangat menonjol ini memukau intelektualitas manusia dari masa ke masa dan mampu membungkam siapa saja yang meragukannya. Pendek kata, Al-Qur'an tampil sebagai mukjizat terbesar sepanjang masa.

Dalam studi Ulumul Qur’an, kemukjizatan Al-Qur'an bisa dilihat dari beberapa sisi. Keistimewaan aspek keindahan retorika Al-Qur'an disebut al-i’jaz al-bayani. Sedangkan kemukjizatan perihal pemberitaan gaib dalam Al-Qur'an, baik peristiwa masa lalu yang telah ditelan sejarah maupun hal gaib di masa mendatang yang belum terjadi saat diinformasikan Al-Qur'an dinamai al-i’jaz al-ghaybi.

Adapun mukjizat Al-Qur'an terkait penyebutan berbagai isyarat ilmiah yang belum diketahui oleh Nabi Muhammad saw. dan bahkan semua manusia beberapa abad setelahnya dikenal dengan al-i’jaz al-‘ilmi. Aspek kemukjizatan ilmiah dalam Al-Qur'an ini merupakan ranah baru dalam perjalanan studi Al-Qur'an yang bisa menjadi pintu masuk hidayah bagi non muslim, lebih-lebih bagi mereka yang mengagumi ilmu pengetahuan. Karenanya, tak sedikit cendekiawan muslim yang terdorong untuk terus melakukan penelitian ilmiah dalam rangka membedah aspek sains Al-Qur'an.

Salah satu cendekiawan yang melakukan kajian serius tentang kemukjizatan ilmiah Al-Qur'an adalah Abdullah bin Abdul Aziz Al-Mushlih, seorang profesor di Universitas Muhammad Ibn Saud. Dalam karyanya Al-I’jaz al-‘Ilmi fil-Qur’an was-Sunnah, Al-Mushlih berhasil membedah puluhan ayat Al-Qur'an dan beberapa sabda Nabi yang mengetengahkan berbagai isyarat ilmiah kemudian membuktikan kebenarannya berdasarkan penelitian mendalam dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Hasil penelitian ini semakin meyakinkan lantaran Al-Mushlih dibantu oleh sederet pakar yang berkompeten di bidangnya. Menariknya, buku Al-I’jaz al-‘Ilmi karya Al-Mushlih yang pertama kali terbit pada 2008 ini disusun dalam format buku ajar bagi mahasiswa tingkat universitas. Sebuah metode penulisan buku yang tergolong baru dalam sejarah studi Al-Qur'an.

=======
IDENTITAS KITAB:
Nama : Al-I’jaz al-‘Ilmi fil-Qur’an Was-Sunnah (Manhaj at-Tadris al-Jami’i)
Penulis : Abdullah bin Abdul Aziz al-Mushlih
Penerbit : Dar Jiyad - Jeddah
Tahun terbit : 2008
Tebal : 366 halaman
Size PDF : 8,3 MB
Link Download PDF : Al-I’jaz al-‘Ilmi fil-Qur’an Was-Sunnah
=======

Al-Mushlih membagi kajiannya dalam sepuluh bab. Masing-masing bab tersusun secara sistematis memuat urgensi dan tujuan kajian, pendahuluan, pembahasan yang terdiri atas beberapa subbab, kesimpulan, dan evaluasi. Bagian evaluasi sendiri terdiri dari soal pilihan ganda, soal dengan jawaban benar atau salah, soal esai, dan penugasan.

Bab pertama buku ini merupakan pengantar yang berisi batasan i’jaz ‘ilmi, distingsinya dengan tafsir ilmi, berikut faedah kajian ini. Dilanjutkan pada bab-bab setelahnya tentang paparan analisis ayat-ayat Al-Qur'an dan hadist Nabi yang menunjukkan aspek kemukjizatan ilmiah berkaitan dengan embriologi, anatomi, biologi, zoologi, meteorologi, astronomi, geografi, oseanografi, ilmu gizi dan terapi medis.

Mengingat kajiannya yang mengungkapkan aneka temuan ilmiah terbaru dan usia buku yang masih terbilang muda, pembaca buku ini harus bersiap dengan sederet istilah ilmu pengetahuan modern yang dituangkan dalam bahasa Arab kontemporer yang barangkali tidak ditemukan pada khazanah kitab kuning yang banyak dikaji di pesantren.

Lebih dari itu, tak sedikit kosakata dalam buku ini yang tidak terdaftar dalam literatur kamus babon sekalipun. Karenanya, agar tidak gagal paham dalam membaca Buku Al-I’jaz al-‘Ilmi karya Al-Mushlih ini, pembaca perlu membarenginya dengan penggalian informasi terkait penemuan ilmiah yang dikaji dari berbagai sumber.

Kontribusi Al-Mushlih dalam mengkaji kemukjizatan ilmiah Al-Qur'an terletak pada beberapa temuannya yang belum banyak direkam dalam karya-karya sejenis yang mendahuluinya. Dalam hal embriologi misalnya, fakta ilmiah menyebut bahwa fase perkembangan janin mulai dari fase nuthfah yang mencakup percampuran sperma dan ovum, fase ‘alaqah (implantasi embrio pada dinding rahim), fase mudhghah yakni bertumbuhnya embrio menjadi sesuatu yang menyerupai sekerat daging kecil, fase pembentukan tulang rawan hingga fase pembungkusan tulang dengan daging sampai fase akhir kehamilan sangat persis dengan apa yang disebutkan oleh Al-Qur'an (QS. Al-Hajj/22: 5; QS. Al-Mu’minun/23: 12-14) dan hadist 14 abad yang lalu, saat di mana permasalahan cikal bakal manusia belum terpikirkan secara detail.

Hal ini selaras dengan fakta dalam embriologi bahwa tulang rawan tercipta terlebih dahulu, baru dibungkus dengan sel otot pada minggu ke-8 sejak pembuahan ovum. Ultrasonografi (USG) menyebutkan bahwa organ luar dan dalam manusia tercipta pada minggu ke-4 sampai minggu ke-8 dari usia janin. Sehingga anggota tubuh janin secara lengkap sudah dapat dilihat melalui USG pada trimester pertama. Sedangkan pada minggu ke-9 sampai ke-12 dimulailah fase pertumbuhan (nasy'ah khalqan akhar) sehingga bentuk janin secara bertahap mengalami banyak perubahan. Ukuran kepala yang asalnya besar perlahan mengecil, paha yang sebelumnya pendek mulai memanjang. Pada fase ini anggota tubuh janin sudah terbentuk lengkap dan sempurna sehingga mulai berfungsi (QS. Al-Infithar/72: 7-8).

Keserasian antara fase perkembangan janin temuan embriologi dengan isyarat Al-Qur'an ini merupakan bukti nyata bahwa kitab suci tersebut bukanlah karangan Muhammad saw., melainkan firman Allah swt., satu-satunya pencipta semesta raya. Al-Mushlih menyebut bahwa temuan ilmiah embriologi yang mengonfirmasi kebenaran isyarat kitab suci ini menjadi gerbang awal terdorongnya penggalian beragam aspek kemukjizatan ilmiah Al-Qur'an oleh para cendekiawan muslim.

Dalam QS. An-Nisa/4: 56 misalnya, tergambar bagaimana Allah menyiksa orang-orang kafir di neraka kelak. “Setiap kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit lain, supaya mereka merasakan pedihnya siksaan”. Artinya, yang menjadi objek siksaan neraka adalah kulit. Tiap kali kulit terbakar dan kehilangan struktur jaringan berikut fungsinya, rasa pedih akan siksaan tak lagi terasa. Karenanya Allah menggantinya dengan kulit baru dengan struktur jaringan dan fungsi sempurna agar mereka yang menolak kebenaran firman Allah merasakan pedihnya siksa  neraka. Ini mengisyaratkan bahwa kulit memiliki peran utama dalam merasakan sakitnya luka bakar.

Dalam hal ini, Al-Mushlih menyebut bahwa para pakar anatomi modern berhasil mengungkap bahwa kulit merupakan bagian tubuh yang paling kaya akan ujung saraf yang berfungsi mentransfer rasa sakit karena panas. Orang yang terkena luka bakar parah sekujur tubuh tak akan terlalu merasakan sakit sebab turut terbakarnya ujung saraf yang mentransfer rasa sakit itu. Lain halnya dengan orang yang terkena luka bakar derajat satu atau dua. Saat itu rasa nyeri akan terasa begitu menyakitkan. Lihatlah apakah mungkin manusia mengetahui realitas ini sebelum ditemukannya mikroskop dan kemajuan ilmu anatomi? Jika tidak, semakin teranglah kemukjizatan Al-Qur'an sebagai firman sekaligus tanda kekuasaan Allah, bukan omong kosong Muhammad saw. sebagaimana dituduhkan para penentangnya.

Masih ada banyak sekali kemukjizatan ilmiah Al-Qur'an yang diungkap dalam Buku Al-I’jaz al-‘Ilmi karya Al-Mushlih ini. Perihal deskripsi awan kumulus, gelapnya angkasa raya, isyarat permukaan darat terendah di muka bumi, berbagai keajabian di samudera, dan sebagainya.

Salah satu pembahasan yang juga menarik adalah tentang keistimewaan lebah. Disebutkan dalam QS. An-Nahl/16: 68-69, bahwa redaksi yang dipakai Allah dalam mengilhami lebah untuk membuat sarang dan mencari makan diungkapkan dalam bentuk feminin (ittakhidzi, kuli, fasluki). Padahal lebah (an-nahl) secara morfologis berbentuk maskulin. Rupanya, penelitian ilmiah menemukan bahwa dalam satu koloni lebah terdiri atas satu ratu, ratusan lebah jantan, dan puluhan ribu lebah bentina. Lebah betina itulah ternyata yang bertugas sebagai lebah pekerja. Subhanallah!

Dalam hal makanan lebah, disebutkan pada ayat tersebut “tsumma kuli min kullits-tsamarat” (makanlah dari setiap buah-buahan), bukan “isyrabi” (minumlah). Ini menunjukkan lebah tidak hanya menghisap nektar sebagaimana anggapan banyak orang, namun juga memakan serbuk sari. Karenanya, lebah tidak hanya menghasilkan madu namun juga cairan lain seperti bee pollen, royal jelly, dan propolis.

Penemuan ilmiah menyebut bahwa keseluruhan superfood yang dihasilkan lebah ini berkhasiat tinggi dalam menjaga kesehatan dan perawatan kecantikan. Ini persis sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an, “yakhruju min buthuniha syarabun mukhtalifun alwanuhu fihi syifa'un linnas” (Dari perut lebah itu keluar cairan yang berbeda jenis dan warnanya, lagi menyehatkan). Tampak dalam ayat ini betapa isyarat ilmiah Al-Qur'an berpadu dengan ketelitian redaksinya dimana kata “syarab” disebut dalam bentuk nakirah (umum) yang mengisyaratkan produk lebah memang tidak hanya madu.

Adapun terkait kemukjizatan ilmiah sabda Nabi, karya ini menyebutkan tidak kurang dari 6 topik. Di antaranya hadist yang menyatakan bahwa tulang ekor manusia adalah satu-satunya bagian tubuh yang tak akan hancur ditelan bumi. Ia akan menjadi bahan dasar kelak saat manusia dibangkitkan setelah mati. Penelitian modern menemukan bahwa hal ini benar adanya. Demikian pula hadist yang menyebut persendian manusia yang berjumlah 360 sendi yang rupanya sesuai dengan perhitungan ilmiah para pakar anatomi.

Tak hanya melakukan kajian berbasis temuan ilmiah para pakar ilmu pengetahuan modern, Al-Mushlih juga mendasari setiap ayat yang dikaji dengan aneka ragam perspektif mufassir kenamaan semacam Al-Thabari, Ibn Katsir, Al-Razi, Al-Alusi, Al-Baidhawi, Ibn ‘Asyur, Al-Khazin dan sebagainya.

Di samping itu, Al-Mushlih banyak membantu pembaca melalui berbagai ilustrasi baik dalam bentuk gambar, diagram, dan tabel. Hanya saja ilustrasi tersebut merupakan gambar hitam putih, jadi tidak keseluruhannya bisa terlihat jelas. Sebagian ilustrasinya tampak jelas, sementara yang lain terlihat buram. Meski demikian, ini sama sekali tidak mengurangi peran kontributif karya ini dalam kajian i’jaz ilmi.

Walhasil, membaca buku ini sama saja dengan memperkuat keimanan dengan argumentasi ilmiah. Bagi pembaca muslim, ini akan membuatnya semakin merasakan keagungan Allah. Sedangkan bagi non muslim, memahami kemukjizatan ilmiah Al-Qur'an bisa saja mengantar mereka untuk mengakui keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw. [dutaislam.com/ab]

Keterangan:
Resensi ini disertakan dalam Lomba Menulis Resensi Kitab Kuning Periode II tahun 2020, kerjasama Unisnu Jepara dan Duta Islam.

M. Yusuf Al Faruq, Pengajar di Pesantren Besongo Semarang dan Ma'had Aly Amtsilati Jepara

Jual Kitab Kuning Pethuk
close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB