Cara Menulis Resensi Kitab Kuning yang Baik dan Berbobot
Cari Berita

Advertisement

Cara Menulis Resensi Kitab Kuning yang Baik dan Berbobot

Duta Islam #01
Jumat, 08 Mei 2020
Buku-buku NU

Lomba Menulis Resensi Duta Islam Periode 1 (2020). Foto: dutaislam.com.

Oleh M Abdullah Badri

Dutaislam.com - Resensi adalah sebuah tulisan yang mengulas atau menjelaskan tentang seluk beluk sebuah karya, bisa berupa buku (fiksi atau non-fiksi), kitab, film atau bahkan sebuah lukisan seni.

Bisa dibilang, resensi adalah pendapat Anda tentang sebuah karya dari seorang kreator; penulis (untuk buku), pelukis (seniman), muallif (penulis kitab), atau sutradara (untuk resensi film). Bagaimana Anda menilai karya-karya buatan mereka, itulah resensi Anda, pendapat Anda, opini Anda.

Baca: Lomba Menulis Resensi Kitab Kuning Periode I (28 April 2020 - 30 Mei 2020)

Karena itulah, karya sebuah resensi masuk dalam kategori artikel opini yang semi ilmiah atau artikel populer. Mengapa semi ilmiah? Karena di dalamnya Anda tidak perlu menyertakan footnote (catatan kaki) atau daftar pustaka seperti menulis skripsi, tesis, karya ilmiah di jurnal atau lainnya.

Resensi hanya fokus kepada pembahasan karya yang diulas. Tidak boleh melebar. Misalnya, bila Anda menulis resensi Kitab Kuning Bidayatul Hidayah, tidak usahlah menyertakan nasib penulisnya saat menulis karya tersebut terlalu panjang. Bila perlu menyantumkan biografi pengarang Bidayatul Hidayah, tulis saja cukup; misalnya, tahun wafat. Cukup. Begitu saja. Biar tidak melebar. Selebihnya ulas hasil tulisan muallifnya.

Anda bisa menulis lumayan panjang lebar bila ketika menulis resensi Anda memaksudkan untuk dijadikan sebagai resensi perbandingan. Misalnya, Anda menulis resensi Kitab Fathul Qarib, maka, -bila ingin membandingkan-, boleh ditulis panjang lebar dengan menyertakan perbedaan dan kesamaan Fathul Qorib dengan Fathul Mu'in. Boleh panjang lebar kalau maksud Anda menulis untuk perbandingan.

Cara Menulis Resensi Kitab Kuning


Seperti menulis resensi buku dan film, tahapan menulis resensi kitab kuning tidak jauh berbeda. Berikut saya jelaskan secara singkat.

1. Tulis Data-Data Kitab. 
Karena yang Anda tulis adalah kitab, maka, Anda perlu mengetahui identitas kitabnya. Dimulai dari judul kitab secara lengkap, cover kitabnya, nama penulis lengkap, penerbit, tahun terbit, tebal halaman, ISBN (jika ada), harga kitab (bila perlu), dan data-data lainnya (bila ada).

Jika kitab tersebut adalah hasil terjemahan dari kitab asli berbahasa Arab, maka, Anda harus menyertakan nama penerjemahnya. Bila ada editornya (penahqiq), sertakan pula nama editor tersebut. Biar jelas. Dalam fenomena karya kitab kuning, kadang ada judul kitab yang ditahrif (diubah) oleh editornya. Bila Anda menyertakan siapa penahqiq-nya, maka pembaca kelak akan paham hakikat kitab yang sedang Anda resensi.

Tambahan, bila kitab yang Anda resensi itu hanya ada dalam format digital PDF, sertakan link asalnya dan space berat Mega Bait-nya. Biar pembaca langsung mendownload dan memeriksanya secara langsung setelah rampung membaca resensi Anda.

Contoh penyertakan identitas kitab kuning PDF yang diresensi secara lengkap, seperti di bawah ini:

========
IDENTITAS KITAB:
Nama Kitab : Khowashul Qur'an (PDF)
Penulis    : Imam Abu Hamid Imam Al-Ghazali
Tahqiq     : Majdi Muhammad as-Sahawi, Intelektual Mesir
Penerbit   : -
Tebal      : 106 halaman
Size       : 22.8 MB
Link Download: Kitab Khowashul Qur'an (PDF)
=======

2. Gunakan Kata Pengantar Resensi Kitab
Kata pengantar ditulis 1-2 paragraf saja. Jangan kebanyakan. Dan jangan muter-muter. Fokuslah. Bila Anda sedang menulis resensi Kitab Kuning Aklak Lil Banat (Akhlak Untuk Remaja Putri) misalnya, pengantarnya langsung ke masalah pentingnya akhlak bagi remaja putri sejak dini. Contohnya:

"Kepribadian seorang perempuan ketika masa dewasa dan atau masa tua tergantung sejauh mana didikannya di masa kecil. Masa kecil menjadi gerbang awal pembentuk pribadi perempuan di masa depan. Jika di masa kecil ia dididik dengan tata aturan yang baik, maka ia akan memiliki kepribadian yang baik". (Sumber: dutaislam.com)

Cukup begitu saja. Sudah baik. Kata pengantar yang baik ya yang singkat, padat, dan bisa lengsung mengantarkan kepada inti pembahasan selanjutnya. Jangan panjang kali lebar. Fokus, fokus dan fokus. Itu yang baik.

3. Ulas Isi Kitab atau Kelebihan dan Kekurangan
Setelah menulis data kitab, pengantar resensi kitab, tahap selanjutnya adalah mengulas isi kitab. Jangan mengulas sub tema saja. Menulis resensi Kitab Alfiyah misalnya, jangan mengulas satu tema di dalamnya saja, misalnya hanya mengambil tema "Na'at" saja, tanpa menyinggung tema lainnya. Hasilnya akan tidak utuh.

Karena itulah, untuk menggambarkan secara utuh, paling tidak Anda harus menyertakan judul-judul tema yang Anda anggap penting saja untuk diulas. Jangan diulas semuanya, kepanjangan nantinya. Contoh:

"Kitab Kasyfut Tabariih fi Bayani Shalatit Tarawih terdiri atas tiga bab dan satu mas'alah. Bab yang pertama berisi tentang pemaparan hadits-hadits Nabi Muhammad Saw. mengenai shalat tarawih. Sebanyak lima hadits yang dipaparkan dalam bab ini dilengkapi dengan para perawinya. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Imam Malik dalam Kitab Al Muwattho". (Sumber: dutaislam.com)

Selain mengulas kitab, Anda boleh menilai kelebihan atau kekurangan kitab. Jangan hanya tataletaknya. Basi. Tidak update. Ulas kekurangan ide atau pendapat penulis kitab. Dalam tahapan ini, Anda berposisi sebagai pengamat atau kritikus sebuah kitab. Bila Anda sedang menulis resensi kitab-kitab karya Imam Al-Ghazali misalnya, maka, Anda sedang beroposisi sebagai lawan bicara Imam Al-Ghazali. Contohnya, silakan baca dua paragraf di bawah ini:

"Sikapnya yang anti-gender juga tampak dalam hal pelarangan wanita (istri) untuk konsultasi dengan dokter laki-laki dalam masalah kehamilan tanpa didampingi suami. Lebih dari itu, Sayyid juga melarang wanita bernyanyi, bukan karena suara wanita aurat, tapi karena dapat menimbulkan fitnah. 

Sebaliknya, menurut Sayyid Muhammad Alawi, wanita (istri) lebih terhormat dan mulia bila bertugas di sektor internal rumah tangga dari pada di sektor publik, seperti turut berpartisipasi dalam kontestasi politik sebagai perwakilan rakyat. Intinya, bagi Sayyid Muhammad Al-Maliki, wanita (istri) tetap mengambil peran domestik rumah tangga, sedangkan peran publik menjadi tanggungjawab suami (lelaki)". (Sumber: dutaislam.com).

4. Kesimpulan
Menulis resensi jelas harus berakhir pada kesimpulan. Sudah mengulas, tapi tidak menyimpulkan, itu kurang baik. Kesimpulan dalam resensi adalah pendapat Anda secara sepihak tentang isi kitab. Harus ada. Contohnya adalah dua pargaraf di bawah ini:

"Sesuai dengan kronologi asal-muasal kitab ini disusun, kitab ini berusaha mengcounter klaim sepihak kelompok yang berbeda pendapat seputar shalat tarawih dengan apa yang telah dilaksanakan oleh mayoritas warga nahdliyyin.

Meskipun saat ini perbincangan kontroversi seputar shalat tarawih sudah dianggap usang, namun hadirnya kitab ini merupakan wujud kepedulian dan kasih sayang seorang ulama pada umatnya, yang spiritnya harus senantiasa dijaga oleh generasi muda." (Sumber: dutaislam.com)

Demikian cara menulis resensi kitab kuning yang baik, yang datanya diambil dari Duta Islam semuanya. Silakan mulai menulis resensi kitab, terutama yang ada format PDF nya. Anda tidak perlu membeli, tapi bisa mengulas secara berkualitas atau berbobot. [dutaislam.com/uf]

Jual Kitab Kuning Pethuk
close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB