Menyoal Kemunculan Aa Gym Sebagai Ulama Karbitan
Cari Berita

Advertisement

Menyoal Kemunculan Aa Gym Sebagai Ulama Karbitan

Duta Islam #01
Senin, 13 Januari 2020
Jual Kaos Gus Baha

status ulama aa gym
Ilsutrasi: Foto Aa Gym.

Oleh Kajitow Elkayeni

Dutaislam.com - Saya punya kategori ketat untuk menganggap seseorang ulama. Tidak semua orang yang bisa ceramah layak disebut ulama. Mereka cukup disebut penceramah atau tukang pidato. Aa Gym ada dalam aras pemahaman ini. Beliau pandai berceramah. Tapi tak menguasai ilmu agama secara mendalam. Bagi saya, Aa Gym bukan ulama.

Saya percaya, ada beberapa pekerjaan yang bisa dilakukan secara otodidak. Tapi tidak dengan menjadi ulama. Ada proses panjang di bawah bimbingan guru yang mesti dilalui. Seseorang baru layak disebut ulama, saat ilmu yang dimilikinya itu diamalkan di tengah masyarakat.

Coba bandingkan dengan proses pendidikan agama yang diperoleh Aa Gym. Ia hanyalah seorang ulama karbitan, yang didisain oleh dinamika politik saat itu.

Konon, ketika Zaenuddin MZ mulai merambah dunia politik, para politikus cemas. Dimunculkanlah sosok tandingan untuk proses desakralisasi. Figur Zaenuddin MZ kemudian tertandingi dengan kemunculan Aa Gym.

Tapi sayangnya, emas dan loyang jelas berbeda. Aa Gym juga begitu. Ketika sampai pada titik puncaknya, orang-orang mulai curiga. Benarkah sang ulama karbitan itu menguasai berbagai ilmu keagamaan?

Pamornya meredup ketika ia menikah lagi. Istri pertama yang menjadi sumber inspirasi dan ilmu pengetahuan, dia campakkan waktu itu. Akibatnya selama beberapa tahun namanya nyaris lenyap. Baca: Kritik Kepada Aa Gym yang Hardik Guru Karena Rokok.

Titik kemunculan kembali Aa Gym dimulai ketika Ahok mencalonkan diri sebagai gubernur DKI Jakarta. Dengan modal ilmu agama pas-pasan, Aa Gym turut meramaikan demonstrasi besar untuk mengagalkan Ahok.

Bagi Aa Gym, tentu sulit mencerna tafsir Quran, yang mungkin tidak dipelajarinya sewaktu muda. Ayat-ayat yang disitirnya hanya mampu diraba secara harfiah. Oleh sebab itu, fatwa yang muncul dari orang sejenis ini cenderung menyesatkan.

Maka tak aneh, jika dalam ceramahnya Aa Gym hanya membahas hal-hal remeh. Karena memang tidak cukup kemampuan untuk menjangkau bahasan yang lebih rumit. Jangan tanya ushul fiqh atau soal Ilmu Kalam. Masalah fiqh dasar saja barang kali belepotan.

Dari sudut pandang inilah mestinya orang-orang melihat Aa Gym. Tidak heran jika kemudian dalam menyikapi fenomena, Aa Gym kehilangan rasa adil. Misalnya soal banjir Jakarta. Di zaman Ahok, ia memberikan sindiran. Di zaman Anies, ia memberikan pujian. Padahal topiknya sama: banjir.

Tetapi Aa Gym tidak keliru. Orang banyaklah yang mesti menanggung kesalahan. Mereka yang mengangkat seseorang melebihi kapasitas yang dimilikinya. Tanpa ilmu pengetahuan yang mumpuni, orang-orang seperti Aa Gym didaulat menjadi ulama. Hasilnya kerusakan. 

Begitu mudahnya menjadi ulama di Indonesia. Tidak ada ujian kompetensi. Tidakl ada pertanggung-jawaban moral. Seseorang hanya perlu berbuih-buih kata. Pandai memukau khalayak dengan bahasa membius.

Hal inilah yang kemudian membuat ormas semacam MUI tidak jelas posisinya. Keulamaan menjadi begitu receh ketika kita melihat figur seperti Tengku Zul. Padahal mestinya, seorang ulama selain mumpuni keilmuannya, juga bertabiat baik. Seorang pencela tidak layak menjadi ulama.

Fenomena Aa Gym adalah wajah palsu keagamaan di Indonesia. Begitu mudahnya dikapitalisasi dan dipolitisir. Orang seperti Aa Gym, yang barangkali juga buta kitab kuning, mendadak ngulama.

Di tengah kebisingan ulama medioker itu, kementerian Agama tak bisa berbuat apa-apa. Untuk mencabut sertifikasi halal dari ormas seperti MUI saja ciut nyalinya. Apalagi menertibkan ulama-ulama ecek-ecek yang tak layak menyandang gelarnya. [dutaislam.com/ab]

Jual Kitab Kuning Pethuk
close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB