Mbah Kiai Ibrohim Brumbung, Penerus Thariqah dari Syaikh Abdul Karim Banten
Cari Berita

Advertisement

Mbah Kiai Ibrohim Brumbung, Penerus Thariqah dari Syaikh Abdul Karim Banten

Duta Islam #01
Sabtu, 25 Januari 2020

silsilah dan sejarah kiai ibrohim demak brumbung
Foto dan makam Kiai Ibrohim Brumbung, Demak, Jawa Tengah.

Oleh Miqdad Sya'roni

Dutaislam.com - Mbah Ibrohim, begitulah sebutan masyarakat Brumbung Mranggen Demak Jawa Tengah kepada salah satu ulama' yang juga cucu Sunan Terboyo, Raden Surohadi Menggolo alias Sayyid Muhammad - yang makamnya ada di belakang Masjid Terboyo, Semarang, Jawa Tengah.

Dari urutan silsilah, Mbah Ibrohim memiliki jalur putra dari Raden Thohir bin Yudo Negoro yang juga disebut sebagai Raden Syahid. Beliau merupakan putra Mbah Raden Surohadi Menggolo yang bernana asli Sayyid Muhammad (nama populer Sunan Terboyo).

Dari silsilah ini, kita tahu bahwa beliau adalah keturunan seorang pejuang Islam yang sangat gigih, yang meletakkan jihad di hati dan keikhlasan yang menemani perjuangan yang ingin menjadikan para keturunannya menjadi pejuang dan penyebar Islam.

Diceritakan, Ibrohim muda saat itu terus mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain, dari pondok pesantren ke pondok pesantren yang lain. Bahkan Mbah Ibrohim belajar sampai ke Makkah Mukaromah (Saudi Arabia sekarang) hingga sampai pada satu tempat di Suqullail Makkah.

Suqullail merupakan tempat lahirnya Nabi Muhammad Saw. yang berada di Makkah. Saat inilah Mbah Ibrohim belajar dan berguru tentang ilmu tarekat kepada Syeh Abdul Karim Al-Bantani, orangtua Syaikh Nawawi Banten.

Kita ketahui bersama bahwa Syekh Abdul Karim Al Bantani merupakan Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah terakhir, yang mampu menyatukan kepemimpinan keseluruhan cabang tarekat tersebut. Syekh Abdul Karim merupakan murid dan salah satu khalifah Syeh Achmad Khotib Al-Syambasi (penyusun Qadiriyah wa Naqsyabandiyah).

Syaikh Abdul Karim sendiri (atau sering juga disebut sebagai Kiai Agung) lahir tahun 1250 H / 1830 M yang lahir di Desa Lempuyang, Tanara, Serang, Banten. Namun beliau dimakamkan di Makkah.

Setelah khatam dalam belajar ilmu Thoriqoh, Mbah Ibrahim dibaiat menjadi Khalifah dan guru mursyid Thoriqoh Qodriyah Wa Naqsabandiyah oleh Syaikh Abdul Karim Al Bantani, yang selanjutnya akan mengembangkan di wilayah Jawa Tengah Kabupaten Demak, tepatnya di Desa Brumbung, Kecamatan Mranggen.

Beberapa santri Mbah Ibrohim Brumbung Mranggen banyak yang akhirnya menjadi ulama’ besar dan mempunyai pondok pesantren yang berkembang pesat sampai saat ini, di antaranya adalah:

  1. KH. Abdurrohman Qosidil Khaq (Abahnya KH. Muslih Mranggen)
  2. KH. Abdurrahman Menur (Pendiri PP. Rohmaniyyah Menur Mranggen) 
  3. KH. Faqih Kolilan (Kendal) 
  4. KH. Dahlan Patebon (Kendal)
  5. KH. Mas'ud Gilisari (Waleri, Kendal)
  6. KH. Ihsan Ibrohim (Putra Mbah Ibrohim), Brumbung Mranggen Demak Jawa Tengah 
  7. KH. Muslih Abdurrahman Mranggen (Pendiri PP. Futuhiyah Mranggen) Demak Jawa Tengah


Dalam mengasuh santrinya, Mbah Ibrahim tidak otoriter (memaksakan kehendak), artinya santri diberikan pelajaran dengan tidak terpaksa, tapi mengarahkan untuk di terima dengan ketulusan hati dan penuh keikhlasan.

Diantara karomah Mbah Ibrohim:

1. Ular Besar dan Pengangkatan Kholifah
Suatu ketika Mbah Ibrohim akan mengangkat Kholifah dalam thoriqoh untuk menangani santri santri thariqoh yang sudah tersebar. Sehingga dipanggilah beberapa santri beliau ke mushalla dengan maksud untuk disuruh wiridan (dzikiran) yang sudah di berikan kepada para santri-santrinya. Adapun wiridan tersebut dilaksanakan jam 00:00 atau tengah malam dan akan selesai jika Mbah Ibrohim sudah kembali ke tempat.

Maka para santri mengikuti arahan gurunya, sehingga antara jam 01:30 tiba-tiba ada ular yang sangat besar menghampiri dan lewat di depan para santri yang sedang berdzikir. Sontak para santri berhamburan keluar meninggalkan mushalla tempat dzikiran tadi. Cuma tersisa dua santri yang masih bertahan dan khusu' dalam wiridannya tidak peduli dengan kejadian di sekitarnya, yaitu KH. Abdurrahman Qosidil Khaq Mranggen dan KH. Abdurrahman Menur.

Sehingga setelah kejadian tadi, hanya dua santri Mbah Ibrohim yang lulus ujian, dan keduanya diangkat menjadi badal/khalifah thariqah. Beliau adalah KH. Abdurrahman Qosidil Khaq Mranggen dan KH. Abdurrahman Menur.

2. Kapal Jadi Tak Terbakar Ketika Haji
Pada waktu Mbah Ibrohim berangkat haji yang ketiga -bersama Nyai Hj. Halimah, KH. Ihsan, KH. Chamim dan KH. Muslih- kapal laut (kapal semprong) yang ditumpangi mengalami kebakaran.

Mendengar kejadian tersebut, Bu Nyai Halimah dan dua putranya serta seluruh penumpang jelas panik. Keluarlah Mbah Ibrohim yang saat itu sedang shalat Dhuha.

"Insya Allah kapal ini tak jadi terbakar karena qudrohnya Allah Swt," kata Mbah Ibrohim. Lalu beliau berdoa, "La haula wala quwwata illa billahil aliyyil adhim".

Anehnya, beberapa saat kemudian kobaran api makin berkurang dan terus padam.

Letak makam Mbah Ibrohim bin Raden Thohir bin Yudo Negoro (Raden Syahid) bin Raden Surohadi Menggolo (Sayyid Muhammad) Sunan Terboyo di Jl. Ibrohim desa Brumbung Mranggen Demak Jawa Tengah. Haulnya diperingati setiap tanggal 7-8 Shafar.

Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki mahabbah terhadap para waliyullah, ulama', habaib, kiai dan para guru sehingga kita selalu mendapatkan keberkahan, kebahagiaan, keselamatan dan keridhaan Allah Subhanallah wa Ta'ala. Amin. [dutaislam.com/ab]

Sumber:
1. Manaqib Syaikh Ibrohim Brumbung Mranggen Demak (Ulama'Kharismatik)
2. Wikipedia tentang Syaikh Abdul Karim Al-Bantani

Keterangan:
Artikel di atas sudah ditashihkan kepada KH. Imam Suyuti (Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dan Pengasuh Pondok  Pesantren Ibrohimiyyah Brumbung Mranggen Demak Jawa Tengah).

Miqdad Sya'roni, Santri Pondok Pesantren Ibrohimiyyah, Brumbung, Mranggen Demak

Jual Kitab Kuning Pethuk
close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB