Kisah Makam Pecinta Al-Qur'an yang Pindah Sendiri dari Turki ke Madinah
Cari Berita

Advertisement

Kisah Makam Pecinta Al-Qur'an yang Pindah Sendiri dari Turki ke Madinah

Duta Islam #01
Minggu, 22 Desember 2019

sayyid alwi dan sayyid ahmad al maliki al hasani
Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani. 

Dutaislam.com - Suatu ketika Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani bercerita; dulu ada seorang tua di Turki yang hobinya membaca Al-Qur'an. Dari masa muda memang dia senang membaca Qur'an sampai dimasa tuanya.

Namun ketika dia memasuki usia tua, dia mengalami kesulitan membaca dikarenakan kemampuan matanya sudah tidak seperti dulu lagi.

Lalu ia pun memiliki ide untuk menulis Al-Qur'an dengan tangannya sendiri dan ingin menulis dengan huruf agak besar sesuai dengan yang dia inginkan, supaya ia bisa membaca Al-Qur'an dengan jelas tanpa kesulitan sedikitpun.

Akhirnya selesailah Al-Qur'an hasil tulisan tangannya sendiri. Dan setiap hari ia membaca membawa Al-Qur'an itu kemana-mana.

Suatu saat ketika dia hendak wafat, ia berpesan kepada anaknya, nanti bila ia wafat maka hendaklah Al Qur'an yang dibuat dengan tulisan tangannya sendiri itu di ikut sertakan kedalam jasadnya ke dalam kuburnya.

Selang berapa lama ia pun wafat dan anaknya pun segera menunaikan wasiat ayahnya untuk memasukkan Al-Qur'an itu kedalam kubur ayahnya bersama jasadnya pada saat pemakamannya.

Setelah berlalu satu tahun dari wafat ayahnya, anaknya menunaikan ibadah haji. Dan saat anaknya berada di Madinah, anaknya berjalan-jalan ketempat perbelanjaan. Dan ia memasuki sebuah toko kitab kaligrafi di Madinah. Alangkah terkejut anaknya ketika melihat Al-Qur'an yang ditulis ayahnya ada di toko itu.

Ia pun bertanya kepada penjaga toko itu sambil menunjukkan Al-Qur'an itu kepada penjaga toko

"Dari manakah Al-Qur'an ini didapat?"

"Saya mendapatkan al Qur'an itu dari seorang penggali kubur," jawab penjaga toko.

"Bisakah anda mempertemukan kepada saya penggali kubur tersebut?"

Lalu penjaga toko itu segera mempertemukannya dengan penggali kubur tersebut.

Setelah bertemu dengan penggali kubur itu, anaknya tadi segera bertanya kepada penggali kubur.

"Bagaimana anda bisa mendapatkan Al-Qur'an ini?" Katanya, sambil menunjukkan Al Qur'an tulisan tangan ayahnya kepada penggali kubur tersebut.

"Saat saya menggali kubur untuk seseorang di baqi' (pemakaman di Madinah), saya melihat sebuah jasad masih utuh dan di samping jasad itu ada sebuah Al-Qur'an tulisan tangan persis dengan yang ada di tangan Anda sekarang ini. Saya pun mengambilnya dan menyimpannya, dan suatu ketika saya butuh uang, karena saya butuh uang akhirnya saya menjualnya ke sebuah toko," jawabnya.

"Bisakah Anda menunjukkan kepada saya, dimana letak posisi makam dimana anda menemukan Al-Qur'an ini. Dan kalau anda mau bisakah anda menggali makam tersebut untuk saya sekali saja, karena saya ingin melihat orang yang ada di dalam makam tersebut," terang si anak.

"InsyaAllah saya akan lakukan, bila itu yang anda minta," jawab penggali kubur.

Setelah penggalian dilakukan oleh si penggali kubur. Akhirnya tampaklah, ternyata memang jasad ayahnya yang berada di dalam kubur tersebut, sementara jasadnya dalam keadaan masih utuh.

Anak itupun menangis melihat jasad ayahnya tersebut dan kagum dengan keajaiban tersebut. Padahal dia melihat sendiri saat pemakaman ayahnya itu di Turki setahun yang lalu. Dan bagaimana bisa makam ayahnya sekarang berada di Madinah.

Mengenai hal ini As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani berkata:

المَرْءُ مَعَ مَنْ اَحَبَّ

Artinya:
"Seseorang itu dikumpulkan bersama orang yang dia cintai". 

Baik di dunia, di alam kubur ataupun di akhirat nanti. Karena orang yang di dalam kubur tersebut mencintai Rosululloh Saw, maka Allah Swt. mengumpulkan dia dengan Rosululloh Saw., baik secara dzohir ataupun secara batin.

Menurut Imam Al Ghozali, hal itu bukan suatu perkara yang sulit atau mustahil. Dan kejadian seperti itu memang sudah sering terjadi.

Hal itupun banyak dibahas dalam kitab Karomatul Auliya' karya As-Syeikh Yusuf An Nabhani, Thobaqotul Auliya' karya As-Syeikh Sirojuddin ibnu Al-Mulaqqon, dan Hilyatul Auliya' karya As-Syeikh Abu Nu'aim Al Ashbahani. [dutaislam.com/ab]

IKLANJUAL KITAB KUNING MAKNA PESANTREN
close
Banner iklan disini