Kenangan Bersama Gus Dur Membincang Intelektual Timur Tengah
Cari Berita

Advertisement

Kenangan Bersama Gus Dur Membincang Intelektual Timur Tengah

Duta Islam #01
Senin, 30 Desember 2019
Jual Kaos Gus Baha

gus dur sowan ke kiai di kudus menjelang pemilihan presiden
Gus Dur saat sowan ke KH. Ma'mun Ahmad Kudus.

Oleh Sholla Taufiq

Dutaislam.com - Saat semester lima, kawan dari Al-Azhar Kairo, Mesir, mengajak ke Ciganjur. Pagi buta kami bergegas dari Legoso agar jam 6 pagi sudah sampai di Warung Sila.

Sesampai, kami dapat urutan kedua. Saat itu ada tamu dari Lampung. Dari obrolan, mereka ternyata curhat soal kebun sawitnya yang diserobot perusahaan besar.

Lalu giliran kami. Karena teman mengenalkan diri dari Al-Azhar dan juga aktifis, Gus Dur yang saat itu duduk di kursi dengan celana pendek bicara tentang intelektual disana. Hingga berlarut soal cara main politik pemimpin Malaysia di kancah dunia. 

Pagi itu, Gus Dur dibacakan koran Kompas oleh staf pribadinya. Tak terasa obrolan rombongan kami harus segera disudahi, karena kami sudah dikode dari belakang bahwa jam 7 beliau harus cek rutin darah.

Tahun 2009 - Liputan Wafatnya Guru Bangsa

Lalu, bergegas tahun 2009, sejatinya saya sedang menunggu SK PNS yang tak kunjung turun. Saat itu masih tercatat di Tempo. Sore saat saya libur, ada pesan masuk dari korlip (koordinator liputan) agar segera dan bergegas ke RSCM. 

Infonya, sang guru bangsa wafat. Tak banyak cakap, tak perlu mandi, kutarik gas adik generasi GL Pro Newtech (Mega Pro), menuju RSCM. Lalu kuparkir disebelah Megaria, sekarang XXI Metropole. 

Info di lokasi, Gus Dur segera akan disemayamkan di Ciganjur. Lalu kutarik gas motor lagi, hampir mengiringi jenazah Gus Dur. Mencari parkir yang aman. 

Sore itu, hingga berganti hari, waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB, aku terhanyut melihat semua melayat, mulai dari orang biasa hingga para penguasa, dari yang agamanya beda hingga sukunya. semua datang mendoa. 

Momen paling sakral ialah saat gerbang menuju kediaman tertutup untuk umum. Malam itu, aku bisa menerobos masuk. Lalu kulihat ada Mas Zuhairi Misrawi, Mas Moqsith dan Mas Ulil Abshar Abdalla sedang lesehan di ruang tamu.

Kulanjutkan masuk lebih dalam, kamar yang tak begitu luas, dimana Gus Dur istirahat. Kamar itu hanya muat kira-kira dua baris dengan isi tujuh hingga sepuluh orang tiap barisnya. 

Mereka silih berganti shalat jenazah. Kuputuskan aku duduk di pojok salah satu sudut, melihat merek salat. Aku di belakng mereka. Entah kenapa, sampai lupa sedang liputan. 

Imaji selalu terbanyang saat diskusi dan meliput beberapa momen gus dur seperti Kongkow Bareng Gus Dur yang dipandu oleh Cak di Kedai Tempo. 

Tak terasa saat jam 11 malam, kantor di Vebag mentelepon, bos minta maaf karena ternyata aku liputan di saat posisi sedang libur. Aku jawab, tidak apa-apa, ini spesial karena Gus Dur. 

Kantor terakhir sebelum jadi PNS ini keren. Jam kerja harus sesuai aturan WLO, 8 jam. Tidak boleh lebih. Jika lebih Mas Khoiri menyuruhku pulang. Lalu gajinya juga keren, negosisasiku dikabulkan, gaji disetarakan saat aku di Harian Ekonomi Kontan Kompas-Gramedia. Plus dapat libur dua hari seminggu. 

Warisan momen paling teringat ialah saat Gus Dur bicara tentang intelektual Timur Tengah, dari Hasan Hanafi hingga Hasan Al-Banna. Lalu merembet hingga pertemuan beliau dengan intelektual di sana kala itu. 

Lalu, sang pemimpin Malaysia tadi, Gus Dur tidak berkenan, meskipun sang Wan dari istrinya juga melobi Ibu Shinta. Gus Dur cerita tidak mau ketemu. Yang saya tangkap, silaturahim boleh, tapi jangan dengan hidden agenda. Atau bersikap sebaliknya. Silaturahim ya silaturahim. 

Lalu momen lainya ialah saat Gus Dur berkunjung ke Pondok Pesantren TBS Kudus, tempat ngajiku. Gus Dur datang dua kali, saat hendak menjadi presiden dan saat mau turun dari presiden. Karena dua kali pula kita dengan riang berjejer di pinggir jalan, berpeci hitam, bersarung. Kami layaknya pagar ayu menyambutnya. 

Entah dari mana Gus Dur tahu kiaku yang bukan kiai panggung, padahal ia tak pernah bicara politik atau organisasi. Beliau hanya merawat anak-anak santri mulai dr tingkat MI hingga Aliyah. Hingga sekarang, Aku heran, siapa yang memberitahu tentang kiaiku itu

Sekarang, hampir semua yang ia katakan menjadi nyata meski saat itu banyak yang mencibirnya, dan sekarang, jutaan orang menziarahinya. Aku rindu padamu Gus. Al-Fatihah. [dutaislam.com/ab]

Jual Kitab Kuning Pethuk
close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB