Agar Tidak Salah Memahami Al-Qur'an dan Hadits
Cari Berita

Advertisement

Agar Tidak Salah Memahami Al-Qur'an dan Hadits

Duta Islam #01
Selasa, 24 Desember 2019
Buku-buku NU

pengamalan hadits dhaif dalam ruang lingkup ibadah
Ilsutrasi mengamalkan hadits sesuai dengan sunnah dan tafsir para ulama'. Foto: istimewa. 

Oleh Irfan Fauzi

Dutaislam.com - Sebenarnya, pembelajaran mengenai agama sudah tidak lagi dipahami dengan relasi manusia dengan Tuhan saja, namun lebih luas lagi kepada kesadaran sosiologis (berkelompok), antropologis (mencari asal-usul agama), psikologis (ketenangan jiwa), dan bahkan dorongan untuk meraih derajat kesejahteraan hidup (Habibi Zaman: 2014).

Dalam sejarah Islam, pengalaman dan ekspresi beragama sangat signifikan sekali, terutama dimulai setelah Nabi Muhammad saw. wafat, tepatnya pada masa kekhalifahan Usman dan Ali.

Pada masa awal Islam ini, banyak sekali terbentuknya sebuah aliran-aliran yang mengatasnamakan Islam yang paling benar. Hal ini menunjukan bahwa sebegitu hebatnya pengalaman dan pemahaman beragama mereka dalam mengekspresikan makna Al-Qur’an dan hadits (Fahrurrozi: 2015).

Oleh karena itu, bagaimana pengalaman dan ekspresi beragama itu diamalkan dan dipahami secara universal? Di sinilah penulis akan mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan pengalaman dan ekspresi beragama itu sendiri, lalu konsep apakah yang diterapkan dalam pengalaman dan ekspresi beragama, dan yang terkahir bagaimana ia bersinergi dengan hadits.

Pengalaman dan Ekspresi Keagamaan


Bila meminjam definisinya Willian James, pengalaman keagamaan itu dipahami sebagai pijakan untuk menguraikan fenomena mengenai hal yang bersifat abstrak dari dalam manusia sehingga memunculkan bentuk yang berbeda-beda (William Jame: 2013).

Menurut KBBI, kata pengalaman itu adalah sesuatu yang pernah dialami, dirasai, dijalani. Kemudian kata “agama” di sini diartikan sebagai sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam perilaku sosial tertentu (Khanif Rosidin: 2014). Imbuhan “ke” dan “an” pada kata agama —dibaca keagamaan—diartikan sebagai perilaku seseorang baik langsung atau tidak langsung yang berdasarkan pada ajaran agama-agama.

Baca: Lebih Baik Langsung ke Hadits Yah?

Sementara itu, arti kata ekspresi menurut KBBI adalah  pengungkapan atau proses menyatakan suatu hal, baik berupa gagasan maupun perasaan. Sehinggga dapat disimpulkan bahwa pengalaman dan ekspresi keagamaan itu keduanya bersifat saling tarik-menarik artinya sebuah pengalaman yang diperoleh manusia cenderung mengekspresikannya, jadi terbentuknya suatu ekspresi yang bermakna itu setelah seseorang telah mendapatkan sebuah pengalaman.

Pengalaman keagamaan itu bersifat pribadi (individual experience) dan unik. Artinya, pengalaman keagamaan yang dialami seseorang akan mengalami perbedaan dengan pengalaman yang dialami oleh orang lain. Karena setiap individu yang melaksanakan ajarannya; ritus dan pengabdian, ia akan memperoleh derajat keagamaan (pahala) untuk diri mereka sendiri. Ini sebabnya pengalaman keagamaan seseorang bisa berbeda-beda (Dadang Kahmad: 2013).

Konsep Pengalaman dan Ekspresi Keagamaan


Mengutip pendapatnya Nurcholis Majid (1998), secara garis besar ada tiga tipologi orang beragama, yaitu Ekslusif, Inklusif, dan Pluralis. Pertama, sikap ekslusif adalah sikap yang beranggapan hanya agama sendirilah yang paling benar, agama selainnya dianggap sesat.

Sikap ini cenderung menghasilkan sikap keagamaan yang fundamentalis, radikal, dan tekstualis. Kedua, sikap inklusif adalah sikap yang beranggapan bahwa agama lain merupakan implisit dari agamanya. Sehingga sikap ini cenderung menghasilkan sikap toleransi kepada agama lain.

Ketiga, sikap pluralis adalah sikap yang beranggapan semua agama adalah sama, artinya sama-sama jalan menuju kebenaran yang sama (Nurcholish Madjid: 2008). Tiga tipologi ini —yang menurut teori Joachim Wach (1892-1967)— merupakan manifestasi dari ekspresi pengalaman keagamaan dan menjadi sesuaatu yang dihayati sebagai realitas mutlak/yang bersifat ketuhanan (Joachim Wach: 1996).

Konsep yang telah diungkapkan di atas dapat dilihat dalam tiga bentuk. Pertama, ekspresi dalam bentuk konsep-konsep atau ajaran yang bercorak teoritis dan intelektualistis, seperti berbentuk simbol, mitos, dan dogma, seperti Al-Qur’an dan hadits.

Kedua, ekspresi dalam bentuk amalan/tingkah laku, seperti kegiatan ibadah dan pengabdian, berkurban, atau mencontoh tingkah laku pemimpin agama, yakni Nabi Muhammad saw. Ketiga, ekspresi dalam bentuk sosialisasi, seperti saling mendoakan sesama muslim dan saling tolong menolong antar umat beragama.

Dengan demikian, bilamana konsep ini telah ditanamkan dalam diri seseorang, niscaya kerukunan dapat dirasakan bersama, tidak ada lagi rasa benci terhadap sesama muslim dan menaruh sifat toleran antar umat beragama.

Upaya Mengamalkan Haditst dalam Beragama


Banyak seseorang yang memahami suatu hadits cenderung berbeda-beda, hal ini merupakan suatu keniscayaan karena “li kulli ra’sin ra’yun” (setiap kepala itu memiliki perspektif masing-masing).

Di samping itu, hendaknya seseorang tidak terburu-buru dalam mengamalkan atau menyampaikan kandungan hadits tersebut sebelum crosschek kepada ahlinya, “fas’alu ahladz-dzikri inkuntum laa ta’lamun” (bertanyalah kepada ahli dzikir bila engkau belum tahu), apakah hadits itu layak diamalkan dan dijadikan hujjah.

Belum berhenti disitu. Kita juga harus meneliti apa yang melatarbelakangi hadits itu turun (asbabul-wurud), bagaiamana kondisi kala itu dan bagaimana dikontekstualkan pada zaman sekarang, apakah masih relevan atau tidak.

Baca: Hadist Tentang Melihat Nabi dalam Keadaan Terjaga

Sehingga bila hadits dipahami demikian, maka seseorang akan mendapatkan makna kandungan haditst itu secara utuh, tidak setengah-setengah. Dengan demikian pula, di samping hadits sebagai sumber ajaran Islam kedua, hadits juga akan terus hidup dalam situasi dan keadaan apapun. Maka,  benarlah bahwa Al-Qur’an dan hadits adalah “shalih li kulli zaman wa makan” (bermanfaat di setiap situasi dan kondisi).

Dalam akhir pembahasan ini, penulis mengajak kepada setiap orang; bagi mereka yang hendak mengamalkan suatu hadits perlu untuk menguasai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu tersebut.

Supaya apa yang telah dipahami terhadap hadits itu menjadi sebuah pengalaman pribadi baginya lalu kemudian mengekspresikan pengalaman tersebut untuk menjalankan rutinitas keberagamaannya, baik bersosialisasi dengan sang penciptanya (hablun minallah) atau masyarakat (hablun minannas) ataupun dalam rangka menjaga kerukunan antar umat beragama. [dutaIslam.com/ab]

Irfan Fauzi,
mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Daftar Pustaka:
  1. Ahmad, Dadang. Metode Penelitian Agama; Perspektif Ilmu Perbandingan Agama. Bandung: Pustaka Setia, 2000.
  2. Fahrurrozi. “Ekspresi Keberagamaan Masyarakat Islam Indonesia: Mozaik Multikuturalisme Indonesia” Vol. 7, no. No. 1 (June 2015).
  3. James, Willian. The Varietes of Religious Experience. New York: Westminter, 1968.
  4. Muhammad Ibn Isa al Tirmidzi. Al Jami’ al Kabir-Sunan al Tirmidzi. J. 6, h. 131. Beirut: Daar al Gharb al Islami, 1998.
  5. Rosidin, Khanif. Ekspresi Pengalaman Keagamaan Dan Respon Siswa Muslim Di OSIS SMA N I Banguntapan Terhadap Orang Yang Beragama Hindu. Yogyakarta: UIN SUKA, 2014.
  6. Ruslan, Idrus. “Studi Kritis Pemikiran Nico Syukur Dister Tentang Pengalaman Keagamaan” Vol. 7, no. No. 2 (Desember 2013).
  7. Wach, Joachim. Ilmu Perbandingan Agama-Inti Dan Bentuk Pengalaman Keagamaan. Jakarta: Rajawali Pers, 1996.
  8. Zaman, Habibi. “Ekspresi Keagamaan, Dan Narasi Identitas: Studi Program Pesantren Tahfdz Intensif Daarul Quran Cipondoh Tangerang.” Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 13, no. No. 2 (Mei-Agustus 2014).

Jual Kitab Kuning Pethuk
close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB