Radikal Abal-Abal
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Radikal Abal-Abal

Duta Islam #02
Jumat, 01 November 2019
Loading...

Ilustrasi: istimewa

Oleh Ayik Heriansyah

DutaIslam.Com - Terlepas dari saya tidak setuju dengan semua jenis radikalisme dan terorisme, tapi saya salut dengan kaum radikalis sejati seperti Khawarij di masa khilafah. Mereka sekelompok orang yang rajin shalat, hafal al-Qur’an, ahli dzikir dan zuhud terhadap kemewahan dunia. Mereka mempunyai sifat syaja’ah (kesatria). Meski salah, mereka rela mengorbankan jiwa, raga dan harta untuk memperjuangkan pendapatnya sampai mati. Keradikalan khawarij lebih disebabkan oleh faktor kelainan jiwa dan keterbatasan ilmu. Kaum radikal di Indonesia sepatutnya meneladani mereka.

Sependek pengetahuan saya, jumlah kaum radikal ideal sebanyak jari tangan dan kaki. Seperti Imam Samudera, Amrozi dan Mukhlas. Waktu acara bedah buku almarhum Fauzan Al-Ansori di Pangkalpinang sekitar 10 tahun silam, ditayangkan rekaman video trio bom Bali sebelum dieksekusi. Mereka masih sempat melakukan latihan fisik, lari-lari kecil sambil berteriak “Allahu Akbar”. Mungkin mereka sedang i’dad (persiapan) jihad. Tidak tampak roman ketakutan pada wajah mereka. Padahal malamnya mereka menghadap regu tembak.

Kadar keradikalan kaum radikal, beragam. Tergantung latar belakang dan motif bergabung dengan kelompok radikal. Tidak semua bermotif ideologi. Ada juga karena  kebutuhan akan eksistensi diri, ekspresi kekecewaan terhadap situasi politik, ekonomi dan sosial bangsa serta pelarian dari tekanan hidup. Hanya kaum radikal ideologis, yang sejati. Mereka siap mengorbankan harta dan mempertaruhkan nyawa demi pemikirannya. Jumlah mereka sedikit.  Mereke bergerak secara senyap, di balik layar, karena memang mereka tidak butuh popularitas.

Adapun jenis kelompok radikal yang lain, bersifat pragmatis. Kadar keradikalan mereka tergantung manfaat yang diperoleh. Bukan manfaat material, tapi manfaat psikis seperti eksistensi diri, tersalurnya ekspresi kekecewaan dan mendapat tempat pelarian kejiwaan yang nyaman. Keradikalan mereka dibentuk oleh kepentingan pribadi bukan ideologi. Keradikalan mereka, semu sebab apabila kepentingan pribadi mereka telah terpenuhi, mereka akan meninggalkan kelompok radikal ideologis. 

Radikal pragmatis, yang membedakan antara trio bomber Bali dengan tersangka rencana pemboman menjelang pelantikan Presiden Jokowi (20/10/2019). Wajah mereka tertunduk lesu dan malu saat konferensi pers di Polda Metro Jaya. Seolah-olah merasa bersalah.  Fakta ini membuktikan, sifat radikal mereka semu. Alih-alih eksistensi diri makin kuat, malah perbuatan mereka membawa mudharat. Di titik ini kesadaran asli mereka muncul kembali. Kasus yang sama terjadi pada seorang “Habib” yang menghina Presiden dan pengurus HTI di Mojokerto yang menghina Banser.

Kelompok radikal pragmatis merupakan mayoritas. Pada piramida motif radikalisme, mereka berada di bagian bawah. Yang paling dasar di tempati kaum radikal yang bermotif pelarian diri. Diikuti oleh motif ekspresi kekecewaan. Selanjutknya motif eksistensi diri, baru di tingkat puncak kerucut kecil, kelompok radikal ideologis. Jenis radikal pragmatis di dominasi oleh kelas menengah ke bawah.

Pada dasarnya, kelas menengah adalah orang yang tingkat intelektualnya tinggi. Mereka rasional, pragmatis, terbiasa mengakses informasi dan bersifat terbuka sehingga mereka sulit didoktrin. Oleh karena itu, kaum radikal melemahkan semua hal itu dengan menanamkan rasa benci dan permusuhan kepada pihak ketiga untuk dijadikan musuh bersama. Pihak ketiga ini adalah pemerintah dan NU.

Selain butuh saluran aktualisasi diri, kelas menengah juga membutuhkan wahana eksistensi dan pengakuan dari komunitas mereka. Untuk itu perlu tampil beda dan berani melawan arus. Kaum radikal dan kelas menengah bertemu pada isu-isu yang melawan pemerintah dan NU tapi dengan latar belakang yang berbeda. Motif radikalisme kelas menengah PNS dan karyawan BUMN sebenarnya karena mereka ingin eksis dan mendapat pengakuan yang berbeda dengan motif kelompok radikal yang murni motif politik kekuasaan.

Radikalitas PNS dan karyawan BUMN masih rendah akan tetapi jika dibiarkan kadarnya akan meningkat. Sebaiknya deradikalisasi di BUMN dilakukan dengan cara-cara soft, birokratif dan bertahap. Birokratif maksudnya perlu intervensi pimpinan pemerintahann dan BUMN dalam rekrutmen pengurus dan kegiatan di masjid, mushala dan lemabaga ZIS. Singkatnya, segera lakukan reorganisasi di masjid/mushala dan lembaga ZIS kantor-kantor pemerintahan dan BUMN. PNS dan karyawan BUMN yang terpapar radikalisme dikurangi sedikit demi sedikit dari jajaran pengurus diganti dengan yang moderat.

Jika masih mau menjadi PNS dan karyawan BUMN, kaum radikal tidak akan pernah menjadi radikalis sejati. Mereka menyangka, menjadi radikal sambil menjadi PNS dan karyawan BUMN sebagai strategi perjuangan yang cerdas. Mereka lupa dengan sikap radikalnya, mereka telah memutus akad bai’at dengan pemerintah yang memperkerjakan mereka. Lalu dengan siapa mereka bekerja kalau akad bai’at dengan pemerintah sudah mereka putuskan? Bukankah dengan begitu tidak ada akad ijarah antara mereka dengan pemerintah? Bukankah status gaji, bonus dan tunjangan yang mereka terima menjadi ‘ujrah yang tidak sah secara syar’i!

Daripada menjadi radikal abal-abal, mending menjadi radikal sejati seperti khawarij di masa khilafah. Radikal sampai mati sekalian ketimbang menafkahi anak istri dengan harta syubhat. [dutaislam.com/gg]

Ayik Heriansyah, Pengurus LD PWNU Jawa Barat, Ketua LTN NU Kota Bandung.

Source: Pecihitam.org

close
Banner iklan disini